Saat itu pagi sekali. Sekitar jam 5 pagi. Sabtu, 15 Agustus 2026. Saya masih tidur nyenyak, sebab sa baru tidur sekitar jam 3 atau 4 subuh sepulang dari rumah duka.
Kebetulan sehari sebelumnya, 14 Agustus 2026, bapak tua saya meninggal dan kami sekeluarga ada di rumah duka semua.
Tapi karena tra tahan dingin dan ngantuk sekali, sa pulang ke rumah sekitar jam 2 subuh. Lalu ketiduran.
Sa cuma tidur satu jam. Tiba-tiba seng-seng rumah bunyi. Disertai goyangan. Goncangan serentak dan dahsyat sekali. Seperti orang yang cabut pohon.
Sa kaget langsung lompat dari tempat tidur. Cari maitua dan anak buah. Keliling rumah, dong trada. Sa cari terus. Panik dan cemas.
Setelah cari keliling rumah, ternyata mereka sudah bangun dari tadi. Untung anak buah lapar dan minta makan di mamanya. Jadi mereka lebih dulu di dapur.
Tadi mereka lari duluan lewat pintu dapur. Kebetulan saat itu dong dua su ada di dapur. Puji Tuhan mereka berdiri tegak.
Sa lihat maitua, dia peluk anak buah. Berdiri sambil gendong dia. Saya membatin, terima kasih Tuhan.
Pas hari su terang, sa cek sekeliling rumah. Rumah retak semua. Dinding-dinding tabela. Dinding luar, dinding kamar, samping, muka belakang. Tembok menganga semua. Sa goyang begini macam tong goyang dinding tripleks atau bambu yang ditiup angin.
Serpihan batu, pasir, semen, penuh di lantai. Astaga rumah ini su tra bisa dihuni lagi. Sa dan maitua dengan jagoan pun mengungsi. Tinggal di rumah orang tua. Bikin tenda darurat di samping dapur. Dapurnya dari bambu jadi bikin tenda di sini yang dianggap aman.
Sa lihat banyak rumah di sini, di kampung saya, yang ambruk. Ada yang serata debu tanah, ada yang retak, ada yang bolong seperti ditembak peluru.
Di media sosial, sa lihat banyak yang memposting tentang gempa. Hampir satu daratan Flores. Dari Manggarai di barat sampai Flores bagian timur.
Sepanjang sa hidup, sa baru rasakan gempa sehebat begini. Goncangan yang dahsyat seperti ini bikin stop jantung. Kekuatannya 7,7 SR.
Ternyata pusat gempa bawah laut itu di Kabupaten Nagekeo, utara Flores, di Laut Flores. Sejauh tiga kabupaten dari tempat tinggal saya.
Sa kira gempa cuma hari itu, Sabtu dinihari. Ternyata tidak. Gempa susulan terus terjadi. Gempa kecil-kecilan pada skala 4 – 6 SR. Tidak sedahsyat hari pertama.
Tapi kami, masyarakat di sini ketakutan. Trauma. Gempa susulan terus terjadi hampir tiap beberapa menit.
Kami lalu bikin tenda darurat. Ada yang buat di halaman rumah, lapangan atau bahkan di kebun sekitar kampung, yang dianggap aman.
Awal gempa, malam pertama gempa, listrik mati. Jaringan telepon dan internet juga mati. Kami dalam kegelapan. Pake lampu pelita. Mau telpon keluarga atau siapapun tra bisa. Komunikasi putus. Gelap gulita.
Dalam kegelapan, suasana duka, ketakutan, trauma, debar jantung lebih kencang dari goncangan gempa. Ternyata tiang listrik juga roboh. Ini penyebab lampu dan jaringan mati total.
Saya dan keluarga, antara berduka karena ketakutan gempa atau karena berduka usai kepergian satu dari keluarga kami sehari sebelum gempa. Pikiran campur aduk. Kacau.
Hingga Jumat malam ini, 21 Agustus 2026, kami masih menetap di tenda darurat dengan keluarga. Terhitung sudah hampir seminggu lamanya.
Selama seminggu ini, goncangan terus terjadi, pagi siang, malam, bahkan tengah malam saat ekor mata terpejam pun goncangan terus terjadi.
Saya dan keluarga masih di tenda darurat. Sambil berjaga-jaga. Siaga gempa. Jaga maitua dan anak buah yang su tidur.
Sambil jaga-jaga sa memantau perkembangan gempa. Via SMS dan aplikasi daring terkait gempa pada web BMKG.
Dalam sedetik guncangan, ribuan rumah rusak, jalan retak–menganga lebar, longsor dan saluran air terputus.
Ada puluhan jiwa yang mati. Tertimbun reruntuhan dan jatuh saat lari. Atau ada yang mati karena memang kebetulan sedang sakit saat gempa. Pilu.
Kecuali itu, masih ada yang menyimpan senyum di sudut bibir. Harapan di kantung mata dan doa di lubuk hati terdalam.
Di tenda-tenda darurat, masih ada sisa-sisa tangis dan ratapan, masih ada jiwa-jiwa yang menanti doa, menunggu uluran tangan para saudara. Menatap belas kasihan sesama dari luar sana. Nun jauh di seberang Pulau Flores.
Sekiranya kami di Flores tetap optimistis meski hati tergores. Tetap kuat dan tabah meski tawa hilang sesaat. Sedianya bencana alam ini segera berlalu.
Sebab informasi beredar bahwa gempa bawah laut terus terjadi hingga empat minggu kedepan. [*]
#Timoteus Rosario Marten. Lelak, Manggarai, 22 Agustus 2026
