Pernahkah Anda memperhatikan perbedaan kata yang digunakan media atau masyarakat saat melaporkan konflik?
Di luar Papua, insiden bentrok antarwarga atau kelompok sering disebut “tawuran”. Namun, begitu kejadian serupa terjadi di Papua, tiba-tiba labelnya jadi “perang”.
Mengapa demikian? Apakah orang Papua memang identik dengan perang dan kekerasan? Pertanyaan ini muncul dari curhatan Tiiruuonline di salah satu grup chat, yang menyoroti ketidakadilan dalam pemilihan kata tersebut.
Akar Masalah : Framing Media dan Stereotip
Penggunaan kata “perang” untuk konflik di Papua bukanlah hal baru. Ini sering kali mencerminkan framing berita yang dramatisasi kejadian di wilayah tersebut.
Padahal, definisi “perang” secara harfiah merujuk pada konflik bersenjata skala besar antara negara atau kelompok terorganisir, bukan sekadar gesekan antarwarga seperti tawuran di Jakarta atau Surabaya.
Contohnya, bentrokan mahasiswa di Yogyakarta disebut tawuran, tapi insiden serupa di Jayapura langsung dilabeli “perang suku”.
Alasan utamanya? Stereotip historis dan geografis. Papua kerap digambarkan sebagai tanah konflik karena sejarah separatis, isu otonomi khusus, dan ketegangan antara warga asli (OAP) dengan pendatang.
Media nasional, baik TV maupun online, cenderung menggunakan kata ‘sensasional’ untuk menarik perhatian, meski skala kejadiannya kecil. Hasilnya, orang Papua terstigmatisasi sebagai “suka perang-perangan” atau “identik dengan kekerasan”.
Tidak Semua Orang Papua Seperti Itu
Tentu saja tidak! Mayoritas masyarakat Papua hidup damai, menjalani rutinitas seperti petani, nelayan, atau pegawai negeri. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat kriminalitas di Papua tidak jauh berbeda dengan provinsi lain jika disesuaikan dengan populasi.
Kekerasan sering dipicu faktor eksternal seperti konflik lahan, politik identitas, atau provokasi kelompok tertentu—bukan sifat bawaan orang Papua.
Penggunaan kata “perang” justru memperburuk stigma ini. Ini menyiratkan bahwa konflik di Papua adalah sesuatu yang “primitif” atau “savage”, padahal tawuran di kota besar juga melibatkan senjata tajam dan korban jiwa. Ini mirip metafora “lensa kacamata”: Papua dilihat melalui kacamata konflik abadi, sementara daerah lain melalui lensa “insiden biasa”.
Solusi : Bahasa yang Adil dan Sensitif
Penggunaan kata “perang” sebaiknya dihindari kecuali benar-benar konflik bersenjata terstruktur. Ganti dengan “bentrok”, “gesekan”, atau “tawuran” untuk keseragaman. Media dan masyarakat perlu sadar akan dampak kata-kata: ia membentuk persepsi publik dan bisa memicu diskriminasi. Pemerintah juga berperan melalui regulasi jurnalistik yang mendorong pelaporan netral.
Intinya, bukan orang Papua yang suka perang, tapi narasi yang salah yang membuatnya terlihat begitu. Mari ubah bahasa kita untuk membangun pemahaman, bukan prasangka. [*]
*Titus Ruban

















