Matahari mulai condong ke barat, namun belum terlalu sore, kira-kira pukul 14.30 WIB ketika saya tiba di kediaman Zacharias Petege di Kelurahan Bumi Wonorejo, Nabire. Alamat ini tidak sulit dicari berkat arahan putranya, Zakheus Petege. Di depan rumah sederhana berukuran 6 X 8 meter itu, beberapa anak sedang asyik bermain layang-layang di bawah terik cuaca khas Nabire yang sedang dilanda kemarau panjang.
Zakeus segera masuk ke dalam rumah untuk menjemput kedua orang tuanya. Tidak lama kemudian, kami duduk berjejer di teras kecil yang menghadap ke halaman yang ditanami pohon cabai, sayuran keladi bete, dan bayam. Tanaman-tanaman itu terlihat agak kering dan layu karena teriknya panas matahari. Tanaman di halaman rumah ini barangkali menunjukan sang guru dan istrinya yang suka bercocok tanam sejak muda.
Percakapan pun mengalir hangat, mengupas satu per satu lembar kisah hidup sosok yang selama puluhan tahun dipanggil penuh hormat oleh ribuan warga “Pak Guru Zacharias Petege”.
Zacharias Petege tampak seperti seorang pensiunan guru biasa, tapi ia amat sangat sederhana dan tidak tampak berlebihan sedikit pun. Namun di balik kesederhanaan yang menyelimuti dirinya, tersimpan kisah pengabdian yang mendalam dan layak dicatat dalam sejarah peradaban masyarakat di wilayah Meepago.
Banyak tokoh yang namanya tercatat dalam buku sejarah, namun tak sedikit pula orang-orang besar yang jasanya terlupakan hanya karena tidak terekam secara tertulis. Tulisan ini hadir bukan sekadar untuk menuliskan nama beliau, melainkan mengangkat nilai-nilai keteladanan yang mungkin akan hilang ditelan zaman jika tidak segera dikisahkan kembali kepada generasi muda.
Tulisan ini sedikit menguak sepotong sejarah perubahan sosial masyarakat dari Suku Mee yang belum banyak terekam secara resmi, sejak dunia luar mulai menyentuh wilayah ini pada tahun 1930-an hingga bagaimana perubahan itu terjadi. Siapa aktor utamanya dan bagaimana masyarakat lokal menyambut kehadiran ilmu pengetahuan yang dibawa oleh sosok seperti Zacharias Petege.
Zacharias Petege mulai mengabdikan hidupnya sebagai guru pada tahun 1969. Beliau terus mengabdi tanpa henti hingga memasuki masa pensiun pada tahun 2007. Selama lebih dari tiga dasawarsa melayani, beliau tidak hanya bertugas sebagai pengajar di ruang kelas, namun juga dipercaya memegang tanggung jawab penting sebagai Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Kecamatan Aradide, Kabupaten Paniai. Juga wilayah Kecamatan Kamuu, Mapia (Sekarang Kabupaten Dogiyai), Paniai (Kabupaten Paniai) dan Sugapa (Kabupaten Intan Jaya). Wilayah-wilayah ini pada masa itu masih masuk dalam wilayah Kabupaten Dati II Paniai Lalu Kabupaten Nabire. Kini menjadi bagian dari Kabupaten Dogiyai.
Pada masa itu, jabatan Kepala Kantor akrab disapa “Kandep” memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan dihormati di mata masyarakat. Saat itu seluruh wilayah Papua masih bernama Irian Jaya dan hanya terbagi menjadi tujuh kabupaten saja, sehingga orang yang dipercaya memegang jabatan setingkat itu jumlahnya sangat terbatas.
Zakharias lahir di Kampung Timepa, kawasan pegunungan Mapia, sebagai anak kedua dalam keluarga besar pasangan Tenagai Petege dan Uwigaiwedai Butu atau yang bernama baptis Lusia. Dalam kependudukan atau ijazah, tahun kelahirannya tertulis pada tahun 1947, namun tidak tercatat tanggalnya. Tapi ingatannya sesuai yang diceritakan ayahnya ia lahir lebih awal, yaitu sekitar tahun 1937 tepatnya tanggal 25 desember.
