Nbire, Kalawaibumiofi.com | Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Papua Tengah menyelenggarakan Bimbingan Teknis bagi Tim Pendamping Keluarga (TPK). Bimtek tersebut berlangsung selama dua hari, yakni 12 – 13 Agustus 2026 di Hotel JDF Nabire, Rabu (13/8/2026).
Bimtek ini sebagai upaya konkret mendukung percepatan penurunan angka stunting di wilayah tersebut sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021. Diikuti oleh 33 orang peserta yang merupakan anggota Tim Pendamping Keluarga dari empat kabupaten di Papua Tengah, seperri Kabupaten Dogiyai, Kabupaten Deiyai, Kabupaten Paniai, dan Kabupaten Nabire. Para peserta terdiri dari unsur bidan, kader Tim Penggerak PKK, serta kader Keluarga Berencana. Narasumber dan fasilitator berasal dari BKKBN Provinsi Papua serta jajaran DP3AKB Provinsi Papua Tengah.
Asisten III Setda Provinsi Papua Tengah, Victor Vun, mewakili Gubernur Meki F. Nawipa, dalam arahannya, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada DP3AKB Provinsi Papua Tengah atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Tim Pendamping Keluarga memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan dan pelayanan kepada keluarga di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, para anggota TPK perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan menggunakan sistem dan aplikasi yang mendukung pelaksanaan tugas di lapangan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ada lima pesan utama yang disampaikan sebagai arahan kepada seluruh peserta, Yakni ;
Pertama, ikuti seluruh rangkaian bimbingan teknis dengan serius. Gunakan kesempatan ini untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas sebagai tim pendamping keluarga.
Kedua, tingkatkan kualitas pendampingan kepada keluarga. Tim pendamping keluarga harus mampu memberikan informasi dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta melaksanakan tugas secara bertanggung jawab.
Ketiga, pastikan data yang dihimpun dan dilaporkan akurat. Data merupakan dasar dalam menentukan kebijakan dan pelaksanaan program. Karena itu, proses verifikasi, pembaharuan, dan pelaporan data harus dilakukan sebaik mungkin.
Keempat, manfaatkan aplikasi dan sistem informasi yang telah disediakan. Penggunaan SILIKA dan SIGA Mobile harus mendukung pelayanan pendataan dan pelaporan yang lebih efektif.
Dan kelima, tingkatkan koordinasi antara Tim Pendamping Keluarga, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan pihak terkait lainnya. Pelaksanaan program di lapangan membutuhkan kerja sama agar pelayanan kepada keluarga dapat berjalan dengan baik.
Melalui bimbingan teknis ini Gubernur Gubernur, peserta memperoleh penguatan mengenai Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), penguatan lini lapangan Program Percepatan Penurunan Stunting, serta penguasaan aplikasi SIRIKA dan SIGA Mobile guna memverifikasi dan eliminasi data. Materi tersebut perlu dipahami dan diterapkan dengan baik agar pelayanan kepada masyarakat dapat dilaksanakan secara tepat, tertib, dan didukung oleh data yang akurat.
“Kami berharap agar agar setelah mengikuti kegiatan, ini dapat menerapkan materi yang diperoleh dalam pelaksanaan tugas masing-masing. Guna meningkatkan kualitas pelayanan kepada keluarga di seluruh Provinsi Papua Tengah. Manfaatkan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya dan ikuti sampai selesai,” harap Victor Vun.
Sementara itu, Meki Yawame, S.Sos., selaku Ketua Panitia Pelaksana menjelaskan, TPK memiliki peran strategis dalam melakukan pendampingan kepada keluarga berisiko stunting, mulai dari masa sebelum hamil, masa kehamilan, pasca persalinan, hingga anak berusia lima tahun.
“Oleh karena itu, peningkatan kapasitas TPK melalui kegiatan ini menjadi sangat penting agar pendampingan yang dilakukan dapat berjalan secara optimal dan sesuai standar,” ungkap Meki.
Materi yang disampaikan meliputi kebijakan percepatan penurunan stunting, mekanisme kerja Tim Pendamping Keluarga, teknik pendampingan keluarga berisiko stunting, serta penguasaan aplikasi SIRIKA dan SIGA Mobile untuk verifikasi dan pemutakhiran data.
“Tujuan kegiatan adalah meningkatkan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan TPK, menyamakan persepsi serta standar pelayanan di lapangan, dan pada akhirnya mendukung penurunan angka stunting di Papua Tengah secara berkelanjutan,” pungkasnya. [*]













