Piala Dunia merupakan peristiwa global yang mampu menyita perhatian jutaan orang di berbagai belahan dunia, termasuk masyarakat di Papua. Euforia sepak bola menghadirkan kegembiraan, kebersamaan, dan ruang hiburan bagi banyak kalangan. Namun, di balik sorakan kemenangan dan kemeriahan pesta olahraga dunia tersebut, terdapat suara-suara kemanusiaan yang perlahan tenggelam dan kurang mendapat ruang. Di Papua, masyarakat masih menghadapi berbagai persoalan menyangkut hak atas tanah ulayat, identitas budaya, pembangunan, lingkungan, serta ruang hidup yang terus menjadi perhatian. Ketika dunia sibuk membicarakan jalannya pertandingan dan para pemain, sebagian masyarakat Papua tetap memperjuangkan haknya untuk didengar. Tulisan ini mengulas bagaimana besarnya perhatian terhadap Piala Dunia 2026, dapat membuat isu-isu kemanusiaan di Papua tersisihkan, serta pentingnya menjaga keseimbangan antara menikmati hiburan global dan tetap memperhatikan realitas sosial yang ada di tengah masyarakat.
Pendahuluan
Piala Dunia bukan sekadar rangkaian pertandingan sepak bola biasa. Ajang ini telah berkembang menjadi fenomena dunia yang mampu menjembatani perbedaan negara, budaya, dan latar belakang kehidupan. Di berbagai daerah, termasuk di Papua, suasana kemeriahan turut terasa. Masyarakat merasakan atmosfer pesta olahraga ini melalui berbagai kegiatan, mulai dari menonton pertandingan secara bersama-sama, menggelar pawai, mengenakan atribut tim kesukaan, hingga berdiskusi antusias mengenai jalannya kompetisi.
Untuk sementara waktu, sepak bola menjadi bahasa bersama yang menyatukan banyak orang. Sorakan setiap kali tercipta gol, kegembiraan atas kemenangan tim favorit, dan kisah para pemain menjadi topik utama yang mendominasi ruang percakapan. Namun, di balik gemerlap lampu stadion dan euforia yang meluap, terdapat kenyataan lain yang berjalan tanpa banyak sorotan: suara masyarakat yang terus berjuang mempertahankan hak, kehidupan, dan keadilan.
Ketika Sorotan Dunia Beralih ke Lapangan Hijau
Daya tarik Piala Dunia sangatlah besar. Media massa, ruang publik, hingga percakapan sehari-hari dipenuhi oleh pembahasan mengenai jadwal pertandingan, strategi tim, penampilan bintang lapangan, hingga hasil akhir setiap laga. Besarnya perhatian publik terhadap ajang ini sering kali membuat berbagai isu sosial dan kemanusiaan kehilangan ruang untuk dibahas secara luas. Persoalan yang membutuhkan perhatian bersama pun kerap tertutupi oleh suasana perayaan yang melanda dunia.
Kondisi ini juga terasa di Papua. Di tengah kegembiraan masyarakat menikmati kemeriahan Piala Dunia, masih terdapat kelompok yang terus berjuang agar suara dan aspirasi mereka tidak hilang tertelan arus perhatian dunia.
Suara Masyarakat Adat Papua yang Terlupakan
Papua bukan hanya dipandang sebagai wilayah pembangunan atau daerah yang kaya akan sumber daya alam semata. Papua adalah tanah leluhur yang menjadi tempat tinggal masyarakat adat yang memiliki sejarah panjang, sistem budaya, serta ikatan emosional yang mendalam dengan wilayah tempat mereka berpijak.
Bagi masyarakat adat di Papua, tanah bukan sekadar aset atau lahan untuk dimanfaatkan. Tanah merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan, identitas diri, sumber penghidupan, sekaligus warisan berharga yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur. Oleh karena itu, setiap perubahan yang terjadi di wilayah tersebut menyentuh aspek kehidupan mereka secara menyeluruh.
Dalam berbagai proses pembangunan yang berlangsung, sebagian masyarakat adat menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait pengakuan hak mereka atas tanah dan ruang hidup. Berbagai persoalan, mulai dari pemanfaatan tanah ulayat, rencana pembangunan fasilitas umum, investasi, hingga perubahan kondisi lingkungan, menjadi aspirasi yang terus disuarakan dan membutuhkan tanggapan yang tepat.
