Nabire, Kalawaibumiofi.com I Sekretariat Keadilan dan Perdamaian atau SKP Keuskupan Timika menyatakan bahwa konflik horizontal di Kapiraya, Provinsi Papua Tengah, mengganggu kehidupan bersama antara masyarakat Atas dan masyarakat Bawah yang sudah lama hidup bersama.
Sekretariat Keadilan dan Perdamaian atau SKP Keuskupan Timika menyatakan, salah satu tempat yang cukup nyaman, tenang dan kehidupan bersama sebagai manusia bisa dipertontonkan secara nyata, ada di pesisir Kabupaten Mimika.
Disebutkan, tempat ini sarat akan sumber daya alam yang sungguh memanjakan siapa saja yang hadir disana.
Berapa tahun belakangan ini, wajah tempat yang baik itu telah berubah, karena ada aktivitas pertambangan lokal di Kampung Wakia dan sekitarnya, termasuk Kampung Kapiraya yang disebut-sebut terkait batas-batas wilayah adat dan batas-batas administrasi kabupaten-kabupaten sekitar. Karena pertambangan masyarakat lokal dan batas-batas wilayah inilah, masyarakat atas dan bawah diperhadap-hadapkan dan kini menjadi konflik antarwarga. Konflik ini kemudian menjadi buruk karena warga bukan saja menggunakan alat atau senjata tradisional, tetapi juga menggunakan senjata modern jenis senapan angin, yang oleh masyarakat dikenal dengan nama senjata tabung.
Sebagai akibat dari konflik ini adanya korban luka-luka dan banyak juga kerusakan dan kerugian material masyarakat setempat. Banyak warga masyarakat terpaksa harus meninggalkan kampung, rumah dan dusun dan pergi mencari tempat-tempat yang lebih aman.
Melalui Ajaran Sosial Gereja Katolik (Ensiklik Laudato Si), yang merupakan seruan moral dan spiritual Gereja Katolik untuk menjaga bumi sebagai “rumah bersama” melalui pertobatan ekologis, keadilan sosial dan tanggung jawab bersama terhadap tempat, lingkungan tempat kita hidup.
Bahwa semua orang dipanggil untuk mencintai, merawat dan melindungi bumi sebagai rumah bersama demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
“Kami, Gereja Katolik sangat prihatin dengan konflik antarmasyarakat yang terjadi hari-hari ini,” demikian keterangan pers SKP Keuskupan Timika yang diterima Kalawaibumiofi.com di Nabire, Papua Tengah, Jumat (6/3/2026).
Untuk itu SKP Keuskupan Timika mengajak semua masyarakat, semua pihak dan secara khusus kepada umat beriman yang sedang ada dalam masa prapaskah-masa pertobatan, untuk berdoa, memohon Roh Tuhan untuk membersihkan hati, pikiran dan membantu menata langkah kita ke depan agar lebih pasti (Mazmur 51:12).
Prihatin atas konflik dan situasi di Kapiraya dan sekitarnya, SKP Keuskupan Timika menyerukan kepada pemerintah pusat agar segera mengambil langkah cepat guna membantu warga pengungsi terdampak konflik, terutama membantu bahan makanan dan pengobatan.
SKP Keuskupan Timika juga menyerukan kepada semua perusahaan dan siapa saja, terutama yang beraktivitas terkait pertambangan di sekitar daerah konflik, agar berhenti beroperasi hingga konflik antarwarga memperoleh kejelasan hukum, kesepakatan damai antara pihak-pihak yang bersengketa dan konflik dinyatakan selesai.
Polri juga diminta agar menjalankan tugas pengamanan secara profesional, netral dan proporsional, demi mencegah konflik antarwarga, melindungi warga sipil dan menjamin rasa aman bagi semua pihak.
“Kepada Pemerintah Pusat dan dalam hal ini, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, agar meninjau ulang Surat Keputusan (SK) terkait Tapal Batas Administrasi Kabupaten, dan jika perlu dicabut.”
SKP Keuskupan Timika juga menyerukan kepada semua masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh muda dan warga umat beriman agar menahan diri, tidak terprovokasi oleh cerita dan berita-berita yang tidak benar.
“Kepada semua pihak yang berkemauan baik, baik itu di daerah konflik, instansi terkait di Provinsi Papua Tengah, di Tanah Papua maupun di tingkat nasional agar bersama-sama mendukung Tim Harmonisasi dalam upaya-upaya perdamaian yang sedang berjalan saat ini,” demikian SKP Timika.
SKP Timika menyatakan, Gereja Katolik Keuskupan Timika terus berdoa agar semua dikuatkan untuk jalan bersama, mencari cara-cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada, agar kita Tanah Papua terus diberkati. []

















