Religius

Perayaan Kamis Putih di Paroki KSK Nabire, Ini pesan Pastor Agus dan Pastor Roni

285
Pembasuhan kaki oleh Pastor Agus dalam perayaan Kamis Putih di Gereja Katolik Bukit Meriam Nabire, Kamis (14/04/2022). – Bumiofinavandu.

Nabire, Bumiofinavandu – Umat Katolik memasuki pekan suci Tahun 2022. Pada Minggu (10/04), telah dilangsungkan ibadah perayaan Hari Minggu Palma dan pada Kami, Jumat dan Sabtu ini berada dalam pada Tri Hari Suci.

Di Gereja Katolik Bukit Meriam, Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire, Keuskupan Timika Papua, Ibadah Kamis Putih dilaksanakan dalam dua kali Misa. Ibadah ini sesuai tradisi Gereja Katolik, ditandai dengan pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Pastor kepada 12 umat. Dan dilanjutkan dengan perayaan ekaristi untuk mengenang perjamuan terakhir yang diadakan oleh Tuhan Yesus bersama kedua belas muridnya.

Ibadah Kamis Putih, Kamis (14/04/2022) di Paroki KSK tersebut berlangsung dalam dua sesi. Sesi pertama berlangsung pada pukul 16.00 WP, dipimpin oleh Pastor Yohanes Agus Setiyono, SJ yang merupakan Pastor Paroki. Sedangkan ibadah sesi kedua pukul 19.00 WP, dipimpin oleh Pastor Albertus M. R. N Haryanto SJ.

Pastor Agus, mengatakan tema paskah Tahun 2022 adalah “Berjalan bersama menuju hidup baru”, dengan sub tema “Buanglah ragi yang lama supaya kamu menjadi adonan yang baru” (1 Korintus 5:7).

Maka memasuki pekan Suci yang diawali dari Minggu Palma, Tri Hari Suci (Kamis putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci serta Paskah di Hari Minggu. Yang merupakan dalam merayakan kebangkitan Tuhan Yesus.

“Dan upacara Kamis Putih, adalah suatu upacara yang menunjukkan akan institusi Gereja Katolik di mana Yesus mengumpulkan ke-12 para rasul dengan upacara perjamuan terakhir. Disitu juga Yesus menunjukkan bagaimana para murid diberikan teladan keteladanan Yesus, yaitu dengan saling melayani ditunjukkan dengan mencuci kaki kedua belas rasul-Nya,” kata Pastor Agus.

Hal tersebut menunjukan sikap melayani, sebagai wujud dari cinta kasih. Maka Pastor Agus menjelaskan, bahwa umat Katolik diajak untuk menjadikan sakramen ekaristi sebagai Puncak perayaan iman, mengenang dan menghadirkan kurban Kristus, sebagai pemulihan atas dosa manusia dan sekaligus sebagai upacara satu kesatuan umat komunitas Kristiani di gereja Paroki masing-masing.

Dalam Injil Yohanes, 13, dikatakan bahwa ketika Yesus sebelum masa di bawah ke pengadilan, Yesus mengumpulkan para murid dengan pesan agar para murid senantiasa mengenangkan diri-Nya dengan merayakan perjamuan. Dan sekarang dilakukan dalam bentuk perayaan Ekaristi.

Disitu Yesus ingin menunjukkan bagaimana manusia dapat saling melayani dalam kehidupan. Dan bukan menunjukkan sebagai komunitas yang eksklusif, tetapi komunitas yang terbuka dan dapat hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Dan ini tidak hanya mengangkat martabat manusia tetapi sebagai yang diciptakan oleh Allah, yang mempunyai harkat dan martabat serta bersama-sama membangun hidup baru. Manusia yang baru maka dengan ini diharapkan agar kita terus bergerak sebagai Gereja dengan harapan masa depan sampai selama-lamanya,” jelas Pastor Paroki.

Romo Agus sapaan akrab Pastor Paroki KSK Nabire, juga mengungkapkan bahwa “Tri hari suci” yaitu Kamis Putih, Jumat Agung adalah peristiwa dimana Yesus disalibkan. Yang menunjukkan betapa Dia (Yesus) adalah anak domba Allah, pemulih atas dosa sebagai tumbal atas kesalahan manusia. Dan Yesus mau menerima perutusan dari Tuhan, dengan rendah hati dan sikap yang tabah. Tetapi kematian Yesus bukan berarti pasif.

Artinya Dia menunjukkan solidaritas-Nya kepada manusia termasuk mereka sekaligus yang sudah meninggal, dengan membawa orang-orang beriman untuk kembali kepada Bapa dan bangkit bersama Dia yang diutus oleh Tuhan. Hal ini dapat digunakan sebuah ilustrasi salib saat Kita lemah, ingat Bapa berarti orang diteguhkan jangan mudah menyerah dengan tanpa tantangan zaman dalam penderitaan apalagi di masa pandemi. Maka jangan kita hanya berpasrah tetapi dengan keputusan dan cara yang baik menjaga kelangsungan hidup kita pekan Suci dilanjutkan dengan Sabtu Suci atau pagi Paskah, upacara ini sangat sakral karena menyambut kebangkitan Tuhan. Disana umat Kristiani yakin bahwa tanda-tanda kebangkitan itu akan memancarkan terang kepada dunia sebagaimana pewahyuan Yesus datang dengan bayi yang mungil dibimbing oleh terang dari Timur, demikian pula wafat-Nya membawa terang yaitu kebenaran Allah yang mengalahkan kuasa maut, kebangkitan Yesus yang memenangkan kehidupan manusia yang fana dan Minggunya adalah minggu Paskah Sabtu Suci dilakukan dengan pancaran cahaya lilin Paskah,” Terang Paroki KSK Nabire ini.

Sementara di sesi kedua misa yang dipimpin Pastor Albertus M. R. N Haryanto SJ, meyakinkan umatnya bahwa kebesaran dan kehendak Tuhan dengan mengorbankan diri-Mya untuk dosa-dosa manusia. Sebab disitulah, terjadi pergumulan di dalam Taman Getsemani di mana setan secara rasional seolah-olah menunjukkan baik dan benar. Padahal tujuan pokok adalah terputus antara hubungan Dia dengan Bapak-Nya, tidak menjalankan intinya.

“Di sana harapan ekaristi berbagi tidak hanya perasaan-perasaan seluruh cinta, tetapi berbagi pada mereka-mereka yang susah ketemu Yesus dan memberikan hidupnya yang dimulai dari dengan tanda kebangkitan Roh Kudus,” pungkas pastor Roni.

Dalam perayaan tersebut, umat diterapkan dengan protokol kesehatan ketat. Yakni sebelum masuk ke dalam Gereja, umat diharuskan untuk menggunakan masker, disemprot hand sanitizer di tangan umat. juga untuk duduk, diwajibkan tidak berdekatan dengan jarak satu (meter) untuk orang di samping kiri kanan tempat duduk.

Perayaan Jumat Agung ini juga dijaga ketat oleh aparat TNI dari Kodim 1705/Nabire. Hal ini guna mengantisipasi gangguan keamanan berjalannya ibadah.(*)

error: Content is protected !!
Exit mobile version