“Saya lahir tanggal 25 Desember tahun 1937, tapi di akte tahun 1947,” kata Zacharias siang itu.
Kampung Timepa adalah jantung sekaligus sumber kekuatan bagi seluruh hidup Zacharias Petege. Wilayah itu merupakan bagian dari tanah leluhur suku Mee yang disebut Meeuwodide, yang kini secara administratif tersebar di empat kabupaten berbeda: Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Dulu, untuk mencapai pemukiman lain dari Kampung Timepa, warga harus berjalan kaki selama satu hari penuh menembus lereng bukit yang curam dan menyeberangi sungai yang berarus deras hingga tiba di pusat kecamatan Bomomani. Meski kini jalan raya sudah tembus hingga ke depan rumahnya, ikatan batin Zacharias dan seluruh warga terhadap kampung halaman tetap terjalin sangat erat dan tak akan pernah putus.
Setelah pensiun dari tugas negara, Zacharias tidak memilih menetap di kota besar dengan segala kemudahannya, melainkan kembali ke Kampung Timepa bersama istrinya tercinta, Rosina Tebay. Mereka membangun rumah kayu beratap seng yang cukup layak untuk ukuran setempat, dilengkapi panel surya buatan sendiri untuk penerangan, halaman yang dipagari rapi, serta ditanami berbagai tanaman mulai dari buah merah, pisang, tebu, hingga bunga-bunga indah yang beliau rawat dengan penuh kasih sayang setiap hari.
Kehidupan mereka berdua sangatlah sederhana namun penuh makna dan keberkahan. Setiap pagi buta, Rosina masih rutin berjalan kaki menuju kebun dan baru pulang saat matahari mulai terbenam di ufuk barat.
“Kami siapkan makanan pagi-pagi sekali, lalu berangkat ke kebun dan pulang saat hari mulai gelap. Hasil yang kami dapat sangat melimpah: ubi jalar, keladi, kacang tanah, sayuran segar, hingga tebu yang manis. Sebagian hasil panen itu kami bagi-bagikan kepada pendeta, guru-guru yang bertugas di kampung ini, serta anak-anak yatim piatu yang membutuhkan bantuan di sekitar kami,” ujar Rosina Tebay dengan suara lembut namun tegas saat menceritakan keseharian mereka.
Dulu saat masih muda dan kuat, mereka berdua memelihara berbagai jenis hewan ternak mulai dari babi, kambing, sapi, domba, hingga kelinci. Kini karena usia yang sudah senja dan tenaga yang mulai berkurang, mereka cukup memelihara ayam dan bebek saja untuk kebutuhan sehari-hari. Pengabdian Zacharias sempat memisahkan mereka sekian lama.
Selama sekitar lima belas tahun, beliau harus berpisah jauh dari keluarga saat bertugas di Moanemani dan hanya bisa pulang sebentar saat hari raya tiba. Namun beliau telah menyiapkan segala kebutuhan keluarga jauh sebelumnya dengan kebun yang subur dan ternak yang terawat dengan baik, sehingga istri dan anak-anaknya tetap tercukupi kebutuhan hidupnya meski beliau berada jauh dari sisi mereka.
Putra kedua mereka, Zakheus Petege, melengkapi cerita itu: “Kami memiliki kebun yang sangat luas dan subur di sekitar kampung. Dulu segala kebutuhan hidup kami tersedia dari sana. Hidup kami tidak pernah merasa kekurangan meski tinggal jauh di pedalaman, karena semuanya berasal dari hasil kerja keras dan persiapan matang yang dilakukan oleh Bapak dan Ibu kami.”
