Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Artikel

Jejak Yang Tersapu Ombak : Menggali Wajah Nabire di Balik Catatan Resenerg

5
×

Jejak Yang Tersapu Ombak : Menggali Wajah Nabire di Balik Catatan Resenerg

Sebarkan artikel ini
Carl Benjamin Hermann von Rosenberg.
Example 468x60

*Oleh Robertino Hanebora.

Ada aroma garam yang ganjil dalam setiap embusan angin di pesisir Nabire. Mungkin, itu adalah aroma ingatan yang menolak untuk dilupakan.

Example 300x600

​Kita sering berjalan di atas tanah ini tanpa pernah benar-benar bertanya: siapa yang pertama kali menuliskan keberadaan kita dalam lembaran sejarah dunia? Sebelum kota ini bising oleh deru mesin, Nabire adalah sebuah misteri yang diselimuti kabut hijau hutan hujan dan birunya Teluk Cenderawasih—yang dulu oleh orang-orang asing disebut Geelvinkbaai.

Jauh sebelum tahun 1858, tepatnya pada 1705, seorang pelaut bernama Jacob Weyland telah lebih dulu membelah ombak Teluk Cenderawasih dengan kapal De Geelvink. Namun, Weyland hanyalah pembuka jalan. Ia melihat dari kejauhan dek kapal, tapi belum sungguh-sungguh “menyentuh” nurani tanah ini.

Barulah pada pertengahan abad ke-19, berawal dari mandat riset ilmiah yang dirumuskan pada tahun 1855, seorang pria kelahiran Jerman bernama Hermann von Rosenberg diutus. Ia adalah pejabat pemerintah Hindia Belanda yang diperintahkan secara resmi oleh Gubernur Jenderal untuk memetakan kekayaan alam dan manusia di Papua menggunakan kapal uap “Etna”. Pada tahun 1858, ia tiba di wilayah yang ia sebut sebagai Pesisir Selatan Geelvinkbaai dan memasuki sebuah perairan tenang yang ia namakan Jaur-baai (Teluk Jaur).

Satu hal yang harus kita tahu: pesisir Nabire saat itu bukanlah pintu yang terbuka bagi siapa saja. Rosenberg mencatat betapa sulitnya pihak luar untuk merangsek masuk ke daratan. Mengapa? Karena suku-suku pesisir nabire penjaga tanah yang sangat kuat dan waspada.

​Di sepanjang pesisir, Rumpun Sagu tumbuh begitu lebat dan luas—sebuah labirin hijau yang tak tertembus bagi mereka yang tak diundang. Namun, pertahanan paling ikonik adalah Rumah-Rumah Tinggi yang mereka bangun. Bukan sekadar tempat tinggal, rumah panggung yang menjulang itu adalah Menara Pengawas. Dari ketinggian itulah, mata-mata tajam leluhur memantau setiap jengkal pergerakan orang asing di laut. Sebelum kaki orang asing dan kolonial menyentuh pasir pantai, keberadaan mereka sudah terdeteksi. Mereka membangun peradaban di atas kewaspadaan.

Dalam bukunya yang monumental, “Der Geelvinkbaai op Nieuw-Guinea” (1875), Rosenberg menuliskan bahwa di sepanjang pesisir selatan hingga Teluk Jaur, ia hanya berhasil menemukan dan mengidentifikasi suku-suku asli yang berada diabad itu tersebut. Suku-suku yang ia dapatkan adalah : ​Suku Yerisiam (Iresim), ​Suku Your (Jaur), ​Suku Umar (Omar) dan ​Suku Moor

​Hanya mereka, yang terekam dalam tinta emas eksplorasinya di wilayah tersebut

Jika kalian ingin membaca bukti ketangguhan ini, buka catatan Rosenberg pada Halaman 79 hingga 91. Di sana ia mendeskripsikan dengan 3 penuh ketakjuban tentang keasrian Teluk Jaur dan bagaimana suku-suku pesisir ini hidup mandiri di tengah rimbunnya sagu, menjaga tanah mereka dengan cara yang membuat orang asing merasa gentar.

​Kenapa Kita Harus Tahu?

Membaca catatan Rosenberg bukan berarti kita memuja kolonialisme. Justru sebaliknya. Kita harus tahu agar kita tidak menjadi asing di tanah sendiri. Jika orang asing saja bersusah payah mencatat kekuatan dan keberadaan suku kita 160 tahun yang lalu, lantas mengapa kita hari ini seolah lupa pada akar sendiri?

​Catatan itu adalah cermin. Di sana kita melihat bahwa sebelum Nabire menjadi seperti sekarang, ia adalah rumah bagi jiwa-jiwa yang tangguh, yang bahasanya terekam dalam sejarah dunia. Sejarah bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang pondasi untuk berdiri tegak di masa depan.

“​Jangan biarkan ombak menyapu jejak-jejak itu dari ingatan kita. Karena suku yang kehilangan sejarahnya, adalah suku yang kehilangan kompasnya”.

​Sumber Literasi & Referensi Ilmiah :

​Rosenberg, C.B.H. von. (1875). Der Geelvinkbaai op Nieuw-Guinea. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff. (Terutama halaman 79-91 mengenai Pesisir Selatan, Teluk Jaur, dan suku-suku pesisir).

​Robidé van der Aa, P.J.B.C. (1879). Reizen naar Nederlandsch Nieuw-Guinea. (Laporan resmi ekspedisi Etna yang merujuk pada rencana ilmiah 1855).

​Wichmann, A. (1909). Entdeckungsgeschichte von Neu-Guinea. Leiden: E.J. Brill. (Kronologi Jacob Weyland 1705 hingga era Rosenberg).

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!