Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Cerpen

Tim Panitia Empat dan Cerita di Balik Dana Desa

3
×

Tim Panitia Empat dan Cerita di Balik Dana Desa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi.
Example 468x60

*oleh Nomen Douw

Tahun 2022, Tim Panitia Empat (TPE) dibentuk dengan semangat melanjutkan pembangunan di daerah tertinggal dan membuka lapangan kerja bagi para sarjana yang masih hidup liar di seluruh tanah Papua.

Example 300x600

Tanggal 2 Februari 2022, Tim Panitia Empat mulai merekrut tenaga siap kerja seluruh pelosok kampung sesuai prosedur pelatihan yang akan diberikan oleh tenaga ahli yang langsung datang dari Jakarta.

Tim Panitia Empat kerja hampir lima bulan dari awal 2022. Hanya empat anggota tetap dalam Tim Panitia Empat, mereka empat memiliki jam terbang keliling kota dalam dunia baku naik dan penggelapan dana kampung ratusan milyar, dan juga sangat profesional dalam merekrut tenaga kerja yang layak bekerja di pelosok kampung dalam penggunaan dana desa.

Bulan Juli 2022, Tim Panitia Empat mulai rekrut tenaga pendamping desa yang akan bertugas; satu kampung dua orang, satu pria dan satu wanita, usia di atas 20-35 tahun. Satu pendamping desa akan digaji 30 juta per bulan dari sumber dana khusus dari Jakarta di luar dana otsus.

Ada tiga syarat dasar yang harus dipenuhi calon pendamping desa wanita maupun pria. Peraturan atau syarat ditetapkan resmi dengan landasan hukum negara oleh Tim Panitia Empat:

Syarat pertama : Pria dan Wanita harus sarjana dan sudah menganggur lebih dari lima tahun.

Syarat kedua untuk calon pendamping wanita: Selama kuliah pernah baku naik dengan pejabat hidung belang (muka seks)

Syarat ketiga untuk calon pendamping pria: Pernah baku naik dengan pacar di kos dan hotel.

Hari pertama pendaftaran dibuka, sudah 40.000 sarjana pengangguran mendaftar. Hari kedua, 50.000.  Semua yang mendaftar memenuhi syarat, 90.000 sarjana pengangguran lulus dan akan mengikuti pelatihan secara ketat, siap digembleng oleh tenaga ahli yang sudah profesional di masing-masing bidang kerja.

Pelatihan hari pertama, teknik menghabiskan uang dengan pesta baku naik dan pesta miras di kota bagi kepala kampung di wilayah Papua. Hari kedua, pelatihan teknik menghitung biaya jalan-jalan dan biaya baku naik bagi mahasiswa di Papua dan luar Papua. Hari ketiga, pelatihan pembuatan laporan fiktif dan teknik suap pemeriksa laporan keuangan.

Satu bulan lebih, 90.000 sarjana pengangguran telah ikut pelatihan pendamping desa dan siap ditugaskan di seluruh pelosok Papua.

Minggu pertama, 5 Agustus 2022, semua gubernur tanah Papua hadir dalam upacara pelepasan 90.000 tenaga pendampingan desa ke seluruh kampung di Papua dengan misi utama membangun infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) dari pelosok Papua.

“Ini adalah program penting yang kami seluruh gubernur di Tanah Papua bentuk untuk  membangun infrastruktur dan SDM dari kampung ke kota, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi para sarjana yang menganggur lama di seluruh Papua. Kalian sudah dilatih oleh tenaga pengajar yang sudah sangat profesional dalam masing-masing bidang, sehingga hari ini kami tidak ragu untuk melepas kalian pergi ke dusun kampung untuk membangun Tanah Papua dengan hati,” sambutan perwakilan seluruh gubernur Papua di halaman kantor gubernur.

“Kerjakanlah untuk Tanah Papua yang lebih baik, kalian dikirim untuk mengubah nasib Orang Asli Papua  dan mengubah wajah kampung. Apa yang diajarkan tenaga ahli dari Jakarta adalah ilmu praktis yang langsung mendatangkan perubahan yang besar, untuk itu, kami seluruh gubernur di Tanah Papua minta kerjakan dengan sepenuh hati, dana yang ada tolong digunakan dengan baik sesuai program Tim Panitia Empat. Seluruh masyarakat di Tanah Papua juga tolong mendukung program ini; ini solusi besar untuk masa depan Tanah Papua,” sambung perwakilan gubernur dengan wajah serius dengan mimik haru.

Beri, pria asal gunung Papua yang pernah kuliah di Papua; sudah menganggur 7 tahun, dan Deta, wanita asal pesisir yang pernah kuliah luar negeri; menganggur 6 tahun. Beri dan Deta sama-sama ditugaskan di kampung Mupe; kampung yang baru dimekarkan tahun 2022, dusun Mupe lebih jauh dari kampung-kampung lain di Papua, perjalanan satu hari full dari kota menggunakan kendaraan hingga jalan kaki.

