Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Opini

Cara Christopher Melawan Kehidupan Modern dalam Film Into The Wild

27
×

Cara Christopher Melawan Kehidupan Modern dalam Film Into The Wild

Sebarkan artikel ini
Film Into The Wild
Example 468x60

“Uang dan kekuatan adalah ilusi. Itu ada di sini.” — Christopher Johnson McCandless

Christopher Johnson McCandless adalah lulusan Universitas Emory dengan predikat cum laude pada tahun 1990. Ia cerdas dan berasal dari keluarga berada. Namun, setelah wisuda, ia justru mengambil keputusan yang tak biasa: menyumbangkan seluruh tabungannya sebesar US$ 24.500,68 ke panti asuhan. Sisa uang sekitar US$ 500 ia bakar bersama kartu identitas dan jejak sosialnya.

Example 300x600

Keputusan itu menjadi simbol putusnya ia dari kehidupan modern. Ia meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan kota untuk menuju alam liar Alaska, Amerika Utara. Tanpa bekal makanan yang cukup, tanpa rencana, dan tanpa keinginan kembali pada sistem yang dianggap palsu.

Sebagai hadiah kelulusan, kedua orang tuanya ingin membelikannya mobil dan memberinya uang. Namun Christopher menolak. Baginya, mobil dan uang bukanlah makna hidup. Di saat Amerika Serikat dan Eropa pada tahun 1990 tengah berada dalam arus modernisasi, di mana orang berlomba mengejar kekuasaan dan kekayaan, Christopher memilih arah yang berlawanan.

Ia merasa muak pada kehidupan abad ke-20 yang menurutnya penuh kemunafikan, orang tua yang hipokrit, politisi yang mengendalikan masyarakat melalui relasi kekuasaan dan uang, serta sistem sosial yang membentuk manusia menjadi kompetitif dan serakah.

Perjalanan pelarian Christopher dari peradaban modern itu kemudian ditulis oleh Jon Krakauer dalam buku Into The Wild, yang pertama kali dimuat di majalah Outside edisi Januari 1993. Pada tahun 2007, Sean Penn mengadaptasinya menjadi film biografi berjudul sama, Into The Wild.

Awalnya saya mengira film ini hanyalah kisah petualangan biasa, menyusuri alam luas lalu kembali pulang. Ternyata tidak. Film ini adalah kisah tentang seseorang yang benar-benar pergi selamanya dari rumah dan kota, karena merasa pikirannya dipenjara oleh nilai-nilai modern: politik dan uang yang palsu.

Dalam perjalanannya menuju Alaska, Christopher mengganti namanya menjadi Alexander Supertramp. Orang-orang yang ditemuinya mengenalnya sebagai Alex. Ia hidup dengan menumpang kendaraan orang asing, pejalan kaki , dan menolak kepemilikan materi. Ia bertemu pasangan hippie Rainey dan Jan, juga seorang pengusaha bernama Wayne Westerberg.

Ketika Wayne bertanya mengapa ia ingin ke Alaska, Alex menjawab bahwa ia hanya ingin berada di sana, di pegunungan besar, sungai, langit terbuka, dan alam liar. Ia ingin hidup sepenuhnya di tempat dan waktu yang nyata. Ia bahkan berharap suatu hari dapat menulis buku tentang pelariannya dari “peradaban yang gila.”

Baginya, yang tak dapat ia pahami adalah mengapa manusia sering bersikap buruk terhadap sesamanya. Keputusan, kontrol, dan politik, semuanya terasa tidak masuk akal baginya.

Sebelum mencapai Alaska, Alex bertemu Ron Franz, seorang pensiunan tentara yang kesepian. Dari Ron, ia belajar menggunakan senapan dan bertahan hidup di alam liar. Hubungan mereka hangat, hampir seperti kakek dan cucu. Namun, Alex tetap memilih pergi.

Di pedalaman Alaska, ia menemukan tempat tinggal berupa bangkai mini bus yang kemudian dikenal sebagai Magic Bus 142. Bus itu menjadi saksi perjalanan terakhirnya, dan kini dikenal sebagai simbol tragis pencarian kebebasan.

Film berdurasi 148 menit ini minim dialog dan lebih banyak menggunakan narasi dari adik Alex, Carine McCandless. Alurnya flashback, filosofis, dan terkadang membingungkan. Namun ketegangannya terasa nyata, terutama ketika keluarga Alex cemas dan menyewa detektif untuk mencarinya.

Saya ikut merasakan ketegangan saat Alex hampir hanyut di Sungai Teklanika dan ketika tubuhnya mulai melemah karena kekurangan makanan.

Dalam percakapannya dengan Ron Franz, Ron bertanya mengapa Alex tidak memilih jalan hidup yang “normal”,  kuliah, bekerja, dan membangun karier. Alex menjawab bahwa karier adalah penemuan abad ke-20 dan ia tak menginginkannya. Ia hidup seperti itu karena pilihan sadar, bukan karena kemiskinan.

Namun alam liar tidak tunduk pada idealisme. Saat persediaan makanan menipis, Alex mencoba bertahan dengan memakan tumbuhan liar berdasarkan buku panduan yang ia bawa. Tanpa ia sadari, tumbuhan yang ia konsumsi mengandung racun. Tubuhnya melemah, lumpuh, dan ia tak lagi mampu berjalan keluar dari alam liar Alaska.

Saya sempat berharap ia akan diselamatkan. Namun harapan itu tidak terjadi. Christopher Johnson McCandless ditemukan tak bernyawa di dalam Magic Bus 142. Di samping tubuhnya terdapat sembilan buku, senapan Remington, pakaian, dan peralatan masak. Wajahnya menghadap sinar matahari yang masuk melalui jendela bus.

Pada secarik kertas, ia menulis pesan terakhir:

“S.O.S. Saya membutuhkan pertolongan Anda. Saya terluka, hampir mati, dan terlalu lemah untuk berjalan keluar dari tempat ini. Saya sendiri. Ini bukan main-main. Demi Tuhan, tetaplah tinggal dan selamatkan saya.”

(Film Into The Wald ini diangkat dari kisah nyata, untuk lebih lengkapnya kalian bisa nonton langsung filmnya. Semoga terhibur dan menambah wawasan, selamat menikmati). [*]

*Nomen Douw. Februari 2026.

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!