Nabire, Kalawaibumiofi.com | Pastor Dekan Dekenat Teluk Cenderawasih, Yohanes Sudrijanta, SJ, mengatakan bahwa Rangkaian kegiatan peluncuran sekaligus bedah buku bertema “sejarah perjuangan dan pemikiran pendidikan di Papua” akan diselenggarakan pada Selasa, (14/6/2026) mendatang. Acara akan dimulai pada pukul 09.00 – 11.00 WIT, bertempat di lingkungan SMA Luhur Nabire. Kegiatan berlangsung selama sekitar dua jam dan menghadirkan tiga buku dalam dua judul utama yang mengangkat perjalanan panjang dunia pendidikan di tanah Papua.
“Tiga buku yang diluncurkan terdiri dari dua kategori. Pertama adalah buku berjudul “Kisah-Kisah Guru Perintis dari Pedalaman Papua”, yang mengisahkan pengabdian tenaga pendidik pada gelombang kedua, yaitu rentang tahun 1962 hingga 1980. Gelombang ini bertepatan dengan masa integrasi wilayah Papua ke dalam Negara,” kata Pastor Sudri, sapaan akrabnya dapat ditemui di Nabire, Kamis (16/6/2026).
Menurutnya, sebelum periode itu telah ada gelombang pertama guru perintis yang bertugas pada tahun 1927–1939, diikuti generasi berikutnya yang datang sekitar tahun 1940-an. Tokoh dari gelombang awal antara lain kakek dari Bupati Timika John Rettob, ayah dari mendiang Bapak Uskup John Saklil, serta Kakek dari Bapak Yohanes Renyaan.
“Buku ini khusus mengangkat kisah gelombang kedua. Proses pengumpulan datanya tidak mudah, karena sebagian besar guru masa itu telah tiada, dan yang masih hidup banyak yang sudah lupa atau dalam kondisi kesehatan terbatas,” tuturnya.
Tim penulis menelusuri narasumber tidak hanya di Nabire dan Timika, tetapi juga ke luar Papua seperti Makassar, Ambarawa, hingga Yogyakarta. Salah satu sumber penting adalah orang tua dari Sekretaris Daerah Provinsi Papua Tengah, Bapak Silvanus Sumule, yakni Bapak dan Ibu Sumuli yang pernah mengabdi sebagai guru di Paniai.
“Buku ini ditulis oleh Bernarda Rurit, mantan wartawan majalah Tempo yang kini menjadi penulis penuh waktu. Beberapa karyanya yang telah diterbitkan antara lain Indonesia Tahun 2045 dan Jawa Timur 2045,” ungkapnya.
Sementara itu, dua buku lainnya yang memiliki judul sama berjudul “Hati yang Menyala di Ufuk Timur: Sekolah Kesadaran ala Jesuit”. Buku ini berisi kumpulan refleksi dan pemikiran yang dihimpun dari para misionaris dan pendidik Jesuit yang telah maupun sedang berkarya di Papua sejak tahun 1990-an hingga sekarang.
Kegiatan bedah buku akan menampilkan tiga penanggap utama :
- Felix Degei, alumni SMA Luhur, lulusan Magister dari Universitas Adelaide Australia, dan kini bertugas di KPG Nabire.
- Yermias Degei, juga alumni SMA Luhur, lulusan Magister Komunikasi, dan menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire.
- Ignatius Adii, tokoh pendidikan yang telah berkiprah di Jayapura, Timika, dan kini aktif di Nabire serta Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Tengah..
Selain diskusi, acara akan dihadiri langsung oleh sejumlah guru perintis yang masih sehat, antara lain Ibu Anastasia Saminem Asmuni, Bapak Suyatmin, Bapak Mike Renyaan, Bapak Paijan Sukamto, Ibu Tutatumi, serta mantan Kepala Sekolah dari Paniai, Yosef Paijo.
“Kegiatan ini penting agar generasi muda mengenal jasa pendahulu dan memahami gagasan pendidikan yang membangun karakter bangsa di Papua,” pungkas Johanes Sudrijanta. [*]

















