Jalan Penuh Berkat Seorang Anak Pengungsi: AKBP Samuel Dominggus Tatiratu (Bagian 3)
Sebarkan artikel ini
AKBP Samuel Dominggus Tatiratu, S.I.K., M.H., CPHR, , – Dok Untuk Kalawai.
*Bagian 3: Pesan untuk Generasi Muda — “Kerja Halal, Rendah Hati, dan Berserah kepada Tuhan”
Di ruang kerja yang tenang itu, malam semakin larut. Namun, kata-kata Kapolres Nabire, AKBP Samuel Dominggus Tatiratu, justru semakin terasa dalam. Setelah bercerita tentang perjalanan hidupnya, dari masa sulit di Ambon hingga dipercaya memimpin Kepolisian Resor Nabire. Ia menutup perbincangan dengan pesan yang ditujukan kepada masyarakat, terutama generasi muda Papua.
Kapolres Nabire, AKBP Samuel D. Tatiratu saat berkoordinasi dengan Kepala Kampung Bawei, Kristian Manahara dan Tim Kesehatan dari Klinik Polres Nabire di kediaman Kapolres. Minggu (21/6/2026), – Dok Untuk Kalawai.
Titik Terendah dan Pegangan Hidup
Ketika ditanya tentang titik terendah dalam hidupnya, Samuel tidak ragu menyebut kehilangan sang ayah dua tahun lalu sebagai salah satu masa paling berat dalam kehidupannya.
“Kehilangan sosok Bapak dua tahun yang lalu. Itu saat yang paling berat,” ungkapnya.
Namun, pesan-pesan yang disampaikan almarhum ayahnya, Lodewyk Tatiratu, S.H., sebelum meninggal pada 12 Maret 2024, justru menjadi kekuatan dan pegangan hidupnya.
Ada tiga pesan yang hingga kini terus ia ingat.
“Jangan takut kepada manusia satu pun di dunia ini, tapi takutlah kepada Tuhan. Jangan karena harta pisah saudara. Dan jangan lupa kumpul saudara.” kata Tatiratu.
Pesan lain yang juga selalu ia pegang adalah tentang berbagi kepada sesama.
“Kalaupun hanya satu baju kaos yang kau pakai di badanmu, tapi ketika kau melihat ada yang sangat membutuhkan, berikanlah itu. Karena sesungguhnya Tuhan sudah menyediakan yang lebih baik untukmu,” kenangnya.Bersama Kasat POL PP Papua Tengah, Wakapolres Nabire daat mengawal aksi demo sopir lintas. Dari kiri ke kanan. Dandim Nabire, Kapolres Nabire, Dan Lanan Nabire ssrta salah satu tokoh masyarakat saat mengawal demo sopir lintas di Pantai Nabire. Selasa (14/10/2026), – Titus Ruban.
Samuel mengatakan, pesan-pesan tersebut bukan sekadar nasihat yang didengarnya semasa hidup sang ayah. Tetapi telah menjadi prinsip yang ia bawa dalam menjalankan kehidupan dan tugasnya.
“Pesan-pesan itu bukan sekadar kata-kata. Itulah yang saya bawa ke setiap tempat tugas, ke setiap pertemuan dengan masyarakat, dan dalam setiap langkah pengambilan keputusan,” ujarnya.
Menurut dia, rasa takut kepada Tuhan dan menjaga persaudaraan merupakan bagian penting dalam membangun kehidupan yang damai.
“Ketika hati takut kepada Tuhan, maka takut kepada manusia hilang. Ketika persaudaraan diutamakan, damai pun datang,” tuturnya.
Menempatkan Tuhan dalam Setiap Perencanaan dan Penugasan
Dalam perbincangan tersebut, Samuel juga menjelaskan prinsip yang ia pegang dalam menjalankan tugas sebagai Kapolres Nabire.
Ia bercerita, pendekatan kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban, termasuk ketika masyarakat menyampaikan aspirasi melalui aksi demonstrasi.
“Tidak ada trik, tidak ada strategi khusus yang rahasia. Yang saya lakukan hanya satu—menempatkan Tuhan di depan, di dalam setiap perencanaan dan penugasan di lapangan,” cerita Tatiratu.
Ia menilai kekuatan personel dan dukungan sarana prasarana tetap harus disertai dengan sikap berserah kepada Tuhan.
“Segagah apapun pasukan yang kita miliki, sekuat apapun sarana dan prasarana, jika tidak bertekuk lutut dan memohon penyertaan Tuhan, semuanya sia-sia,” ujarnya.
Dalam menghadapi aksi penyampaian aspirasi, Samuel mengatakan dirinya berupaya hadir dan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.
“Saat ada aksi demonstrasi, saya tidak duduk di belakang meja atau di balik barikade. Saya berjalan bersama mereka, dari titik kumpul sampai ke tujuan. Saya mendengarkan, saya menghormati keinginan mereka menyampaikan aspirasi,” ungkapnya.
Ia menegaskan masyarakat yang menyampaikan aspirasi bukanlah musuh.
