Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Tanah Papua

Peluncuran Buku “Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026” Jadi Seruan Keadilan dan Perdamaian

0
×

Peluncuran Buku “Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026” Jadi Seruan Keadilan dan Perdamaian

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRK Dogiyai Komisi A, Yohanes Degei-Kalawai
Example 468x60

Nabire, Kalawaibumiofi.com | Peluncuran buku berjudul “Tragedi Dogiyai Berdarah 31 Maret 2026: Catatan Kritis Solidaritas Rakyat Papua” berlangsung di Aula Gereja Kristus Raja, KPR Siriwini, Nabire.

Kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas peristiwa tragis yang terjadi pada 31 Maret 2026 sekaligus seruan kuat untuk menegakkan keadilan dan membangun perdamaian di Dogiyai.

Bupati Dogiyai yang diwakili oleh Anggota DPRK Dogiyai Komisi A, Yohanes Degei menyampaikan rasa hormat kepada keluarga korban tragedi serta apresiasi kepada Solidaritas Rakyat Papua (SRP) yang telah menyusun buku tersebut.

Example 300x600

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan suara hati rakyat yang merekam realitas, penderitaan, dan harapan masyarakat Dogiyai. Ia juga mengakui adanya rasa duka mendalam saat kembali mengingat tragedi tersebut, namun di sisi lain muncul harapan melalui lahirnya karya dokumentatif ini.

Menurutnya, peluncuran buku yang dilakukan pada hari Selasa di bulan Maret memiliki makna simbolis karena bertepatan dengan hari terjadinya tragedi berdarah tersebut. Hal ini menjadi pengingat bahwa peristiwa kelam itu tidak boleh dilupakan.

Pemerintah Kabupaten Dogiyai, lanjutnya, berkomitmen untuk terus memperjuangkan keadilan melalui proses hukum yang transparan dan bertanggung jawab. Selain itu, upaya pemulihan trauma bagi keluarga korban dan masyarakat juga menjadi prioritas.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan tragedi ini sebagai pelajaran penting guna membangun kehidupan sosial yang harmonis, rukun, aman, dan demokratis. Dialog dan persaudaraan harus terus diperkuat untuk mencegah terulangnya kekerasan di masa depan.

“Dogiyai adalah honai besar bagi kita semua. Kita harus hidup saling menghormati dan melindungi. Darah yang tumpah tidak boleh menjadi benih permusuhan, tetapi harus menjadi semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Acara peluncuran buku ditutup dengan harapan agar karya ini menjadi sumber pembelajaran, membuka wawasan, serta menggugah kesadaran publik untuk terus memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan perdamaian di Dogiyai dan seluruh tanah Papua. (*)

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!