Jayapura, Kalawaibumiofi.com | Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Papua merangkum data kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Tanah Papua periode 2023-2026. Data 2026, mencatat ada lebih dari 3.000 titik panas (hotspot) di Tanah Papua.
WALHI Papua menyatakan, lebih dari 3.000 hotspot (titik panas) di seluruh wilayah Tanah Papua per Agustus 2026, dengan peningkatan signifikan di Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah
WALHI Papua mencatat ada 564 titik panas tersebar di Papua Barat, Papua Selatan, dan Papua Tengah yang mencakup 10 kabupaten/kota termasuk Mappi, Merauke, Panial, Asmat, Nabire, Dogiyai, Fakfak, Sorong Selatan, Boven Digoel, dan Kota Jayapura pada 1-13 Agustus 2023, dan 512 titik panas terdeteksi di Papua Tengah periode 23 Agustus 2026.
“Luas area yang terbakar di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan karhutla sejak 18 Agus-23 Agustus 2026, sekira 116,13 hektare lahan, dan berdampak pada suku Yei dan marga Kwipalo,” tulis WALHI Papua dalam siaran persnya, Sabtu (29/08/2026).
Di Nabire, Provinsi Papua Tengah, karhutla yang terjadi sejak 18 Juli-23 Agustus 2026, membakar sekira 396,13 hektare lahan di tujuh distrik yakni Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur, yang berdampak pada empat kepala keluarga.
Data overlay titik api dengan peta konsesi di Provinsi Papua Selatan pada 1-9 Juli 2026, menunjukkan konsentrasi dari 1.292 titik api sedikitnya 245 hotspot di kawasan Food Estate, 115 hotspot di konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), dan 39 hotspot di konsesi perkebunan sawit. Hampir sepertiga total titik berada di area PSN/konsesi.
Untuk KHG (Kesatuan Hidrologis Gambut), KHG Sungai Ifuleki Bian-Sungai Dalik di Papua Selatan menjadi KHG yang wilayahnya hampir terbakar seluruhnya.
“Secara umum, Papua Selatan memiliki 547.068,89 hektare wilayah KHG berkerentanan karhutla kelas tinggi.”
WALHI Papua menyatakan, pola Karhutla ini bersifat berulang dan terstruktur, bukan kejadian acak. Tren kenaikan kasus karhutla terjadi secara konstan sejak Juli 2023, khususnya di wilayah yang memiliki ekosistem gambut di Tanah Papua.
Katanya, pola titik api di kawasan PSN dan konsesi Provinsi Papua Selatan mengulang pola yang sebelumnya. Tanah Papua kini dinilai mengikuti jejak episentrum kebakaran yang lebih dulu terjadi di pulau lain saat lahan gambut/hutan dibuka untuk proyek skala besar.
Menurut WALHI Papua, secara historis, kegagalan proyek food estate berulang tanpa membuat jera dimulai dari Proyek Lahan Gambut sejuta hektare era Soeharto (1995) yang berujung karhutla besar setelah sawah gagal dicetak.
Kemudian poyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) era SBY yang juga menyisakan kerusakan hutan di Papua, dan kini dilanjutkan serta diperluas.
Ancaman diperkirakan berlanjut karena musim kering di Papua Selatan baru dimulai Juni/Juli dan berlangsung hingga awal Desember 2026, dengan PSN pangan-energi seluas 2,32 juta hektare yang telah membuka sekitar 40 ribu hektare hutan alam per awal Juli 2026.
WALHI Papua menyebut, kebakaran di Tanah Papua kini terkonsentrasi di Provinsi Papua Selatan (terkait ekspansi PSN food estate Merauke) dan Provinsi Papua Tengah (Kabupaten Nabire) karena kekeringan ekstrem.
Dengan pola berulang setiap musim kemarau yang tumpang tindih dengan wilayah konsesi (food estate, PBPH, sawit) dan kawasan gambut (KHG) berkerentanan tinggi. (Davine)