Suara Penolakan dari Tanah Adat Warbon
Salah satu contoh nyata dari suara masyarakat adat yang membutuhkan perhatian adalah sikap yang diambil oleh warga Kampung Warbon, Distrik Biak Utara, Kabupaten Biak Numfor. Masyarakat di wilayah ini menyampaikan penolakan tegas terhadap rencana pembangunan bandar antariksa di atas wilayah tanah ulayat mereka.
Sebagai bentuk pernyataan, mereka memasang Salib Merah yang menjadi tanda dari sistem Sasi Adat. Bagi masyarakat adat Warbon, simbol ini merupakan wujud perlindungan atas wilayah adat sekaligus penegasan bahwa tanah leluhur tidak dapat dialihfungsikan atau digunakan tanpa persetujuan dari pemilik hak adat yang sah. Masyarakat menegaskan bahwa tanah, hutan, pesisir, serta seluruh ruang hidup mereka memiliki nilai sejarah, budaya, sosial, hingga nilai spiritual yang harus dijaga dan dihormati.
Suara Generasi Muda Papua
Selain aspirasi yang datang dari kalangan masyarakat adat, suara dari generasi muda juga menjadi bagian penting dalam upaya menjaga hak dan kepentingan bersama. Kalangan mahasiswa, misalnya, menyampaikan dorongan kepada pemerintah daerah agar senantiasa menghormati hak masyarakat adat dalam menyusun dan melaksanakan setiap kebijakan pembangunan.
Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok Lani Jaya meminta agar pembangunan berbagai fasilitas, baik itu untuk keperluan umum maupun keamanan, tidak dilaksanakan secara sepihak. Mereka menekankan bahwa setiap rencana pembangunan harus melalui proses musyawarah yang melibatkan masyarakat pemilik hak ulayat secara langsung. Menurut pandangan mereka, pembangunan akan berjalan lebih baik jika melibatkan pihak yang memiliki ikatan dan tanggung jawab atas wilayah tersebut.
Antara Piala Dunia dan Realitas Kemanusiaan
Piala Dunia memang memberikan kebahagiaan dan menjadi sarana hiburan yang dinanti banyak orang. Namun, kemeriahan ini juga menjadi pengingat bahwa masih ada sisi kehidupan lain di luar lapangan olahraga yang tidak boleh dilupakan.
Ketika dunia merayakan setiap gol dan kemenangan tim kesukaan, di tempat lain ada masyarakat yang sedang berusaha mempertahankan tanah leluhurnya. Ketika perhatian publik tertuju pada perjalanan karier para pemain sepak bola, ada kelompok yang sedang menyuarakan haknya agar didengar dan dipenuhi. Dan ketika stadion menjadi pusat sorotan dunia, masih ada wilayah-wilayah yang menanti keadilan serta pengakuan atas hak-hak dasarnya.
Pembangunan, Keadilan, dan Hak untuk Didengar
Pembangunan yang berlangsung di Papua sejatinya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Namun, tujuan mulia ini akan tercapai secara maksimal jika dijalankan dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat adat serta melibatkan mereka dalam setiap tahap pengambilan keputusan.
Suara yang disampaikan oleh masyarakat bukanlah penghalang bagi kemajuan pembangunan. Sebaliknya, aspirasi tersebut justru menjadi bagian penting agar pembangunan berjalan lebih adil, tepat sasaran, dan tidak mengorbankan kepentingan kelompok tertentu. Kemajuan suatu daerah tidak hanya dapat diukur dari banyaknya fasilitas yang dibangun, tetapi juga dari seberapa besar masyarakatnya merasa dihargai, dilibatkan, dan mendapatkan rasa keadilan.
Kesimpulan
Di tengah hiruk pikuk perhelatan akbar Piala Dunia, terdapat suara-suara yang berpotensi terpinggirkan dan terlupakan. Kondisi di Papua menjadi cerminan bahwa di balik kegembiraan dunia menyaksikan olahraga, masih ada perjuangan panjang masyarakat yang membutuhkan perhatian bersama.
Piala Dunia mengajarkan nilai persatuan, kebersamaan, dan saling menghargai. Nilai-nilai tersebut seharusnya juga tercermin dalam kehidupan nyata. Hal ini meliputi kesediaan untuk mendengar suara masyarakat adat, menghormati hak-hak mereka, serta memastikan bahwa setiap langkah pembangunan tidak menghilangkan jati diri, budaya, dan ruang hidup yang menjadi hak mereka. Sebab, di balik sorakan kemenangan yang bergema di lapangan hijau, masih ada suara kemanusiaan yang menunggu untuk didengar dan mendapatkan perhatian yang layak. [*]
*Penulis Adalah Mahasiswa Aktif Uswim Nabire.

















