Features

SP Hanebora: Pendidik, Tokoh Adat, dan Negarawan yang Memilih Pulang ke Kampung

5
Almarhum Simon Petrus Hanebora, – Kalawai/Dok Keluarga Hanebora.

Suasana di kediaman Sekretaris Suku Besar Yerisiam di Nabire terasa tenang pada Kamis siang, 6 Agustus 2026. Bukan berarti sepi penghuni, naman anak-anak sedang bersekolah, belum tiba jam kepulangan. Di tengah bangunan besar berukuran 8 X 12 meter itu, duduk seorang wanita berusia lanjut yang wajahnya menyimpan kelembutan sekaligus ketegasan.

Ia adalah Paulina Berotabui, wanita asal Serui, Yapen Waropen yang merupakan istri dari almarhum Simon Petrus Hanebora. Mama Hane, sapaan akrabnya ini hendak berjalan menuju kediaman salah satu anaknya yang berjarak sekitar satu kilometer. Namun ketika saya  menyapa dan menyampaikan niat untuk mendengarkan kisah perjalanan hidup bersama suaminya, beliau menyambut kami dengan senyum hangat dan mempersilahkan duduk. Bersama beliau, Sambena Inggeruhi, anak kedua dari pasangan Simon dan Paulina, ikut berbagi cerita — melengkapi potret sosok ayahnya dari sudut pandang seorang anak.

Matahari mulai meninggi, cuaca terik menyelimuti Nabire, namun semangat kedua narasumber untuk bercerita tidak surut. Ada kenangan yang masih jelas terukir, ada pula yang sedikit memudar dimakan waktu, namun sebagian besar tetap hidup kuat di ingatan mereka tentang sosok Simon Petrus Hanebora sang pendidik, pejuang pemuda, tokoh adat, negarawan, dan ayah dari enam anak yang memilih pulang ke kampung untuk melayani tanah kelahirannya.

Perjalanan Hidup: Dari Sekolah Rakyat hingga Gerakan Pemuda

Di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman dan arus modernisasi yang menyapu wilayah Teluk Cenderawasih pada pertengahan abad ke-20, lahir seorang anak laki-laki bernama Simon Petrus Hanebora. Ia dilahirkan pada 24 Oktober 1952 di Kampung Sima. Ia tumbuh menjadi sosok yang tidak hanya dicatat dalam sejarah politik dan pemerintahan Nabire, tetapi juga di hati masyarakat adat Suku Besar Yerisiam di wilayah barat Nabire.

Beliau meninggal pada 12 Februari 2015, meninggalkan jejak hidup yang menjadi teladan, bahwa pendidikan dan kekuasaan itu sangat bermakna ketika dikembalikan untuk melayani tanah kelahirannya.

Simon tumbuh di masa transisi pendidikan di Nabire, masa ketika sistem pendidikan kolonial mulai berubah menjadi sistem pendidikan Nasional Republik Indonesia. Ia memulai pendidikan dasarnya sekitar tahun 1957 –1958, pertama di SD Oyehe, kemudian pindah ke SD Moor hingga tamat di sana.

Kepindahannya bukan tanpa alasan, SP Hanebora ikut bersama pamannya, Bapak Dirk Rumawi (Alm), seorang tokoh adat sekaligus guru yang bertugas di SD Ayumbai, Kampung Moor, Distrik Kepulauan Moora, Kabupaten Paniai (Kini Nabire). Di bawah bimbingan paman dan lingkungan masyarakat yang menjunjung tinggi pendidikan, Simon menamatkan jenjang dasarnya.

Hanebora kecil kemudian melanjutkan ke jenjang berikutnya, sekitar tahun 1961–1962, ia masuk ke Sekolah Guru Biasa (SGB) di Nabire (setingkat SMP). Berkat ketekunannya, ia tamat dan melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Serui, Yapen Waropen. Disanalah nasib mempertemukannya dengan Paulina Berotabui, sesama pelajar asal Serui.

“Kami berdua sama-sama mengenyam pendidikan di SPG di Serui. Disanalah kami bertemu,” kenang Paulina dengan mata menerawang ke masa lalu.

