
Nabire, Kalawaibumiofi.com | Komunitas Kerahiman Ilahi Wilayah Dekenat Teluk Cenderawasih, Keuskupan Timika menggelar sosialisasi Gerakan Doa Kerahiman Ilahi di Aula Paroki KSK Bukit Meriam, Nabire, Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat iman umat serta menyebarkan semangat belas kasih dan perdamaian di tengah situasi yang dinilai masih membutuhkan banyak pertolongan ilahi.
Koordinator Komunitas Kerahiman Ilahi Papua Wilayah Dekenat Teluk Cenderawasih Keuskupan Timika, Bernadeta You, menjelaskan bahwa Kerahiman Ilahi adalah inti dari kasih dan belas kasih Allah kepada manusia. Sebagai makhluk yang tidak luput dari kesalahan, umat diajak berlindung dalam rahim belas kasih-Nya untuk memohon pengampunan, penyembuhan, serta pemulihan bagi diri sendiri dan seluruh bangsa.
“Kita diajak berdoa khusus pada pukul tiga sore, mengenang saat Yesus menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib. Dilanjutkan dengan doa pertobatan dan permohonan. Harapan kami, gerakan ini terus menyebar dari setiap paroki, ke setiap Komunitas Basis (Kombas), hingga masuk ke dalam setiap keluarga di tanah Papua,” ujar Bernadeta saat ditemui awak media.
Ia menekankan doa ini sangat relevan bagi masyarakat Papua saat ini.
“Kondisi di tanah kita belum sepenuhnya damai. Melalui doa kita saling menguatkan dan memohon agar kedamaian sejati senantiasa menyertai seluruh masyarakat di Papua Tengah dan wilayah lainnya,” tambahnya.
Kegiatan ini dihadiri perwakilan dari berbagai paroki se-Dekenat Teluk Cenderawasih yang nantinya akan menyosialisasikan kembali kepada jemaat di wilayah masing-masing.
Moderator Kerahiman Ilahi Wilayah Papua Keuskupan Timika, Romo Benyamin Magai, Pr., yang hadir mewakili Uskup Timika menegaskan bahwa kekuatan terbesar bukanlah kekuasaan manusia, melainkan pertolongan Tuhan.
“Melalui doa, kita menemukan sukacita dan jalan keluar atas segala hal yang mustahil bagi manusia. Tuhan memegang kendali atas segalanya,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh umat, tidak hanya umat Katolik namun juga dari berbagai denominasi lain, untuk meluangkan waktu berdoa dan berpuasa demi keselamatan serta kedamaian tanah Papua.
“Kita berdoa bahkan bagi mereka yang mengganggu ketertiban, semoga hati mereka disadarkan oleh Tuhan dan mengutamakan kebenaran serta perdamaian,” ujar Romo Benyamin.
Menyikapi berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi Papua Tengah saat ini, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang mengutamakan kedamaian, namun menegaskan peran umat beragama harus berjalan beriringan.
“Apa yang tidak mampu kita selesaikan dengan kekuatan lain, kita lawan dan kita hadapi dengan doa serta puasa. Kami pun mendukung penetapan hari Jumat sebagai hari khusus mendoakan perdamaian di Tanah Papua, mengenang pengorbanan Kristus yang membawa kemerdekaan sejati bagi seluruh umat manusia,” ungkapnya.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan setiap peserta menjadi pelopor doa di lingkungannya masing-masing, mewujudkan kehidupan yang saling mengampuni, menjunjung keadilan, dan membangun Papua Tengah yang damai, aman, serta sejahtera di bawah naungan Kerahiman Ilahi. [*]


