Di masa mudanya, Zacharias Petege pernah mendapatkan tawaran besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi hingga ke Belanda maupun Australia. Namun dengan tegas dan penuh keyakinan beliau menolak tawaran tersebut dan memilih kembali pulang ke tanah kelahirannya. Bagi beliau, cita-cita yang jauh lebih besar dan mulia adalah melihat anak-anak di kampungnya tumbuh menjadi manusia yang berilmu pengetahuan, berbudi luhur, dan mampu memajukan tanah leluhur mereka sendiri.
Kini di usia yang menginjak hampir sembilan puluh tahun, pendengaran beliau memang mulai berkurang, namun ingatan beliau masih sangat tajam dan jelas. Beliau masih ingat betul nama-nama orang yang pernah bekerja sama membangun pendidikan di wilayah ini, termasuk almarhum Eusebius Borlak, serta masa-masa di mana perjalanan dari Kampung Timepa hingga ke Kota Nabire hanya bisa ditempuh melalui pesawat milik Penerbangan Katolik Associated Mission Aviation (AMA)
Langkah Awal Sang Guru Perintis Tanah Mee
Di tengah pandangan masyarakat saat itu yang menganggap laki-laki sebaiknya tetap menjaga dusun dan meneruskan keturunan. Namun berbeda dengan ayah Zacharias, ia lebih memilih anaknya melanjutkan sekolah. Singkat cerita, Zacharias lalu bersama beberapa rekannya berangkat ke Kokonao (Timika) untuk melanjutkan sekolah di sana).
Ada tiga alasan kuat yang membuat Zacharias bersekolah jauh ke Kokonao. Pertama, ingin melanjutkan jejak pengabdian leluhur. Kedua, mewujudkan pesan orang tua agar pulang membawa manfaat bagi sesama. Dan Ketiga, menepati janji dalam mimpinya sejak usia delapan tahun suara yang memintanya kelak memilih menjadi guru dan kembali mencerdaskan anak bangsanya.
Akan tetapi, rencana ke Kokonao tidaklah mulus. Pada tahun 1955 ia sempat gagal berangkat karena ramalan orang pintar yang menyebut ada tanda buruk. Namun tahun berikutnya, ia memohon izin kepada orang tuanya untuk tidak lagi mendengar ramalan itu dan akhirnya berangkat secara resmi pada tahun 1956 bersama 15 anak lainnya.
Perjalanan dari Timepa ke Kokonao ditempuh berjalan kaki selama sebelas hari sepuluh malam, menembus hutan lebat dan pegunungan terjal hingga kakinya bengkak, namun semangatnya tak pernah padam.
“Rencana pertama gagal karena kami dengan orang pintar (peramal). Tetapi saya sudah niat maka tahun berikut langsung berangkat. Kami diperjalanan satu minggu lebih naik turun gunung. Dan itu sangat cepat, tetapi demi cita-cita maka harus tembus ke Kokonao,” kisahnya.
Selama enam tahun bersekolah di Kokonao, ia belajar dengan tekun hingga lancar berbahasa Belanda dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan. Ketika lulus pada tahun 1962, kesempatan emas datang berturut-turut, Ia ditawari melanjutkan studi ke Belanda, belajar Meteorologi dan Geofisika di Australia, serta masuk Sekolah Pemerintahan di Jayapura—semua biaya ditanggung penuh. Namun ketiga tawaran besar itu ia tolak dengan tegas.
Pilihannya sederhana namun mulia, yaitu ingin menjadikan anak-anak di Kampungnya berpendidikan tinggi.
“Jadi saya mau masuk Sekolah Guru. Karena mimpi saya adalah 10 atau 20 tahun lagi banyak sarjana, dari kampung saya,” jawab Zacharias penuh semangat.
Sekolah Guru
Awal tahun 1963, Zacharias bersama 30 anak lainnya diberangkatkan dari Kokonao ke Nabire untuk melanjutkan pendidikan di Opleiding Dorps Onderwijzer (ODO).
“Karena saya sudah memilih sekolah guru, maka dari Kokonao saya dikirim ke Nabire. Saya masuk di sekolah guru, ODO di Nabire, kota lama,” katanya.
