 |
| anak-anak binaan suster Mariecen Kuayo DSY, di SKB YPPK Tillemans Enarotali – Bumiofinavandu/dok SKB YPPK Tillemans Enarotali. |
Nabire, Bumiofinavandu – Sanggar Kegiatan Belajar Yayasan Persekolahan Katolik (SKB YPPK) Tillemans Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua saat ini sedang mendidik sedikitnya 115 anak. Anak-anak itu, berasal dari keluarga broken home, piatu hingga yatim piatu dan kurang mendapatkan perhatian dari orang tua maupun keluarga.
Kepala SKB YPPK Tillemans, Suster Mariecen Kuayo DSY, kepada melalui selulernya Senin (8/2/2021) mengatakan, ke 115 anak-anak itu telah didik sejak Juli 2020 silam sebab kebanyakan putus bahkan tidak sekolah sama sekali.
“Kami sudah ajar mereka baca tulis sejak tauhn lalu,” ujar Suster Kuayo.
Dia menjelaskan, awalnya saat kembali bertugas di Enarotali, ia melihat beberapa anak sedang bermain di jalan. Suster lalu mendekat dan bertanya apakah anak-anak itu bersekolah atau tidak.
Akan tetapi, jawabannya tidak. Ia kemudian mengajak beberapa anak tersebut untuk didikan dan mendapatkan pelajaran di SKB. Mereka juga bukan semuanya pecandu Aibon, hanya sebagian anak.
“Waktu itu saya liat beberapa anak laki-laki dan saya tanya. Apakah kalian sekolah, kan ini sudah bukan Juli. Mereka mengangguk, kemudian besoknya mereka ke susteran,” jelas suster Kuayo.
Dari sinilah lanjut dia, awalnya hanya beberapa anak. Namun seiringnya waktu berjalan, saat ini sudah melampaui 100 orang.
Untuk awal pembelajaran hingga Desember 2020, anak-anak diajarkan tentang pengenalan huruf. Kemudian memasuki Januari 2021 barulah belajar membaca.
“Jadi, jadwal kami belajar dari Senin sampai Kamis. Jumat ada perbaikan gizi dan bersih-bersih ruangan kelas atau halaman, Sabtu dan Minggu libur,” lanjut adik kandung Pastor Marthen Kuayo ini.
Terpisah, tokoh masyarakat wilayah Meepago, Jhon NR Gobai saat diminta tanggapan terkait anak-anak Aibon dan putus sekolah di wilayah Meepago mengatakan, bukan hal baru jika masih terdapat anak-anak yang ditelantarkan.
Sehingga, Gobai menyarankan kepada pemerintah provinsi dan Kabupaten/kota di Papua untuk memiliki program yang jelas dalam memperhatikan masa depan anak Papua.
“Ini barang sudah lama, pemerintah harusnya buat program langsung yang menyentuh ke akar masalah. Jadi, harus ada identifikasi persoalan laku buat program yang jelas. Kita jangan hanya gembar gembor selamatkan anak Papua tanpa ada kepastian program,” uangkap Mantan anggota DPR Papua itu.(Red)
Post Views: 69