FeaturesArtikel

Kala Batik Membelok

76
Batik air
Batik Air di langit Flobamora menuju Pulau Bali. - Dok. Penulis

Senja merah tampak bercampur dengan lampu-lampu kota. Satu per satu pesawat menembus awan. Ada juga yang mendarat.

Sedangkan pesawat yang kami tumpangi, siap-siap take off atau lepas landas. Sepertinya dia mengantre.

Dari balik jendela, saya mengambil ponsel. Sekadar untuk menjepret.

Memang ponsel tidak boleh diaktifkan saat penerbangan. Tidak boleh menc-harge HP, power bank, radio, dan alat elektronik lainnya.

Tapi, saya sudah mengatur ponsel ke mode terbang. Artinya, dia bisa beroperasi setelah di sudut kanan atas muncul ikon atau gambar pesawat.

Dengan begitu saya tidak ngantuk. Bisa menjepret-jepret langit dan awan-gemawan. Merekam video sejumlah pesawat, lampu-lampu kota.

Dan membidik senja merah bercampur lampu kota saat ini.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Senin petang ini, memang begitu sibuk. Sebagaimana bandara internasional lainnya. Super sibuk.

Pesawat Batik Air dengan kode ID 6335 tujuan Bali – Labuan Bajo, Senin sore, 19 Januari 2026, sebentar lagi menerjang awan.

Dia siap menembus nirwana Pulau Dewata. Menuju langit Nusa Bunga. Pulau Flores.

Pesawat ini kemudian lepas landas sekira pukul 7 petang. Dia menuju Labuan Bajo, ibu kota Kabupaten Manggarai Barat. Pulau Flores.

Lebih satu menit dari pukul 8 malam, info dari kru pesawat terdengar. Pesawat sudah tiba di Labuan Bajo, dan sedikit lagi mendarat.

Namun, beberapa menit kemudian, sekitar pukul 8 malam lebih 14 menit, terdengar info dari pilot.

“Kita terbang lagi ke Makassar karena jarak pandang (kabut).”

Itu artinya pesawat ini sudah berada di langit barat Pulau Flores. Tapi dia tak bisa mendarat atau landing. Alasannya cuaca buruk.

Cuaca buruk menyebabkan pesawat Batik Air ini berbelok ke utara. Dia melintasi laut Flores, menuju selatan Pulau Celebes.

Di sana Bandara Sultan Hasanudin Makassar, Sulawesi Selatan, sepertinya sedang menunggu.

“Tunggu cuaca baik dulu baru lanjut ke Labuan Bajo,” kata seorang pramugara, kepada dua penumpang perempuan, di belakang kursi saya.

Dua penumpang di belakang seat saya ini, satu berbahasa Indonesia. Satu lainnya, entah, berbahasa Mandarin, Korea atau Jepang?

Saya di kursi 12F. Dekat jendela. Di lajur kanan. Jadi, saya bebas membidik gemawan dan kabut. Blitz keluar melalui jendela pesawat.

Di samping kiri saya, dua kursi kosong. Persis seperti tadi, dalam penerbangan Makassar – Denpasar dengan Lion Air atau JT745. Tadi saya di kursi 11F.

Dua kursi di samping kiri saya juga kosong. Tapi saya tak menikmati penerbangan ini. Saya tertidur sepanjang lepas landas hingga mendarat di Pulau Dewata.

Tadi dan sekarang, dua kursi di samping saya tak terisi. Kosong.

Kembali ke Batik. Penerbangan Denpasar – Labuan Bajo, malam ini. Lanjutan cerita ini.

Pukul 20.31, seorang pramugari bersuara dari depan, “kita akan tiba di Bandara Internasional Makassar di Maros.”

Dan mata saya menuju ke luar jendela. Hamparan cahaya lampu kota mulai tampak. Gemerlap seperti lampu natal.

Artinya, pesawat ini sudah tiba di langit Pangeran Hasanudin. Pukul 20.42, Waktu Indonesia Tengah, dan mendarat pada pukul 20.51 waktu setempat.

Sepanjang penerbangan ini, Denpasar – Labuan Bajo, lalu Labuan Bajo – Makassar, saya mengetik pada aplikasi note ponsel pintar.

Sembari berdoa, saya memencet huruf-huruf. Menata kata dan kalimat.

Tangan saya gemetar. Kedinginan rupanya.

Kejadian seperti ini, kala Batik membelok arah, juga pernah saya alami beberapa tahun lalu. Pesawat belok arah ketika mau landing di Bandara Sentani, Jayapura, Papua.

Tapi, kala itu penyebabnya bukan cuaca buruk. Musababnya, Bandara Sentani sangat sibuk.

Batik yang saya tumpangi dalam penerbangan Jakarta – Jayapura, tak bisa landing, karena dropping pasukan Brimob, dari Jayapura ke Timika. Hingga akhirnya bandara sibuk.

Kalau tidak salah, kala itu pertengahan Desember 2020, saya pulang dari Jakarta, usai mengikuti kegiatan HAM. Ketika itu, Batik menerjang langit malam di atas 36 ribu kaki dpl.

Bermil-mil jauhnya, pesawat ini menembus kabut tebal dan gelap. Dari langit Betawi menuju Pulau Cenderawasih.

