Nabire, Kalawaibumiofi | Salah satu tokoh politik di Tanah Papua, Laurenzus Kadepa menyatakan dalam setiap masa perubahan, daerah selalu menatap ke depan dengan satu harapan yang sama, yakni lahirnya pemimpin yang tegas, kuat, dan tentu harus berpihak pada kepentingan rakyat.
Katanya, harapan itu kembali menguat di tengah situasi sosial, ekonomi, dan politik yang semakin kompleks. Rakyat merindukan sosok yang mampu berdiri tegak di tengah badai, menegakkan aturan tanpa pandang bulu, namun tetap mengedepankan hati nurani dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Ketegasan seperti inilah yang menjadi fondasi dari kepemimpinan sejati, tegas, tapi tidak otoriter; kuat, tapi tetap demokratis. Rakyat tidak menuntut pemimpin yang sempurna. Mereka hanya menginginkan sosok yang jujur, berani, dan konsisten,” kata Kadepa, Jumat (23/01/2026).
Menurutnya, pemimpin yang diinginkan rakyat adalah tidak hanya pandai berbicara di depan kamera, juga mampu bekerja nyata di lapangan. Pemimpin yang hadir di tengah rakyat, merasakan apa yang mereka rasakan, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan mereka.
Tokoh politik asal Paniai, Papua Tengah itu mengatakan, dalam pandangan rakyat, ketegasan bukan berarti marah-marah, melainkan keberanian untuk menegakkan kebenaran dan menolak ketidakadilan, sekalipun datang dari kalangan sendiri.
Ia mengatakan, kekuatan bukan berarti menekan, melainkan kemampuan untuk melindungi yang lemah dan memberdayakan yang tertinggal. Inilah sosok pemimpin yang diidamkan rakyat, pemimpin yang menggerakkan, bukan menakut-nakuti; yang memimpin dengan teladan, bukan dengan ancaman.
“Akhirnya saat ini kita perlu. Membangun Kepemimpinan Berkarakter, daerah ini membutuhkan pemimpin yang memadukan ketegasan dan kebijaksanaan.”
Kadepa menegaskan, ketegasan tanpa kebijaksanaan akan melahirkan ketakutan. Kebijaksanaan tanpa ketegasan akan melahirkan ketidaktegasan dan ketidakpastian. Hanya dengan keseimbangan keduanya, negeri bisa melangkah maju sebagai daerah yang berdaulat dan bermartabat.
Dalam dinamika politik global dan nasional yang penuh tantangan, setiap calon pemimpin negeri dan pemimpin yang kini memimpin diharapkan memahami bahwa kekuatan bukan terletak pada genggaman kekuasaan, tetapi pada keberanian untuk berbuat benar.
Sebab, rakyat tidak lagi ingin dipimpin oleh mereka yang hanya kuat dalam retorika. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang kuat dalam moral, tegas dalam tindakan, dan tulus dalam pengabdian.
“Karena, sejarah tidak akan mengingat seberapa besar kekuasaan seseorang, tetapi seberapa besar keberaniannya untuk menegakkan kebenaran. Dan di sanalah, sejatinya, arti dari menjadi pemimpin yang tegas dan kuat, bukan otoriter, tetapi pembawa keadilan dan harapan,” kata Kadepa. (*)

















