Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Olahraga

Mantan Petinju Nabire Ingin Tinju di Papua Tengah Maju

31
×

Mantan Petinju Nabire Ingin Tinju di Papua Tengah Maju

Sebarkan artikel ini
Martinus Adii, mantan petinju asal Nabire. Rabu (25/3/2026), – Kalawai/Noak Mote.
Example 468x60

Nabire, Kalawaibumiofi.com |  Martinus Adii, mantan petinju asal Nabire, Martinus Adii mengungkapkan bahwa sejarah tinju di daerah ini telah ada sejak tahun 1970-an.  

Menurut cerita almarhum Yance Rumbino, pelatih sekaligus mantan petinju yang menjadi sumber informasi, awalnya para petinju kala itu sering berlatih di bawah pohon mangga depan Gereja GKI Tabernakel (sekarang KCF) tanpa menggunakan sarung tinju.

Example 300x600

“Pohon mangga depan Gereja GKI Tabernakel Oyehe. Disitu dulu tempat Latihan, tidak pakai sarung tinju, tapi tangan kosong,” ujar Adii di Nabire, Rabu (25/3/2026).

Adii mengaku tidak pernah bermimpi menjadi petinju atau pengurus Pertina. Motivasi awalnya muncul setelah pernah dipukul orang saat masih kecil, yang membuatnya berpikir untuk “memukul dengan cara yang lebih elegan dan berprestasi”.

“Dari situ, saya mulai mengikuti latihan tinju sejak kelas 1 SD dan baru bisa bertanding pada kelas 2 SMP. Saya mulai meraih kemenangan secara beruntun berlatih dan ikut kejuaraan,” uanghkapnya.

Ia mulai berlatih secara intens di sekitar tahun 1993 di kawasan Kota Lama (Kampung Bouw, Kelurahan Morgo), dengan melihat latihan di sasana yang terletak di belakang bandara lama.

Dikatakan, selama karirnya, telah mengikuti banyak kejuaraan mulai dari tingkat SMP hingga pasca -kuliah. Salah satu pengalaman berharga baginya adalah ketika kalah di semifinal Kejurda Papua tahun 2001-2002 dari petinju Apolos Kurni, legenda tinju Papua yang pernah meraih medali emas PON 2000 Surabaya dan menjadi juara dua Olimpiade.

“Saya kalah di semifinal. Kalah dari Apolos Kurni,” terangnya.

Ia berujar, bahwa tinju di Nabire memiliki animo yang tinggi di kalangan anak muda. Namun perkembangannya terhambat semenjak tragedi di GOR Bulan Juni 2013 yang menelan banyak korban (meninggal dunia) akita peristiwa itu.

“Dari peristiwa itu, Perhatian pemerintah sangat kurang, mulai dari fasilitas sasana hingga pengiriman atlet ke kejuaraan,” ujarnya.

Saat ini, Adii sudah tidak lagi aktif sebagai petinju dan menjabat sebagai Ketua di salah satu Sasana Tinju di Nabire. Ia juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Pertina Kabupaten Nabire, serta pernah menjabat sebagai Ketua Pertina Provinsi Papua Tengah berdasarkan SK resmi dari DPP Pertina Nasional periode 2024-2027.

Ia juga pernah membawakan tiga atlet tinju kontingen Papua Tengah pada PON ke-21 Aceh, meskipun belakangan muncul kepemimpinan baru yang ia sikapi dengan mengikuti proses dinamika organisasi.

“Sejak DOB, saya diberi SK sebagai ketua Pertina Papua Tengah. Tapi entah bagaimana, ada kepemimpinan lain,” terang Adii.

Sebagai mantan atlet tinju, ia berharap KONI Papua Tengah dapat membuat program terstruktur untuk setiap cabang olahraga, termasuk tinju.

Ia juga menekankan pentingnya mengembangkan atlet lokal tanpa harus mencabut dari luar, karena Papua Tengah memiliki potensi olahraga yang besar di berbagai cabang.

“Perlu ada jenjang kompetisi yang kontinu dan regenerasi atlet, serta pendirian PPLP (Pusat Pembinaan Latihan Pelajar) untuk mengembangkan potensi anak muda secara optimal,” harapnya. [*]

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!