Simon adalah anak tunggal dari pasangan Benjamin Hanebora dan keluarganya. Meski anak tunggal, ia tidak pernah dimanja. Justru didikan adat yang tegas membentuk karakternya menjadi mandiri, berprinsip, dan penuh tanggung jawab. Ia memiliki saudara sepupu Yohana dan Barsalina yang tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga besarnya.

Saat menempuh pendidikan di Serui di akhir tahun 1960-an, Simon hidup di masa bersejarah. Masa persiapan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969. Sebagai anak asli Papua, darahnya mengalir satu tekad yakni Papua Bukan bagian dari Indonesia. Ia lalu masuk ke dalam kelompok pemuda pendiri Gerakan Sampari. Sebuah gerakan pemuda pertama yang menggema di Pulau Biak dan Yapen. Sampari berarti “angkatan muda yang berpihak kepada perjuangan Papua Merdeka”. Simon adalah salah satu pendiri sekaligus ketua gerakan ini.

“Bapak pernah tinggal di Randawaya selama satu tahun karena situasi politik yang panas. Saat itu aparat sedang menindak gerakan pemuda. Kami tinggal di sana, menunggu keadaan mereda. Tiga minggu setelah kami pulang, ada satu orang meninggal karena sakit tekanan dan ketakutan memang berat saat itu,” cerita Paulina perlahan.

Meski pernah aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan memiliki kesadaran politik yang tinggi, Simon kemudian memilih jalur yang berbeda yaitu pulang ke Nabire, tetapi bukan untuk menempuh karir di birokrasi pemerintahan.

Barangkali pilihan inilah yang menjadi titik balik untuk menentukan seluruh perjalanan hidupnya. Tahun 1977 mereka menetap di Kampung Sima kampung halaman. Simon membangun rumah, menata kehidupan, dan mulai melayani masyarakat.

Menolak Menjadi Pegawai Negeri: “Kamu Tinggal di Sini, Kami Takut Orang Luar Menipu Kami”

Bagian paling luar biasa dari kisah Simon Petrus Hanebora diceritakan Paulina dengan mata berkaca – kaca. Lulusan SPG yang pada masa itu otomatis diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil. Dua kali tawaran datang, dan dua kali ditolak.

“Dua kali beliau ditawari menjadi guru PNS. Pertama dari bapak Sunarto dan bapak Yusuf Adipatah (Mantan Bupati Nabire). Tapi beliau menolak. Alasannya? Permintaan orang tua-tua adat di kampung,” ungkap Paulina.

Orang tua-tua Yerisiam mengatakan “Di tahun 1970-an, anak berpendidikan di wilayah kami masih bisa dihitung dengan jari. Kami takut orang luar datang menipu kami. Kamu yang berpendidikan, kamu tinggal di sini untuk urus Kampung dan masyarakat disini.” ungkap Paulina menirukan kata-kata orang tua saat itu.

Simon mematuhi panggilan itu. Ia pulang ke Kampung Sima, menata struktur masyarakat adat, membantu kepala suku dan menjadi Kepala Suku pertama suku ini dan merawat merawat tanah dan budaya leluhur di sana.

SP Hanebora adalah orang pertama yang secara sistematis mengidentifikasi dan memetakan pembagian empat kelompok sub-suku Yerisiam menetapkan batas wilayah adat, nama kampung, dan hak ulayat yang membentang dari Nabire hingga Kampung Erega dan Teluk Etna (Kaimana). Peta itu hingga kini masih menjadi pegangan masyarakat adat Yerisiam.

Simon Petrus Hanebora (tanda panah merah), saat menerima kunjungan tiga menteri di Kampung Sima sekitar Tahun 1982, – Kalawai/Dok Keluarga Hanebora.

Kepala Desa Selama 10 Tahun dan Kampung Terbersih di Papua

Tahun 1982, masyarakat memilih Simon menjadi Kepala Desa Sima. Dua periode, hampir sepuluh tahun ia memimpin.