Ketika pesawat tiba saat fajar, dia hanya “bertengger” di langit Sentani. Lalu berbelok arah ke Merauke, selatan Papua.

Kemudian dia kembali ke Sentani lagi pada siang harinya. Hati pun senang.

Batik kali ini, Senin petang hingga malam ini, 19 Januari 2026, belok rute karena memang cuaca buruk.

Labuan Bajo dan Flores bagian barat lainnya, malam ini hujan deras. Bahkan sepanjang minggu terakhir cuaca sedang tak bersahabat. Kabut menyelimuti bumi Flobamora.

Badai begitu kencang menerpa pohon-pohon. Banyak pohon tumbang di badan jalan trans-Flores.

Batik yang saya tumpangi ini, memang tadinya sudah delay. Entahlah alasannya.

Pada tiket yang kami booking: Jayapura – Labuan Bajo, tertulis, DPS pukul 17:00 – LBJ pukul 18:15.

Dan sesudah check in, tertulis boarding pukul 18.15, keberangkatan pukul 17.00 dan kedatangan pukul 20.00 WITA.

Akan tetapi, setibanya di Bandara Denpasar, terjadi perubahan jadwal. Tertulis pada layar informasi keberangkatan bahwa pesawat Batik Air ID 6335 menuju Labuan Bajo pukul 18.45 di Gate 5.

Saat penerbangan Labuan Bajo – Jakarta – Jayapura – Nabire pada 16 Januari 2026 juga mengalami delay. Batik juga.

Pada tiket Batik Air (ID 6527) tertulis Labuan Bajo (LBJ) pukul 13:55 Labuan Bajo (LBJ) Komodo – Jakarta (CGK) Soekarno Hatta International Airport pukul 15:15 di terminal 2.

Ternyata pesawat delay. Boarding time pukul 13.25 WITA. Dan take off pada angka 14.48 hingga tiba di Jakarta sekitar pukul 5 sore waktu setempat.

Batik adalah grup Lion Air. Maskapai ini memang sering membuat pesawat kecewa. Sering delay, bahkan hingga 12 sampai 24 jam lamanya.

Manajemen Lion Air Group memang harus dibenahi. Sebab banyak penumpang yang mengeluh. Pelayanan yang prima, disiplin waktu (selain kendala teknis), tentu membuat dia kelak diburu calon penumpang.

Pelayanannya, yah, begitu sudah. Saya lebih dari dua kali menumpangi Batik. Sering delay.

Bahkan harus tunda berangkat keesokan harinya. Terpaksa dengan tiket baru. Pernah ketinggalan pesawat, dalam penerbangan Makassar – Jayapura.

Ketika saya mau check in, pesawat sudah berangkat. Ternyata terjadi perubahan jadwal. Keberangkatan dimajukan.

Waktu itu memang lagi pandemi virus corona 2019. Yah, mungkin begitu alasannya. Akhirnya, saya harus beli tiket baru, untuk keberangkatan keesokan harinya. Tak ada kompensasi.

Kasus lainnya, dalam penerbangan Labuan Bajo–Yogyakarta. Transit di Bali.

Di tiket penerbangan pukul 9 pagi. Ternyata keberangkatan siang hari. Ketika saya tiba di Bali, pesawat sudah ke Jogja.

Di ruang tunggu, saya tunggu sampai pukul 5 sore. Eh, tidak ada informasi. Baik nama pesawat dan kodenya, maupun bandara tujuan.

Lalu saya tanya ke petugas di depan. Dia mengatakan, pesawat sudah berangkat dari tadi siang. Persis saat pesawat kami mendarat.

Saya pun komplain. Masuk ke ruangan Batik. Dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Tanya kepastian. Dari petugas tingkat bawah hingga petingginya.

Penjelasan mereka berbelit-belit. Intinya mereka mengatakan bahwa saya harus beli tiket baru. Dan ketinggalan pesawat adalah kelalaian saya.

Saya tidak terima. Suara saya makin meninggi. Tetap tak ada titik temu. Terakhir, saya nyaris hilang kesabaran.

Lalu saya tunjukkan kartu pers. Mau wawancara si manajer untuk menulis berita.

Kali ini saya memposisikan diri, bukan sebagai penumpang yang jadi korban. Tapi sebagai jurnalis.

Entahlah, takut diwawancarai, dia akhirnya luruh. Lantas bersedia cetak tiket baru untuk saya. Keberangkatan besok.

Tiketnya berbeda dengan tiket lainnya. Di tiket tertulis seperti huruf ketikan mesin tik di layar laptop.

Saya lantas memfotonya dan menunjukkan ke petugas sebagai tiket.

Sedang kaka-kaka redaktur Jubi lainnya, sudah tiba hari ini, untuk memulai rapat para redaktur Jubi di Jogja. Saya malah harus menunda keberangkatan keesokan harinya.

Ya, begitu sudah. Manajemen Lion Air Group memang harus dibenahi. Tentu calon penumpang ramai-ramai memburu maskapai, yang pelayanannya prima, disiplin waktu, dan tidak merugikan salah satu pihak. Terutama penumpang. []

#27 Januari 2026

Timoteus Rosario Marten, editor pada Suarapapua.com dan pemilik laman Kopisopi.com

error: Content is protected !!
Exit mobile version