Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Politik

Thom Beanal, Pemimpin Karismatik Papua yang Dibesarkan Adat dan Gereja

16
×

Thom Beanal, Pemimpin Karismatik Papua yang Dibesarkan Adat dan Gereja

Sebarkan artikel ini
Tiga Seri Buku Thom Beanal, di Aula Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Kota Jayapura Papua Kamis (26/02/2026).
Example 468x60

Jayapura, Kalawaibumiofi.com | Almarhum Thom Beanal adalah salah satu tokoh di Tanah Papua yang karismatik dalam kepemimpinannya. Ia tidak banyak bicara, dan lebih sering menyampaikan gagasannya dengan narasi adat serta hikmat budaya.

Florentinus Beanal anak dari almarhum Thom Beanal mengatakan kepemimpinan dan perjuangan ayahnya tidak melalui proses yang cepat atau instan.

Example 300x600

Ayahnya dibesarkan sebagai anak kepala suku, yang sejak kecil telah dididik memahami tanggung jawab adat hingga belajar memimpin komunitasnya, dan dipoles oleh didikan gereja.

Menurutnya, perjalanan hidup membawa Thom Beanal keluar dari lingkungan adat menuju gereja. Di sanalah Thom Beanal menemukan ruang pembinaan yang disebut sebagai rumah kedua baginya.

Meski beberapa kali tidak menyelesaikan pendidikan formal, gereja tetap menerima dan membimbing Thom Beanal. Pertemuan nilai adat dan gereja inilah yang membentuk karakternya juga pandangan hidupnya.

Nilai-nilai itu yang terus ia bawa ketika Thom Beanal memasuki dunia modern dan membangun keluarga. Ia juga dikenal sebagai sosok yang menjunjung tinggi kebebasan.

Katanya, inilah yang membuatnya belajar dari sikap ayahnya. Thom Beanal tidak hanya sekadar berkata-kata, juga berani memperjuangkan kebenaran.

Pernyataan ini disampaikan Florentinus Beanal saat peluncuran dan bedah buku tiga seri tentang Thom Beanal di Aula Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura Papua, Kamis (26/2/2026).

“Bapak adalah teladan keteguhan hati bagi keluarga dan juga contoh bagi kami. Bapak mengajarkan kekuatan, kesetiaan, dan keberanian dalam memperjuangkan kebenaran bagi bangsa Papua,” kata Florentinus Beanal.

Kata Florentinus Beanal, ayahnya seringkali berkata bahwa manusia tidak boleh terus-menerus diperintah, akan tetapi harus hidup bebas dan merdeka.

Menurutnya, prinsip itu yang menjadi dasar perjuangan Thom Beanal bagi masyarakat Papua. Namun dibalik perannya sebagai tokoh publik, keluarga merasakan konsekuensi dari panggilan hidup itu.

Florentinus Beanal mengakui bahwa semasa masih kuliah, ia pernah protes terhadap ayahnya, karena merasa perhatian Thom Beanal kepada keluarga sering kali kalah dengan urusan perjuangan.

“Saya merasa bapak lebih fokus pada masyarakat, sedangkan kami jarang mendapat perhatian langsung,” ujarnya

Katanya, meski begitu ayahnya tidak banyak memberikan penjelasan panjang. Ia lebih memilih menunjukkan sikap hidup melalui tindakan nyata.

Dari situlah keluarga belajar memahami bahwa pengorbanan tersebut merupakan bagian dari panggilan sebagai seorang pejuang.

“Kami baru mengerti setelah kepergian [bapak]. Kami melihat perjuangan itu sebagai kebanggaan. Hingga kini dan selamanya, bapak tetap menjadi figur utama dalam kehidupan kami karena keteladanan hidupnya menjadi inspirasi yang terus kami kenang,” kata Florentinus Beanal.

Representasi Anak Adat Papua Sejati

Weynand Watory dari Dewan Adat Papua atau DAP menyebut almahrum Thom Beanal, sebagai representasi anak adat Papua sejati, dibentuk dengan nilai-nilai budaya yang kuat sejak kecil, sebelum ia diperkaya oleh agama, pendidikan, dan pengalaman politik.

Katanya, Thom Beanal adalah sosok karismatik dalam kepemimpinannya. Tenang, dan tidak banyak bicara. Lebih sering menyampaikan gagasan dengan narasi adat serta hikmat budaya.

Keberaniannya sama seperti tokoh Papua lainnya, almahrum Theys Hiyi Eluay. Berani menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi bangsanya. Kedua pemimpin adat itu lahir dari keberanian mempertahankan martabat dan jati diri orang Papua.

Watory mengatakan, bagi bangsa Papua Thom Beanal bukan sekadar jejak sejarah, melainkan semangat kebebasan dan jati diri Papua yang akan terus hidup di tengah masyarakat.

“Tokoh seperti Bapak Thom [Beanal] harus terus dikenang, nilai-nilai perjuangannya harus diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Weynand Watory.

