Nabire, Kalawaibumiofi.com | Tokoh muda sekaligus Ketua DPW Partai Ummat Provinsi Papua Tengah, Oya Pigome menyampaikan dukungan dan apresiasi terhadap film dokumenter Pesta Babi (2026) yang mengangkat perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan.
Menurut Oya Pigome, film dokumenter tersebut berhasil menggambarkan penderitaan masyarakat adat, khususnya suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, yang ruang hidupnya terancam akibat eksploitasi skala besar dan proyek pembangunan yang berdampak terhadap lingkungan.
“Saya memuji film ini karena berhasil mengangkat potret perjuangan dan penderitaan masyarakat adat di Papua Selatan. Film dokumenter ini menjadi lampu kuning agar persoalan serupa tidak terjadi di wilayah Papua lainnya,” ujar Oya Pigome, Sabtu (23/5/2026).
Ia menilai film berdurasi sekitar 1,5 jam itu bukan hanya sekadar karya dokumenter, tetapi juga menjadi media edukasi penting untuk membangun kesadaran ekologis masyarakat terhadap dampak proyek food estate dan bentuk kolonialisme modern di Tanah Papua.
Menurutnya, isu lingkungan dan perlindungan hak masyarakat adat harus menjadi perhatian bersama, baik pemerintah, tokoh masyarakat, maupun generasi muda Papua. Ia berharap film tersebut mampu membuka ruang diskusi publik mengenai perlindungan hutan, tanah adat, serta keberlangsungan hidup masyarakat asli Papua.
Oya Pigome juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung karya-karya dokumenter yang menyuarakan kondisi sosial dan lingkungan di Papua agar menjadi bahan refleksi dan pendidikan bagi generasi mendatang.
Film dokumenter Pesta Babi (2026) mendapat perhatian publik karena menyoroti persoalan ekologis, konflik ruang hidup masyarakat adat, serta dampak pembangunan berskala besar di wilayah Papua Selatan. [*]

