Keadaan masyarakat di kampung Mupe belum banyak yang kenal fungsi uang untuk bapak, mama dan anak-anak, sehingga Beri dan Deta akan kerja dari nol, tetapi mereka dua tetap pada apa yang diajarkan tenaga ahli dari Jakarta; akan mengarahkan kepada kampung dan masyarakat sesuai tujuan Tim Panitia Empat dan harapan semua gubernur di Tanah Papua.

Beri dan Deta bersama kepala kampung pertama kampung Mupe bernama, Didimus, mereka hampir sampai di kampung Mupe dengan membawa dana desa bernilai 1 milyar rupiah. Beri dan Deta sudah buat program kerja sesuai ilmu yang sudah diajarkan tenaga ahli. Sampai di kampung Mupe ketika sore hampir malam, sedikit mendung, banyak masyarakat Mupe keluar menyambut mereka dengan tarian tradisional.

“Aw Ya Meg Eya Ua Khame Aka Wine, Ekh,” ajak Didimus dalam bahasa daerah pada masyarakat untuk berkumpul besok pagi di kantor balai kampung untuk membagi dana desa.

Pagi masih sangat dingin di kantor balai Mupe. Beri, Deta dan Didimus sudah di kantor balai menunggu masyarakat datang. Jam sebelas masyarakat kampung Mupe sudah mulai kumpul satu per satu, Didimus mulai menjelaskan adanya Beri, Deta, dana 1 milyar rupiah dan dirinya yang sudah dilantik menjadi kepala kampung Mupe pertama.

“Uang 1 milyar rupiah ini kita akan bagi sesuai program Tim Panitia Empat, harapan pemerintah pusat dan harapan seluruh gubernur di Tanah Papua. Pertama, meningkatkan biaya baku naik dan pesta miras di kota untuk kepala kampung Mupe. Kedua, untuk biaya jalan-jalan dan biaya baku naik bagi pelajar dan mahasiswa asal kampung Mupe di Papua dan luar Papua. Ketiga, biaya buat laporan fiktif dan suap pemeriksa laporan keuangan,” jelas Beri pada masyarakat kampung Mupe, lanjut di translate dalam bahasa daerah oleh Didimus.

“Menurut kampung lain yang sa dengar, harga di kota sudah naik semua, jadi untuk alokasi dana bagi pelajar dan mahasiswa itu tolong kasi naik karena biaya baku naik dan biaya jalan-jalan di kota sudah naik,” minta salah satu warga kampung Mupe dalam bahasa lokal, di translate Didimus.

“Itu benar, kita akan lihat dari biaya pengamanan pemeriksa laporan keuangan dan biaya pesta baku naik dan pesta miras kepala kampung Mupe, kalau masih bisa mungkin, kita akan tambahkan nanti,” jelas Deta menanggapi permintaan masyarakat Mupe, lanjut di translate Didimus dalam bahasa daerah.

Beri dan Deta sudah lima tahun di kampung Mupe mendidik sesuai program Tim Panitia Empat. Selama lima tahun, mereka dua ajar kepada kampung Mupe cara menghabiskan uang di kota dengan cara baku naik di hotel dan cara konsumsi minuman keras di kota. Mereka dua ajar juga masyarakat Mupe cara menggunakan dan cara menghabiskan uang di kota.

Rupanya berhasil membuat kepala kampung Mupe bisa memamfaatkan dana desa untuk pesta baku naik dan pesta wanita secara mandiri di kota, juga berhasil membuat masyarakat Mupe_yang sebelumnya hanya di kampung, sudah bisa pergi ke kota untuk beli beras, supermi, ikan kaleng, fanta, coca-cola, alkohol, baju, pisau, parang, permen, biskuit dan lainnya.

Masyarakat Mupe sangat senang dan bahagia, mahasiswa mereka yang sekolah di kota sekarang sudah gampang beli alkohol dan gampang baku naik di hotel. Didimus dianggap kepala kampung yang sukses karena penggunaan alokasi dana kampung sudah sesuai harapan Tim Panitia Empat.

Akhir bulan di tahun kelima, Beri dan Deta akan berpisah dengan kepala kampung Mupe dan seluruh masyarakat Mupe. Saking dekatnya, perpisahan mereka sangat menyedihkan; mereka saling lepas dengan rasa hormat yang tinggi dengan air mata yang penuh haru.

Bagi masyarakat kampung Mupe dan kepala kampung; Beri dan Deta adalah guru pembaruan hidup mereka, pondasi kemajuan orang-orang Mupe. Tidak hanya kepala kampung Mupe dan masyarakat Mupe tetapi seluruh kepala kampung dan masyarakat Papua mengalami perubahan yang sama dari 90.000 pendamping desa yang di sebar luas ke seluruh kampung di Tanah Papua.

Program para gubernur di seluruh Tanah Papua melalui Tim Panitia Empat sangat memberikan dampak yang luar biasa bagi masyarakat kecil di kampung dalam kurun waktu lima tahun. Tanah Papua dan masyarakat Papua mengalami banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. [*]

(Cerita ini hanya fiksi, mohon maaf jika tedapat penamaan nama dan lembaga)

Example 300250
Example 120x600
Cerpen

Pria itu membolak-balik catatan hariannya yang sudah usang….

error: Content is protected !!