Menjelang penyerahan kekuasaan kepada Indonesia tahun 1961, Papua dibagi menjadi enam Afdeling, 83 Onder Afdeling, 83 distrik, 2.087 dorp, dan lima wilayah eksplorasi. Pada masa itu, Paniai memiliki dua Onder Afdeling, yaitu Wisselmeren dan Tigi. Onder Afdeling Wisselmeren meliputi Distrik Paniai Timur, Paniai Barat, dan Aradide, sedangkan Onder Afdeling Tigi meliputi Distrik Tigi, Kamu, dan Teluk Sarera di Nabire.
Pusat pemerintahan Distrik Teluk Sarera berada di Kota Lama Nabire. Pada tahun 1961, para misionaris memindahkan sekolah ODO dari Fakfak ke Teluk Sarera, Nabire. Sebelumnya, anak-anak yang tamat dari Pupalo School di Kokonao dikirim ke ODO di Fakfak. Setelah ODO dipindahkan ke Nabire, Zacharias bersama 30 anak lainnya diberangkatkan dari Kokonao ke Nabire pada tahun 1963. Saat itu ODO berganti nama menjadi Sekolah Guru Bawah (SGB), namun proses pembelajarannya masih menggunakan bahasa Belanda.
Di SGB Nabire, Zacharias dipercaya menjadi ketua asrama. Pada tahun yang sama (1963), dibuka pula Sekolah Guru Atas (SGA) di Biak. SGA merupakan sekolah setingkat SMA yang khusus mendidik calon guru. Lulusan SGB Nabire melanjutkan pendidikan ke SGA Biak. Pada tahun 1964, SGA berganti nama menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau dikenal sebagai SPG Taruna Bakti (Jayapura).
Selama dua tahun (1963–1964), Zacharias belajar di SGB Nabire dan lulus pada tahun 1964. Tahun 1965 ia berangkat ke Biak untuk melanjutkan pendidikan di SPG.
“Di sana kami tinggal di asrama dan saya ditunjuk lagi menjadi ketua asrama. Waktu itu saya memimpin 216 orang gabungan dari SGB dan SGA/SPG,” katanya.
Ketika Zacharias bersekolah di SPG Biak, terjadi peristiwa pemberontakan Tentara Pembebasan Nasional–Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) di bawah pimpinan Permenas Awom pada 28 Juli 1965 di Arfai, Manokwari. Penyerangan terhadap markas Tentara Indonesia tersebut dilakukan sebagai bentuk protes atas peralihan Papua kepada Indonesia yang terjadi pada 1 Mei 1963. Akibatnya, operasi militer dilakukan di berbagai wilayah Papua, termasuk Biak.
Dalam situasi politik yang tidak kondusif pada tahun 1965, Zacharias dan teman-temannya hampir ditembak oleh Tentara Indonesia karena dikira anggota OPM.
“Waktu itu saya dan teman-teman hampir ditembak karena dikira anggota OPM. Kami pergi belajar di hutan. Tiba-tiba ada bunyi tembakan dan kami lari menyembunyikan diri. Tetapi, ketahuan dan kami dianggap OPM dan mau dibunuh. Untungnya, kebetulan saya kenal salah satu Tentara Indonesia sehingga kami tidak dibunuh. Mereka hanya memukul kami dan menasihati agar pulang ke asrama,” kenang Zacharias.
Tiga tahun kemudian, pada tahun 1968, Zacharias menyelesaikan pendidikan di SPG Biak dengan daftar induk 049. Setelah lulus, ia kembali ke Pegunungan Mapia dan ditugaskan menjadi guru kelas di SD YPPK Dihoudimi Mapia.
“Saya kembali ke Pegunungan Mapia dan ditugaskan menjadi guru kelas di SD YPPK Dihoudimi Mapia,” katanya.