“Bapak membangun rumah untuk kami, untuk nenek, untuk keluarga. Sebelum menjadi kepala desa, rumah sederhana sudah berdiri. Setelah menjadi kepala desa, kampung Sima berubah. Rapi, bersih, tertata. Bahkan pernah dikunjungi Menteri Kelautan. Menteri datang dengan helikopter mendarat di lapangan Kampung Sima. Menteri ini ada tiga orang yang datang untuk melihat langsung karena kampung ini dinobatkan sebagai kampung terbersih di Provinsi Irian Jaya (Papua). Foto-foto kunjungan itu masih ada di rumah, bukti bahwa kerja keras beliau diakui,” cerita Paulina.

Lalu masyarakat memintanya menjabat untuk periode ketiga, namun Simon menolak. “Sudah cukup, biarkan orang lain yang memimpin. Saya kembali ke masyarakat,” katanya.

Selama menjabat kepala desa, Simon juga bergabung sebagai kader Partai Golkar — satu dari tiga partai yang diizinkan pada masa itu. Namun bagi Simon, politik adalah sarana, bukan tujuan. Ia tetap mengurus pemuda, mengumpulkan masyarakat, membantu pengusaha lokal yang kesulitan, dan menjaga kedamaian.

Menjadi Anggota DPRD Nabire, Satu periode Jabat Wakil Ketua III

“Tapi tetap kembali Melayani di Kota, Tetap Pulang ke Kampung,”

Sekitar Tahun 1992, Simon terpilih menjadi Anggota DPRD Kabupaten Nabire. Ia menjabat dua periode dan periode kedua dipercaya sebagai Wakil Ketua III DPRD Nabire hingga masa reformasi tahun 1999.

“Kami pindah ke kota tahun 1990, sebelum masuk dewan. Tapi hati beliau tetap di Sima. Setiap ada kesempatan, kami akan pulang ke kampung. Tidak pernah melupakan asal-usulnya,” kata Paulina.

Masa jabatannya bertepatan dengan transisi Orde Baru ke Reformasi, ketika seluruh pejabat daerah diganti secara menyeluruh. Simon turun bersama gelombang itu lalu pulang dengan ke kampungnya, tidak ada tuduhan penyalahgunaan wewenang. Namanya tetap bersih.

Setelah masa jabatan berakhir, Simon kembali ke akar perjuangannya, menjadi Kepala Pemerintahan Adat di wilayah Yerisiam. Bersama tokoh adat lain seperti Bapak Dirk Romawi, ia aktif dalam pembentukan Dewan Adat Kabupaten Nabire pasca-Kongres Dewan Papua tahun 2000.

Rumahnya di Kampung Sima menjadi pusat pertemuan pemuda, tokoh adat, dan aktivis di masa-masa sensitif akhir 1990-an dan awal 2000-an sebagai tempat berdiskusi, mencari arah, dan menjaga kedamaian.

Paulina Berotabui di anaknya., – Kalawai/Titus Ruban.

Prinsip Hidup : “Mobil Dinas Adalah Milik Negara, Bukan Milik Kita”

Di sinilah sosok Simon Petrus Sanebora paling bersinar dan integritas yang dijaga sampai akhir hayatnya. Sambena Inggeruhi, anak kedua, menceritakan pesan yang membentuk seluruh kehidupan mereka bersaudara.

“Apa yang Bapak punya, itu Bapak punya. Kalau kamu mau punya sesuatu, cari sendiri. Jadi kami tidak boleh pakai mobil atau motor Dinas sembarangan. Minta dibelikan bapak melarang, katanya nanti kamu (anak-anak) besar baru beli sendiri, jangan tergantung dengan orang” kenang Sambena.

“Beliau melarang anak-anak memakai kendaraan dinas. Mobil dinas, motor dinas — itu milik negara. Tidak boleh dipakai untuk kepentingan pribadi, apalagi untuk anak-anak. Saya sendiri pun tidak pernah naik mobil dinas sembarangan. Hanya jika beliau mengantar saya ke suatu tempat, itu pun atas izin beliau,” Paulina melengkapi.

