Nabire, Kalawaibumiofi | Kerusakan berulang pada ruas jalan Nabire – Paniai, khususnya di kilometer 139 hingga kilometer 141, mendapat perhatian Wakil Ketua IV DPR Papua Tengah, John NR Gobai. Ia menduga aliran air di bawah tanah yang tidak memiliki saluran memadai menjadi salah satu faktor yang menyebabkan badan jalan terus mengalami kerusakan meski telah diaspal.
Gobai menilai, penanganan kerusakan jalan tidak cukup hanya dengan melakukan pengaspalan berulang kali. Menurut dia, kondisi aliran air di sekitar dan di bawah badan jalan perlu diperiksa agar perbaikan infrastruktur dapat bertahan lebih lama.
“Kasih jalan buat air, supaya jangan air merusak jalannya manusia,” kata Gobai dalam keterangannya diterima Kalawaibumiofi.com Kamia (15/10/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatannya ketika melewati ruas jalan tersebut, terdapat titik jalan yang posisinya lebih rendah dibandingkan bagian sekitarnya. Kondisi itu, menurut dia, menimbulkan dugaan adanya aliran air di bawah tanah yang belum ditangani dengan baik.
“Kondisi jalan pada kilometer 139 sampai kilometer 141 ruas jalan Nabire ke Paniai sedang viral. Ketika kemarin saya melewati jalan ini, saya melihat titik jalan ini rendah. Diduga ada saluran air di bawah tanahnya, karena sudah ditimbun dan diaspal, tetapi beberapa waktu kemudian kembali rendah,” jelas John.
Gobai menduga, air yang tidak memiliki jalur aliran memadai dapat memengaruhi kestabilan badan jalan. Karena itu, ia mendorong agar kondisi tersebut diperiksa secara teknis untuk menentukan penanganan yang tepat.
Menurut dia, pembangunan saluran air, box culvert atau gorong-gorong berbentuk kotak, serta talut penahan tanah perlu menjadi perhatian dalam perbaikan ruas jalan tersebut.
“Air harus diberi jalan dengan jembatan dan talut,” tuturnya.
Ia menjalaskan, kerusakan jalan yang terjadi berulang kali perlu ditangani dengan melihat persoalan secara menyeluruh, termasuk sistem drainase dan kondisi tanah di sekitar badan jalan.
Sehingga pembangunan talut di sisi kiri dan kanan jalan perlu dilakukan secara memadai, terutama pada bagian jalan yang berada di lereng gunung atau berdekatan dengan jurang.
Mengingat, kondisi geografis ruas jalan Nabire–Paniai membutuhkan infrastruktur pendukung yang dapat menjaga kestabilan tanah sekaligus mengarahkan aliran air agar tidak mengikis badan jalan.
“Sudah terlalu lama ruas jalan ini dibangun tanpa talut di kiri dan kanan jalan secara merata, padahal talut sangat penting,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan saluran air dan box culvert dapat membantu mengalirkan air hujan maupun air permukaan menuju tempat yang lebih rendah. Dengan demikian, potensi genangan dan banjir dapat dikurangi, sementara risiko erosi di sekitar badan jalan bisa ditekan.
“Pembangunan gorong-gorong atau struktur penyeberangan air perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan. Struktur tersebut harus dirancang agar aliran air tetap lancar serta mampu menahan beban tanah dan lalu lintas di atasnya,” tambahnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gobai menyampaikan dua usulan utama. Pertama, melakukan penggalian dan pemeriksaan teknis pada titik jalan yang diduga memiliki aliran air di bawah tanah, kemudian membangun jembatan kecil atau box culvert sesuai kebutuhan.
Kedua, membangun talut pada sisi kiri dan kanan jalan, terutama di lokasi rawan longsor, erosi, dan kerusakan badan jalan.
Ia berharap instansi terkait dapat meninjau langsung kondisi ruas kilometer 139 hingga kilometer 141 untuk memastikan penyebab kerusakan dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Perbaikan jalan harus disertai pembenahan sistem aliran air agar anggaran pembangunan tidak terus terserap untuk memperbaiki kerusakan yang sama.
“Air harus mendapat jalannya, sehingga air tidak merusak jalannya manusia,” pungkasnya.
Hingga berita ini disusun, dugaan aliran air di bawah badan jalan tersebut masih memerlukan pemeriksaan teknis untuk memastikan penyebab kerusakan. Karena itu, penanganan permanen perlu didasarkan pada hasil evaluasi kondisi tanah, drainase, dan konstruksi jalan di lokasi tersebut. [*]