Pendamping Zacharias, Rosina Tebay
Dalam mendidik puluhan orang yang kini sudah memiliki banyak gelar, Zacharias tidak sendiri. Namun dibalik keberhasilannya, terdapat seorang perempuan tangguh yang dengan kesabaran sebagai seorang ibu yang mendampinginya hingga di usia senja mereka. Dia adalah Rosina Tebay, ibu dari delapan anak mereka. Bagi Rosina, menjadi pendamping suaminya yang berprofesi sebagai guru tidaklah mudah, namun ia selalu menikmati kesehariannya.
Sebagai guru kala itu, Zacharis tidak menetap di satu kampung melainkan harus berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya. Selain Kampung Timepa, sang guru pernah bertugas di Kampung-kampung sekitarnya, 15 tahun lamanya, sudah pasti akan jarang berada di rumah. Sehingga Rosina hanya ditemani anak-anak di Kampung Timepa.
“Pernah bapak tugas di sana hampir 15 tahun. Hanya balik beberapa kali, itupun kalau hari saya. Tapi tidak lama harus kembali lagi ke tempat tugas,” kata Rosina.
“Bapak bisa ke Paniai, bisa ke Sugapa dan tempat lain dengan berjalan kaki naik turun gunung,” tambahnya.
Menyadari tugas dan tanggungjawab suaminya, Rosina selalu ilsan dan rutin berdoa untuk keluarganya. Namun ia mengaku tidak menderita layaknya orang kampung yang serba kesulitan dalam hal menghidupi kedelapan anaknya.
“Kami tidak susah, karena semua ada di kebun. Ada ubi, jagung, wortel dan kol. Bukan hanya tanaman, tetapi kami juga pelihara babi, domba, itik hingga sapi. Jadi walaupun bapak di tempat tugas, kami tidak kelaparan,” terangnya.
Guru yang Mengajarkan Hidup Lewat Disiplin, Keteladanan dan Kerja Keras
Bagi Zacharias Petege, tugas seorang pendidik tidak berhenti di dalam ruang kelas. Ia adalah sosok yang mengajarkan melalui perbuatan nyata, sekaligus menjadi pemimpin keluarga yang kokoh dengan dukungan penuh istrinya, Rosina Tebay.
“Bapak tidak banyak bicara. Beliau bekerja dulu, baru kemudian mengajak orang lain mengikuti jejaknya,” ujar Zakheus Petege, anak kedua dari pasangan Zacharias Petege dan Rosina Tebay, saat menceritakan perjalanan hidup kedua orang tuanya.
Di tengah masyarakat yang saat itu masih membiarkan ternak berkeliaran bebas, Zacharias adalah orang pertama yang memberi contoh ternak dalam kandang. Ia juga membuka lahan tanam kopi seluas sekitar satu setengah hektar di dua lokasi berbeda, serta mengembangkan pertanian sayuran. Semua itu bukan semata-mata untuk kebutuhan keluarga, melainkan agar masyarakat melihat dan tergerak untuk maju bersama.
Selain menjadi pengajar, Zacharias juga menjadi rujukan utama warga untuk urusan administrasi, pendataan kependudukan, hingga membantu administrasi di penerbangan Misionaris Katolik Associated Mission Aviation (AMA), sebuah maskapai penerbangan perintis yang melayani misi kemanusiaan, keagamaan permasalahan sosial. Ia dikenal sangat menjunjung tinggi kedisiplinan tanpa kompromi dalam waktu dan tata tertib. Ia mengelola kelas persiapan bagi anak usia dini yang belum masuk SD, dan jika ada murid belum memahami pelajaran, ia tak segan mendatangi rumah mereka untuk membimbing secara langsung.
Sementara ayahnya sibuk mengurus administrasi sekolah dan kepentingan masyarakat, peran mendidik anak di rumah sepenuhnya diemban oleh Rosina Tebay.
“Saat lampu petromak dinyalakan (menjelang malam hari), Ibulah yang membimbing kami membaca, menulis, dan berhitung. Beliau sangat pandai berhitung meski pendidikannya terhenti ditengah jalan,” cerita Zakheus.