“Karena mereka bukan musuh—mereka adalah saudara kami. Jika kita hadir dengan hati yang tulus, mereka pun akan menghormati kita,” tegasnya.
Bersama Kapolres Nabire, AKBP Sony Tampubolon, saat ini dalam kegiatan lepas Sambut Wakapolres Nabire. Aksi KNPB di Tolikara. Sabtu (24/10/2020), – Titus Ruban.
Pesan untuk Generasi Muda: Kerja Halal, Apapun Pekerjaannya
Di penghujung wawancara, Samuel menyampaikan pesan khusus kepada generasi muda, baik mereka yang baru menyelesaikan pendidikan, tinggal di kampung, maupun yang sedang merintis kehidupan di berbagai tempat.
“Tuhan memberikan pikiran, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh yang lengkap. Pergunakanlah itu untuk pekerjaan yang halal. Apapun pekerjaanmu, kerjakanlah dengan sepenuh hati dan berserah pada Tuhan,” katanya.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak memandang rendah pekerjaan yang dilakukan dengan jujur.
“Kalaupun engkau hanya bisa bertani, kerjakanlah itu dengan segenap hatimu. Tuhan akan memberkati tanah yang kau garap, dan hasilnya akan menjadi berkat bagi keluarga dan sesama,” imbuhnya.
Menurut Samuel, pekerjaan sederhana sekalipun memiliki nilai ketika dilakukan dengan jujur dan sungguh-sungguh.
“Kalau pekerjaanmu hanya menjual koran atau memungut barang bekas, kerjakanlah dengan jujur dan sungguh-sungguh. Tuhanlah yang akan membalas setiap pekerjaan itu,” tuturnya.
Ia berpesan agar generasi muda tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya.
“Yang penting, jangan mengambil bagian yang bukan hakmu. Kerjakan apa yang menjadi bagianmu, dan sisanya serahkan kepada Tuhan. Jangan lupa bersyukur dalam segala hal,” pesannya.
Samuel kemudian mengenang masa mudanya ketika pernah melakukan berbagai pekerjaan untuk membantu kehidupan keluarga.
“Saya dulu jual koran, bersihkan kandang babi, jalan kaki berkilo-kilometer demi sekolah. Itu bukan aib,” katanya.
Menurut dia, yang terpenting bukan jenis pekerjaan yang dilakukan, melainkan kejujuran dalam menjalaninya.
“Yang memalukan bukan pekerjaan apa yang kita lakukan, melainkan jika kita mencoba mengambil yang bukan hak kita atau berbuat curang. Pekerjaan halal, sekecil apa pun, Tuhan memberkati,” ujarnya.Dari kiri ke kanan. Dandim Nabire, Kapolres Nabire, Dan Lanan Nabire ssrta salah satu tokoh masyarakat saat mengawal demi di satu waktu, – Titus Ruban.
Perjalanan yang Masih Berlanjut
Perjalanan hidup Samuel Dominggus Tatiratu, dari masa sulit di Ambon, bekerja sejak muda, hingga dipercaya menjalankan tugas sebagai Kapolres Nabire, menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk prinsip hidupnya.
Ia mengatakan perjalanan tersebut tidak semata-mata ia pandang sebagai hasil dari kemampuan dirinya sendiri.
“Banyak orang bilang saya beruntung. Tapi saya tahu, ini bukan keberuntungan. Ini rencana Tuhan. Saya hanya anak dari seorang nelayan dan guru dari Ambon yang di tengah kerusuhan harus mengungsi, yang pernah gagal dan putus asa,” katanya.
“Tapi Tuhan memegang tangan saya, dan sampai hari ini saya berdiri di sini bukan karena kekuatan saya sendiri, melainkan karena kasih Tuhan Yesus melalui doa kedua orang tua dan istri terkasih yang selama ini selalu mendampingi saya setiap waktu, baik dalam susah maupun senang,” tambah Tatiratu.
Di penghujung perbincangan, Samuel kembali menekankan pentingnya kerendahan hati, kerja keras, dan menyerahkan setiap proses kehidupan kepada Tuhan.
“Saya hanyalah alat yang dipakai Tuhan untuk bekerja. Semoga perjalanan hidup ini bisa menjadi dorongan bagi siapapun, terutama anak-anak Papua, untuk tidak menyerah pada keadaan,” ujarnya.
“Percayalah, rencana Tuhan itu indah. Tetaplah rendah hati, bekerja keras, dan selalu libatkan Tuhan di dalam semua perencanaan hidup.”
Malam itu, ketika perbincangan berakhir, pesan Samuel terasa sederhana tetapi kuat: bekerja dengan jujur, menjaga persaudaraan, tetap rendah hati, dan menyerahkan setiap proses kehidupan kepada Tuhan.
Bagi dia, perjalanan hidup bukan semata-mata tentang jabatan atau pencapaian, melainkan tentang bagaimana seseorang tetap memegang iman, menghargai sesama, dan mensyukuri setiap proses yang telah dilalui. [*]