Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Cerpen

Kenikmatan Senyum

2
×

Kenikmatan Senyum

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.
Example 468x60

*oleh Nomen Douw

Rasanya hanya senyummu yang mereka bawa setiap langkah untuk pergi dan pulang setelah bertemu, kau tak pernah diam karena mereka menusuk mulut, memikul tulang paha dan mengiris daging ketika ruang-ruang terbuka. Realita datang pada mata yang selalu tutup saat siang dan terbuka saat malam untuk kenikmatan yang hanya tampak pada senyum.

Example 300x600

Kata teman, buah pepayanya sudah kuning, lembut, hampir menghasilkan aroma busuk yang menyengat akan tetapi mereka tetap menikmatinya. Aku ingin mencium senyummu berkali-kali pada lukisan bibir tebal yang indah dengan rasa penuh bergetar dengan cara rakus.

Pikiran (ide) tetaplah ide hingga akhirnya perlu menyadari tentang waktu yang membutuhkan perlunya biaya. Aku ingin menjadi saudaramu yang tak ingin keluar dari penjara hijau, akan tetapi bukan kurungan Belanda pada 1935. Sama juga ketika tentara lepas peluru untuk saudaraku di kampung tetapi aku diam di kota dengan rasa takut mati.

Aku hampir berhenti mengikuti tampak senyummu setelah terakhir jumpa di Saga; rasanya sesuatu terjadi dalam dirimu saat aku harus jujur”aku ingin mencium senyummu sekali saja, bolehkah kita pergi” Tampaknya suatu ketika mereka datang dengan senjata di Distrik Jair, memaksa sebagian kehidupan harus pergi dari Negeri Tanah Merah, dan akhirnya benar orang-orang mengejar kota menjadi penikmat batu kuning, abu-abu dan hitam.

Jiwa pada wajahmu menghadirkan identitas spiritual, senyum yang indah menggambarkan 80% hutan tropis yang menghidupi empat suku utama dalam kehadiran sagu dan hewan-hewan. Aku jujur karena kau membuka baju dan paha untuk mereka yang pernah hadir dan kini dia hadir; sebenarnya aku hanya ingin hadir dekat wajah, ingin kita mencium tanah yang menghasilkan sagu bakar dan sagu tumbu.

Estetika hadir menjadi sempit pada senyummu di dapur kampung Firiwage yang sederhana sembari kau menyiapkan kopi panas saat malam, dan teh hangat saat pagi. Ketika itu aku akan memutar lagu”Sia” lagu yang dinyanyikan Anne. M, cipta H. Sagi pada 2015), momen itu jiwaku akan hampir lepas dari tubuh.

Rupanya aku sadar, senyummu sebenarnya pada nenek moyang dan alam, tetapi kita gegar budaya atau (culture shock) di antara kafe, restoran dan ruas kota yang sebenarnya hanya mampir hanya untuk mengubah cara kita saling menikmati senyum.

“Aku ingin seperti mereka?” kata aku pada dia setelah menonton film dokumenter Pesta Babi, sutradara Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale.

“Saya sudah punya pacar,” balas dia, pesan yang aku baca dengan hati-hati seperti membuka kado berhadiah.

“Aku ingin mencium senyummu, bolehkah, sekali saja?” balasku setelah langit tiba-tiba berubah malam, angin yang hening berhembus panas, wajah yang ingin aku genggam dan mencium basah hampir pergi dari dunia yang aku pikirkan, tapi tidak untuk bayangmu, senyummu, dan sedikit merasa kau di sampingku.

Kau membawa mereka pada wajahmu di pertemuan pertama di Saga, senyum bukan lagi senyummu yang dulu pernah ada di kampung Firiwage, setelah keluar dari Tanah Merah, beberapa hal bertumbuh pada kulit, bulu, dan intuisi. Tetapi tidak hanya kamu tapi kita semua yang pergi dari Tanah Papua. Senyummu adalah kekayaan dunia, para pemodal dengan mudah memiliki segalanya tentang kehidupan hingga mereka mengejarmu hingga tanah selatan.

Aku tak pernah melihat, aku tak pernah menikmati, tetapi mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan walaupun kau tidak ingin menikah dengan mereka, kau harus memilih karena ada senjata dan alat berat yang mereka memasukkan dalam tubuhmu; itu darah dan sakit, tetapi kau telah terbiasa dan kuat dengan dorongan kebutuhan yang nihil dengan nama media”lapangan pekerjaan”

Tidak sulit jujur untuk melunasi keinginan yang harus keluar, aku mendengar suara-suara sentuhan kasar, mereka memasukkannya sangat dalam, membuka lebih lebar dan memaksa tanpa mencintaimu dan mencintainya. Kau pulang dengan sempurna di matamu namun penuh cairan busuk pada bibir yang aku ingin mencium, basah pada tubuh yang aku ingin memeluk hingga lenyapkan rasa.

Senyummu itu milikku, tetapi aku tidak tahu waktunya kapan. Nenek moyang kita tahu cara menikmati senyum yang paling indah dan penuh makna, seperti kopi panas saat hujan membawa dingin. Perlu perjuangan panjang, jatuh diinjak laras, ditarik pergi aparat hingga dihukum mati media hingga algojo. Semuanya karena senyummu yang manis penuh makna yang telah merasuki ingatan setiap saat. Betul, senyum itu telah berlalu, tetapi tidak mungkin hilang. [*]

(Pondok Kayu, Sentani, 2026)

Example 300250
Example 120x600
Cerpen

Pria itu membolak-balik catatan hariannya yang sudah usang….

error: Content is protected !!