Nabire, Kalawaibumiofi | Uskup Keuskupan Amboina, Mgr. Seno Ngutra, mengingatkan para imam agar tetap setia pada panggilan imamat, termasuk ketika menghadapi persoalan pribadi, keterpurukan, kesepian, dan tantangan dalam pelayanan.
“Dalam keadaan terpuruk atau kejatuhan, jangan pernah memutuskan untuk meninggalkan imamatmu,” kata Seno dalam homili Misa Syukur 25 Tahun Tahbisan Imamat di Gereja Hati Kudus Yesus Ohoi Waur, Kecamatan Elat, Kabupaten Maluku Tenggara, Selasa (6/10/2026).
Misa syukur tersebut dirayakan untuk memperingati 25 tahun tahbisan imamat Mgr. Seno Ngutra, RD. Kornelis Seralarat, dan RD. Agustinus Arbol.
Dalam homilinya, Mgr Seno mengatakan kesetiaan menjalani panggilan imamat bukan semata-mata hasil kemampuan, kehebatan, atau kesalehan pribadi. Menurut dia, penyertaan Yesus Kristus menjadi kekuatan utama bagi para imam untuk bertahan dalam perjalanan panggilan mereka.
“Bukan karena pintarnya kami, bukan karena hebatnya kami, bukan juga karena sangat sucinya kami. Pribadi yang luar biasa dalam rentang 25 tahun ini, bahkan sampai selamanya, adalah Yesus itu sendiri,” ujarnya.
Mgr Seno mengungkapkan, Kristus tidak hanya memanggil dan memilih seseorang menjadi imam, tetapi juga memberikan kekuatan ketika seorang imam jatuh serta penghiburan saat menghadapi kesepian dan kesendirian.
Karena itu, Seno mengajak para imam untuk tidak mengambil keputusan meninggalkan imamat hanya karena sedang menghadapi persoalan atau mengalami kegagalan dalam pelayanan.
“Pentingnya ketekunan, refleksi diri, dan pembaruan komitmen terhadap panggilan yang telah diterima,” ungkapnya.
Ekaristi dan keteladanan imam
Ia menegaskan, Ekaristi Kudus harus menjadi pusat kehidupan seorang imam. Kedekatan dengan Kristus, menurut dia, menjadi dasar bagi para imam dalam menjalankan pelayanan kepada umat.
“Bahwa kesaksian seorang imam tidak hanya terlihat ketika memimpin perayaan Ekaristi atau menyampaikan khotbah, tetapi juga melalui sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Umat, katanya, seharusnya dapat merasakan kasih Kristus melalui cara imam berbicara, memperlakukan sesama, serta mendampingi orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Menurut Seno, pelayanan gerejawi tidak cukup berhenti pada pelaksanaan ritual keagamaan. Para imam juga perlu menunjukkan kasih, kesabaran, dan kerendahan hati agar kehadiran mereka sungguh memberikan penguatan rohani bagi umat.
“Hendaknya para imam untuk terus melakukan refleksi dan pertobatan. Dengan demikian, pelayanan dan perayaan Ekaristi dapat menjadi ruang bagi umat untuk mengalami kasih Tuhan, bukan justru merasa takut atau kehilangan sukacita akibat sikap pelayan Gereja,” tuturnya.
Imam diminta hadir di tengah umat yang menderita
Selain menekankan kesetiaan terhadap panggilan imamat, Mgr. Seno mengingatkan para imam agar hadir di tengah umat yang mengalami penderitaan dan kesulitan hidup.
Mengutip dari laman @YouTube Komsos Keuskupan Amboina, Mgr Seno menyoroti pentingnya perhatian terhadap keluarga yang sedang menghadapi sakit, orang-orang yang mengalami persoalan, serta mereka yang kesepian dan membutuhkan pendampingan.
“Kehadiran imam di tengah situasi tersebut merupakan bagian dari panggilan untuk menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Mgr. Seno juga mengajak para imam agar tidak membatasi pelayanan hanya pada kegiatan di dalam gereja. Kunjungan kepada umat, pendampingan pastoral, dan perhatian terhadap mereka yang sedang mengalami kesulitan merupakan bagian penting dari pelayanan seorang imam.
Pesan tersebut menegaskan bahwa panggilan imamat tidak hanya berkaitan dengan tugas liturgis, tetapi juga dengan kesediaan untuk berjalan bersama umat, terutama mereka yang sedang mengalami penderitaan dan membutuhkan penguatan.
Menutup homilinya, Seno kembali mengingatkan para imam agar tidak melupakan identitas dan tanggung jawab panggilan mereka sebagai pelayan Kristus.
“Ingatlah, kita adalah imam Kristus sampai selamanya,” pungkasnya. [*]