Katanya, Thom Beanal dikenang bukan hanya sebagai pemimpin adat dan tokoh perjuangan Papua, juga sebagai bapak yang mewariskan nilai kebebasan dan jati diri kepada keluarga serta masyarakat luas.

Tantangan terbesar saat ini lanjut Watory, adalah menjaga identitas generasi muda Papua di tengah derasnya arus teknologi dan budaya luar. Sebab, banyak generasi muda asli Papua mulai kehilangan bahasa daerah dan semakin jauh dari akar budayanya.

Sejarah Politik Modern Papua yang Terlupakan

Dosen Antropologi Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, Dr. Budi Hernawan almarhum Thom Beanal adalah pihak yang memimpin tim 100 bertemu Presiden Republik Indonesia ke-3, B.J. Habibie di Istana Negara Jakarta, untuk membicarakan masa depan Papua pada 26 Februari 1999.

Pertemuan ini sering dianggap sebagai dialog historis antara Papua dan pemerintah pusat pada awal masa reformasi. Akan tetapi 26 Februari 1999, yang merupakan titik penting dalam sejarah politik Papua modern, kini mulai terlupakan.

“Mengapa 26 Februari tidak diperingati sebagai hari bersejarah bangsa Papua? [Padahal] peristiwa itu merupakan titik penting dalam sejarah politik Papua modern,” kata Dr. Budi Hernawan.

Menurutnya, setelah 27 tahun berlalu, dan melewati era Presidium Dewan Papua atau PDP, serta berbagai diskusi publik, generasi muda mulai melupakan bahkan mungkin tak mengetahui makna 26 Februari 1999.

Padahal peristiwa itu, bukan sekadar momentum politik, juga menjadi titik balik lahirnya refleksi panjang yang kemudian dirumuskan dengan istilah memoria passionis.

Istilah ini dipinjam dari teolog Jerman, Johann Baptist Metz. Dalam pemikiran Metz, terdapat tiga jenis ingatan, yaitu ingatan masa keemasan, ingatan masa kelam, dan ingatan yang membelah pusat hidup memoria passionis.

Jenis ingatan terakhir inilah yang, menurutnya relevan bagi Papua, ingatan yang tidak berhenti pada nostalgia atau trauma, tetapi membongkar kenyataan hari ini dan membuka arah masa depan.

“Kita bukan sekadar mengenang, tetapi menghidupkan kembali sejarah itu,” ucapnya.

Budi Hernawan juga mengutip pesan dari tokoh Papua, Pdt. Dr. Benny Giay yang menyatakan “Minumlah air dari sumbermu sendiri.”

Pesan tersebut dimaknai sebagai ajakan agar orang Papua menulis sejarahnya sendiri secara reflektif, bukan sekadar memposting atau menyebarkan ulang narasi di media sosial.

Menurut Budi Hernawan, Indonesia termasuk negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia, akan tetapi masih lemah dalam budaya menulis reflektif.

“Hal itu terjadi di Papua, di mana lebih banyak menyebarkan daripada mendalami dan mendokumentasikan secara kritis,” ujarnya.

Budi Hernawan pun mempertanyakan, apakah cukup hanya mengenang sosok Tom Beanal, atau menghidupkan kembali semangat dan keberaniannya. Sebab Tanah Papua merupakan bagian dari sejarah panjang yang terus berulang.

“Sejarah bukan sekadar cerita lama, akan tetapi ingatan yang menuntut tanggung jawab hari ini dan keberanian untuk menatap masa depan. Apakah kita sekadar mengenang, atau menghidupkan kembali,” katanya.

Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua atau AlDP, Latifa Anum Siregar mengatakan, buku tentang Thom Beanal itu sangat kaya karena melibatkan banyak penulis, dan melihat sosok Thom Beanal dari berbagai sudut pandang.

Peran Thom Beanal sebagai guru, aktivis LSM (lembaga swadaya masyarakat), dan tokoh adat yang menyatu dalam satu pribadi, sehingga pemikiran dan perjuangannya mampu menembus berbagai ruang.

Katanya, saat tokoh Papua, Theys Eluay dimakamkan, Thom Beanal menyampaikan bahwa kematian seperti itu bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari rangkaian kekerasan yang kerap terjadi di Tanah Papua.

Menurut Anum, pernyataan tersebut kini terasa semakin relevan, seiring meningkatnya konflik bersenjata dan korban sipil di berbagai wilayah.

“Kekerasan itu hadir di halaman rumah kita, di setiap sudut tempat kita berada. Ini bukan cerita indah, melainkan realitas yang pahit,” kata Anum Siregar.

Anum Siregar mengatakan, gagasan dialog yang pernah didorong oleh Thom Beanal dalam resolusi Kongres Papua 2000, juga mesti kembali ditekankan sebagai jalan damai yang tetap relevan hingga kini.

Ia mengingatkan, pesan-pesan perjuangan Thom Beanal harus dibaca, dipahami, dan dirajut kembali oleh generasi muda, sehingga menjadi kerja nyata serta konsolidasi bersama demi masa depan Papua. (Davine)

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!