Anak-anak pernah meminta sepeda motor. Simon menolak. ”

SP Hanebora: Pendidik, Tokoh Adat, dan Negarawan yang Memilih Pulang ke Kampung. “Kamu bukan anak pejabat, Kamu bugai pegawai. Jadi nanti besar baru erusaha sendiri,” katanya.

Sambena mengenang dulu sering merasa sakit hati mendengar kata-kata ayahnya yang terasa keras: “Kamu nanti kehidupanmu tidak jadi orang baik.” Namun kini ia paham bahwa itu bukan kutukan, melainkan dorongan agar mereka mandiri, tidak bergantung pada nama ayah. Simon menghendaki agar anak-anaknya bisa mandiri dan tidak tergantung kepada orang tua.

“Setiap kali beliau berkata begitu, hati saya terasa perih dan sakit hati. Tapi beliau tujuannya baik agar mereka berusaha sendiri. Dan lihat sekarang semua anak berhasil. Kadang saya bilang kenapa mati cepat, biar sekarang liat anak-anak sudah mandiri semua,” ujar Paulina dengan mata berbinar.

Larangan itu juga menyangkut kehidupan di kampung  anak-anak tidak boleh sembarangan naik kendaraan. Dan terbukti, kekhawatiran Simon beralasan. Kini banyak anak muda yang mengalami kecelakaan karena berkendara sembarangan. Pesan itu Paulina sampaikan hingga ke cucu-cucunya: “Tidak boleh bawa motor sembarangan. Ingat pesan kakekmu.” terangnya.

Bukan Warisan Harta, Warisan Terbesar adalah  Enam Anaknya Mandiri

Simon dan Paulina dikaruniai enam orang anak. Tiga perempuan dan tiga laki-laki. Keenam anak itu tumbuh menjadi orang-orang mandiri, bukan karena warisan harta, melainkan karena warisan integritas.

Anak pertama perempuan, seorang pegawai negeri sipil dan sudah berkeluarga. Anak kedua, mantan anggota DPRD Nabire. Anak ketiga Pegawai Negeri Sipil. Anak keempat, Anggota Majelis Rakyat Papua Provinsi Papua Tengah (saat ini). Anak kelima, menjabat Sekretaris Suku Besar Yerisiam. Anak keenam, mengurus rumah tangga.

“Waktu beliau meninggal, saya merasa: sekarang buktikan kata-kata ayah kalian. Dan mereka membuktikan. Ada yang menjadi Kepala Suku, Sekretaris Suku, anggota dewan, anggota MRP. Semua berjalan di jalur yang benar,” kata Paulina.

Ada satu anak, Robertino, yang mungkin sedang dipersiapkan untuk memegang tongkat kepemimpinan adat selanjutnya.

Jejaknya yang Tetap Hidup

Sp Hanebora tidak meninggalkan kekayaan materi yang melimpah. Tidak ada rumah mewah, tidak ada tabungan besar. Namun yang ditinggalkan jauh lebih berharga, yaitu ;

  • Peta wilayah adat Yerisiam yang masih dipakai hingga kini.
  • Struktur masyarakat adat yang tertata rapi.
  • Nama baik yang tidak pernah ternoda.
  • Enam anak mandiri yang melayani masyarakat.
  • Integritas yang ditularkan ke generasi berikutnya.

Paulina menutup perbincangan siang itu dengan pesan yang mewakili seluruh perjalanan hidup suaminya ;

“Pendidikan membawa orang jauh, tapi hati tetap pulang ke tanah tempat kaki berpijak. Kekuasaan bukan untuk memperkaya diri sendiri, melainkan untuk melayani. Dan integritas dan kejujuran yang tak bisa dibeli, melainkan warisan terbesar yang bisa diwariskan kepada anak cucu.”

Siang itu, saat kami berpisah dari Paulina, terasa ada kehangatan yang tertinggal. Kehangatan dari kisah seorang pendidik yang memilih pulang, seorang pejuang yang memilih membangun, seorang pemimpin yang menjaga nama baik, dan seorang ayah yang meninggalkan kekayaan terbesar kepada anak-anaknya yang mandiri dan nama baik yang bersih. [*]

error: Content is protected !!
Exit mobile version