Pemerintah Provinsi Papua Tengah memulai pelatihan budidaya kopi berkelanjutan dan pascapanen bagi petani di Kabupaten Puncak Jaya. Melalui kerja sama dengan Asosiasi Kopi Indonesia (SCOPI), pemerintah ingin meningkatkan kualitas kopi lokal dan menyiapkan komoditas tersebut agar mampu menembus pasar internasional pada 2029.
Nabire, Kalawaibumiofi | Pemerintah Provinsi Papua Tengah mulai mengembangkan perkebunan kopi di Kabupaten Puncak Jaya melalui pelatihan budidaya berkelanjutan dan penanganan pascapanen. Pemerintah menargetkan kopi dari daerah tersebut dapat menembus pasar internasional pada 2029.
Pelatihan yang digelar Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Papua Tengah bersama Asosiasi Kopi Indonesia (SCOPI) itu berlangsung di Aula Dinas Perkebunan, Peternakan, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Puncak Jaya, Jumat, 6 November 2026.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan dan Peternakan Papua Tengah, Andrias Gobai, mengatakan Puncak Jaya dipilih sebagai lokasi awal pengembangan kopi berkelanjutan di provinsi tersebut. Menurut dia, daerah itu memiliki potensi perkebunan kopi yang dapat dikembangkan.
“Pelatihan budidaya kopi berkelanjutan di Provinsi Papua Tengah ini kita mulai dari Kabupaten Puncak Jaya. Kami melihat daerah ini memiliki potensi kopi yang sangat baik,” kata Gobai kepada wartawan setelah kegiatan.
Pelatihan berlangsung selama dua hari. Pada hari pertama, peserta menerima materi teori. Adapun hari kedua diisi dengan praktik langsung di kebun.
Materi yang diberikan mencakup pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman, dan penanganan pascapanen. Pemerintah berharap pengetahuan tersebut dapat membantu petani meningkatkan kualitas kopi, sehingga hasil produksinya memenuhi standar pasar.
Gobai mengatakan pelatihan itu merupakan bagian dari program prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah dalam mengembangkan komoditas kopi. Pemerintah provinsi juga menyiapkan program penyediaan bibit dan pembangunan rumah pembibitan atau greenhouse di Puncak Jaya serta sejumlah kabupaten lainnya.
Dalam kegiatan tersebut, SCOPI menghadirkan pelatih utama (master trainer) dari Jawa Barat untuk memberikan materi dan berbagi pengalaman dengan petani.
Gobai berharap Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya ikut mendukung program tersebut melalui kebijakan, pendampingan, dan penyediaan anggaran.
Ia menegaskan pengembangan kopi tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Program tersebut, kata dia, harus memberikan dampak langsung terhadap pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani.
Pemerintah Provinsi Papua Tengah menargetkan kopi Puncak Jaya dapat dipasarkan ke luar daerah hingga pasar internasional pada 2029. Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara Eropa menjadi sejumlah pasar yang dibidik.
Namun, Gobai mengakui target tersebut membutuhkan peningkatan kualitas panen, pengolahan, dan konsistensi produksi.
“Untuk bisa masuk ke pasar internasional, kualitas kopi harus benar-benar diperhatikan. Kita harus memastikan hasil produksi dan pengolahannya baik sehingga pembeli memiliki kepercayaan terhadap kopi dari Puncak Jaya,” ujar Gobai.
Ia berharap pelatihan tersebut dilanjutkan dengan pendampingan secara berkala agar petani dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan perkebunan sehari-hari.
Pengembangan kopi Puncak Jaya, menurut Gobai, membutuhkan kerja sama pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, tenaga pendamping, dan kelompok petani agar komoditas tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. [*]