Ibu Rosina juga tekun mengelola kebun bawang bombay, wortel, kol, dan kacang tanah yang hasilnya bahkan dikirim hingga ke Nabire, menjadi sumber biaya pendidikan bagi kedelapan anak mereka. Ketika Zacharias mulai bertugas jauh sebagai Penilik Sekolah pada tahun 1984, Rosina sendirian menjaga dan mengurus semuanya di kampung.
Zakheus menjelaskan bahwa kehidupan keluarga mereka terasa cukup dan layak meski tinggal di pedalaman, karena ayahnya bekerja di lingkungan misi pendidikan sehingga kebutuhan beras dan gaji terkirim rutin setiap bulan.
“Bagi kami, hidup sederhana dengan persediaan makanan yang cukup adalah kebahagiaan tersendiri. Kami tidak pernah kekurangan pada saat itu,” ucapnya.
Satu kesan paling mendalam yang selalu diingatkan Zacharias kepada kedelapan anaknya adalah: “Jika ada satu saja di antara kalian yang tidak berhasil, ia akan menjadi beban seumur hidup bagi saudara-saudaranya. Maka kalian semua harus mandiri dan berpendidikan sempurna.”
Pesan itu terwujud nyata. Seluruh anak mereka mampu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang tinggi, meski saat merantau ke Jawa mereka hidup sangat sederhana dan diperlakukan layaknya anak sendiri oleh pemilik tempat tinggal. Hingga kini, di usia yang sudah lanjut,Zacharias dan Rosina tetap mandiri dan tidak ingin membebani anak-anaknya.
Satu kisah lain yang tak pernah dilupakan Zacharias adalah saat ayahnya mengajak mereka ke kebun yang terletak di atas sebuah bukit. Sesampainya di sana, ayahnya meminta anak-anak memandang ke sekeliling dan ke arah lembah. Setelah itu ia bertanya, “Bagaimana perasaan kalian berada di atas bukit ini?” Serentak anak-anak menjawab, “Sangat indah, Ayah! Kami merasa senang.”
Ayahnya kemudian menjelaskan: “Begitulah kiranya jika kalian bersekolah dengan rajin dan sungguh-sungguh. Kelak kalian akan menjadi orang besar dan pemimpin yang dapat melihat jauh ke depan.”
“Pesan itulah yang membuat kami delapan bersaudara terus bersemangat bersekolah. Dan puji Tuhan, kami semua berhasil menyelesaikan pendidikan hingga menjadi sarjana berkat disiplin serta didikan orang tua kami,” kisah Zakheus Petege.
Lewat kisah keluarga ini, tergambar jelas bahwa pengabdian Zacharias Petege bukan hanya mencerdaskan di atas kertas, melainkan menanamkan kemandirian dan persatuan agar tidak ada satu pun anak yang tertinggal.
Kisah panjang perjalanan hidup Zacharias Petege mengajarkan satu kebenaran sederhana namun sangat mendalam. Menjadi seorang pendidik sejati bukan sekadar mengajarkan cara membaca, menulis, dan berhitung, melainkan tugas mulia untuk memanusiakan manusia seutuhnya.
Ia telah membuktikan bahwa pengabdian yang tulus tidak pernah diukur dari tingginya jabatan atau banyaknya penghargaan yang diterima, melainkan dari kesetiaan hati untuk terus menanam benih harapan di tanah tempat kita berpijak dan dibesarkan. Warisan terbesar yang ditinggalkannya bukanlah gedung sekolah yang megah ataupun harta benda yang melimpah, melainkan ribuan manusia yang kini telah tumbuh menjadi pemimpin, guru, tenaga kesehatan, serta orang-orang berguna bagi sesama yang kelak akan meneruskan obor perjuangan membangun Tanah Papua dengan kasih dan ilmu yang beliau ajarkan selama puluhan tahun. [*]
Kisah ini belumlah lengkap, namun redaksi akan berupaya melengkapinya dengan menelusuri keterangan dari teman sejawat Zakarias, mantan murid, serta sumber-sumber lain yang mendukung penulisan ini.
(Bersambung,,,,,,,)


















