Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
ArtikelOpini

Refleksi Atas Nubuat dan Perjalanan Papua 

17
×

Refleksi Atas Nubuat dan Perjalanan Papua 

Sebarkan artikel ini
Suasana aksi di Pasar Karang Tumaritis Nabire – Papua Tengah, Kamis (11/09/2025), – Kalawai.
Example 468x60

Oleh: Roberthino Hanebora*

Di tepian kampung Aitumieri, di sebuah batu besar yang diam tapi sarat makna, pernah berkumandang sebuah nubuat yang penuh harapan oleh Izaak Samuel ata I.S. Kijne, seorang zendeling Belanda, yang dikenal sebagai pelopor pendidikan dan peradaban bagi masyarakat Papua. “Di atas batu ini saya meletakkan peradaban orang Papua.”

Kini, seratus tahun setelah suara itu bergema, batu itu tetap sama, kokoh dalam heningnya. Namun, manusia di sekitarnya sudah berubah banyak.

Example 300x600

Kini muncul pertanyaan-pertanyaan tajam. Apakah nubuat itu telah terwujud? Ataukah hanya menjadi janji yang belum tercapai?

Nubuat I.S. Kijne bukan hanya ungkapan simbolis, melainkan menjadi kompas moral, yang menuntun dan menginspirasi generasi Papua. Sebagaimana diungkapkan oleh Dominggus Mandacan, seorang tokoh lokal, “Semboyan dan doa zendeling Kijne … adalah kompas moral yang menuntun anak-anak Papua untuk berdiri tegak, percaya diri, dan memimpin dirinya sendiri.”

Namun fakta di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda. Kompas moral tersebut kerap tersesat di antara proyek pembangunan, birokrasi yang rumit, investasi besar, dan janji-janji yang belum terwujud dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Papua, berbagai indikator sosial-ekonomi memang menunjukkan kemajuan, tapi masih jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.

Akses terhadap infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan air bersih masih terbatas. Angka kemiskinan dan ketimpangan sosial, juga masih menjadi masalah besar yang belum teratasi secara memadai.

Lebih jauh, analisis terhadap dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua mengungkapkan bahwa meski alokasi anggaran cukup besar, dampak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah hanya “positif tetapi tidak signifikan.”

Dengan kata lain, uang banyak mengalir, harapan pun besar, namun hasil nyata di lapangan masih minim, dan belum mencerminkan perubahan fundamental.

Momen peringatan satu abad nubuat I.S. Kijne ini (25 Oktober 1925 – 25 Oktober 2025), harus menjadi lebih dari sekadar seremoni. Batu besar yang kini menjadi lokasi peringatan haruslah dijadikan latar refleksi mendalam bagi kita semua—apakah kita sudah benar-benar memimpin negeri kita sendiri?

Beberapa pertanyaan penting menyertai refleksi ini: Apakah keuntungan dari tambang dan investasi besar yang hadir di Papua sudah menjadikan masyarakat Papua sebagai pemimpin, bukan hanya sebagai pekerja? Apakah kekayaan laut Papua telah dinikmati dan dikelola oleh nelayan lokal, bukan kapal-kapal asing? Apakah dana otsus benar-benar menyentuh akar kehidupan masyarakat, mencakup mama-mama penjual sagu, masyarakat adat yang menjaga tanah komunal, serta anak-anak yang belajar dengan guru tetap di sekolah?

Papua adalah tanah kaya: tambang mineral, hutan lebat, laut yang luas, dan budaya yang beragam. Sayangnya, kekayaan ini sering dikelola dengan logika ekonomi yang tidak menempatkan pemiliknya, yakni orang Papua, di posisi pengambil keputusan.

Batu Kijne jadi saksi bisu untuk mengingatkan bahwa “peradaban orang Papua” harus didirikan oleh orang Papua sendiri, di tanahnya sendiri, dengan kebijakan yang menghormati otonomi dan peran masyarakat adat yang sejati.

Namun kenyataannya, otsus dan kebijakan otonomi spesial, yang seharusnya membuka ruang bagi kepemimpinan lokal dan pemberdayaan masyarakat adat, masih sering dipenuhi oleh ketergantungan dan alokasi dana yang tidak tepat sasaran.

Kita terus bertanya: Apakah kita sudah menjadi kapten di laut kita sendiri? Sudahkah kita berdiri sebagai pemimpin di hutan dan tanah adat kita? Ataukah kita masih berdiri di pinggiran negeri kita, hanya menjadi penonton di negeri kaya?

Hari ini, di peringatan seratus tahun nubuat yang bersejarah ini, mari kita tidak hanya bertepuk tangan dan merayakan. Lebih dari itu, mari kita berhenti sejenak, menatap batu itu dan mendengarkan suara yang tak terdengar bertanya: “Apakah kalian sudah berdiri di atas, atau masih bersandar di pinggirku?”

Nubuat itu belum selesai. Peradaban itu masih belum lengkap. Dan kita, anak-anak tanah Papua, memikul tanggung jawab besar untuk menyambung cerita itu. Bukan melalui kata-kata besar di panggung nasional, melainkan dengan tindakan nyata di kampung-kampung, di pasar tradisional, di sekolah-sekolah, dan di kebun-kebun kita.

Batu itu bukan menanti penghormatan kosong, tetapi ingin melihat pemenuhan janji dan harapan. Selamat satu abad, Papua. Semoga perayaan ini menjadi tonggak langkah maju, bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membangun masa depan yang bermartabat. []

*Penulis adalah Sekretaris Umum Suku Yerisiam Gua Nabire, Provinsi Papua Tengah

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!