Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Cerpen

Cinta Yang Dibatasi Oleh Keyakinan Yang Berbeda

2
×

Cinta Yang Dibatasi Oleh Keyakinan Yang Berbeda

Sebarkan artikel ini

*oleh Alberto Mansawan

Binar keemasan matahari pesisir Saireri memantul lembut di atas pasir putih Kampung Moor. Sebuah dermaga kayu tua membentang ke laut, seolah menantang riak ombak Teluk Cenderawasih yang tak pernah lelah menyapa pantai.

Di kampung itulah Bastian, pemuda asal Biak yang sehari-hari menggantungkan hidupnya sebagai nelayan, sering menghabiskan waktu menjelang senja bersama Rinjani. Gadis berdarah Moor-Jawa itu merupakan putri seorang kepala suku asli Pulau Moor yang menikah dengan perempuan keturunan Jawa.

Hubungan mereka tumbuh perlahan, seiring deburan ombak dan angin laut yang setia membelai pesisir. Tidak ada yang terasa rumit ketika mereka berbagi cerita, tertawa bersama, atau duduk berdampingan menyaksikan matahari tenggelam di balik cakrawala. Bagi keduanya, cinta terasa sederhana. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa perbedaan yang selama ini seolah tak berarti kelak menjadi penghalang terbesar dalam perjalanan hubungan mereka.

Bagi masyarakat pesisir Saireri, adat, kekerabatan, dan keyakinan merupakan bagian penting dari kehidupan. Semuanya diwariskan dari generasi ke generasi, membentuk identitas sekaligus menentukan banyak pilihan hidup. Selama hubungan Bastian dan Rinjani masih sebatas pertemanan, perbedaan itu tidak terlalu terasa. Namun, ketika cinta mereka mulai tumbuh menjadi keinginan untuk membangun masa depan bersama, persoalan keyakinan perlahan muncul ke permukaan.

Malam itu, suasana di beranda rumah panggung beratap rumbia milik keluarga Rinjani terasa lebih sunyi daripada biasanya. Angin laut bertiup pelan, sementara suara ombak yang biasanya menenangkan justru terdengar seperti bisikan yang mengusik hati.

“Bastian, kita hidup di tengah masyarakat yang menjunjung tinggi adat dan keyakinan masing-masing,” ucap Rinjani lirih. Jemarinya menggenggam secangkir teh hangat yang mengepulkan uap tipis. Tatapannya tertuju pada nyala lampu yang bergoyang diterpa angin.

“Keluargaku memiliki harapan sendiri untuk masa depanku. Ayah, keluarga besar, dan orang-orang yang menjadi panutan dalam kehidupan rohaniku tentu menginginkan aku tetap berjalan sesuai keyakinan yang selama ini kupegang. Begitu juga dengan keluargamu di Biak. Mereka pasti memiliki harapan yang sama terhadapmu.”

Bastian terdiam. Ia menatap wajah perempuan yang dicintainya itu, mencoba menemukan secercah harapan di balik mata Rinjani yang mulai berkaca-kaca.

“Lalu, bagaimana dengan kita, Rin?” tanyanya pelan. “Apakah semua yang sudah kita lalui harus berakhir hanya karena kita memiliki keyakinan yang berbeda?”

Rinjani menunduk. Ia tidak segera menjawab. Ada begitu banyak kata yang ingin diucapkannya, tetapi tak satu pun terasa cukup untuk menjelaskan kegelisahan yang memenuhi dadanya.

“Aku mencintaimu, Bas. Itu tidak pernah berubah,” jawabnya akhirnya. “Tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan keluarga, adat, dan keyakinan yang telah membesarkanku. Aku tidak ingin cinta kita membuat kita harus mengingkari sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari hidup kita.”

Kata-kata itu membuat Bastian semakin terdiam. Ia memahami bahwa Rinjani tidak sedang meragukan cinta mereka. Gadis itu justru sedang menghadapi pergulatan batin antara perasaan yang ingin dipertahankan dan tanggung jawab terhadap keluarga serta keyakinannya.

Bastian sendiri dibesarkan dalam lingkungan yang menjunjung tinggi tradisi dan kehidupan rohani. Ia memahami bahwa membangun rumah tangga bukan sekadar menyatukan dua hati. Ada keluarga yang harus dihormati, ada nilai yang dipegang, dan ada keputusan besar yang tidak mungkin diambil hanya dengan mengandalkan perasaan.

Di Kepulauan Moor, laut dapat mempertemukan dua perahu yang datang dari arah berbeda. Ombak bahkan bisa membawa keduanya berlayar berdampingan menuju cakrawala yang sama. Namun, bagi Bastian dan Rinjani, perjalanan cinta ternyata tidak sesederhana itu. Mereka harus menghadapi kenyataan bahwa dua hati yang saling mencintai belum tentu dapat menempuh jalan hidup yang sama.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesunyian yang sulit dijelaskan. Mereka masih sesekali bertemu, tetapi percakapan yang dahulu dipenuhi tawa kini lebih sering berakhir dengan tatapan panjang dan keheningan. Ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan tentang masa depan, tetapi setiap pembicaraan justru membawa mereka kembali pada persoalan yang sama.

Hingga suatu hari, Rinjani menerima penugasan baru di daratan Nabire. Keputusan itu menjadi awal dari jarak yang perlahan memisahkan mereka.

Pada hari keberangkatannya, Bastian mengantar Rinjani hingga ke dermaga. Angin laut bertiup dari arah timur, membawa aroma asin yang akrab bagi siapa pun yang tumbuh di pesisir. Perahu-perahu nelayan bergoyang pelan, sementara matahari pagi memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut.

“Jaga dirimu baik-baik, Rin,” kata Bastian, berusaha menyembunyikan kesedihan di balik senyumnya.

“Kamu juga, Bas,” jawab Rinjani.

Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Tak ada janji untuk menunggu, tak ada pula kata-kata yang meminta salah satu dari mereka mengubah keyakinannya. Hanya ada kesadaran bahwa cinta yang pernah mereka bangun kini harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak mudah mereka ubah.

Ketika kapal yang membawa Rinjani mulai menjauh, Bastian tetap berdiri di dermaga. Ia menyaksikan sosok perempuan itu perlahan menghilang di antara garis cakrawala. Dadanya terasa sesak, tetapi ia tahu bahwa tidak semua cinta dapat berakhir dengan kebersamaan.

Setelah kepergian Rinjani, Bastian kembali menjalani kehidupannya sebagai nelayan. Setiap pagi, ia melaut mencari ikan. Setiap senja, ia kembali menyaksikan matahari tenggelam di balik laut Teluk Cenderawasih. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Dermaga kayu tua itu tidak lagi menjadi tempat yang sama baginya.

Di tempat itulah ia pernah tertawa bersama Rinjani, berbagi mimpi, dan membayangkan masa depan yang kini hanya tinggal kenangan.

Cinta mereka tidak serta-merta hilang. Ia tetap hidup dalam ingatan, tersimpan di antara pasir putih Kampung Moor, desir angin pesisir, dan deburan ombak Saireri yang tak pernah berhenti bernyanyi.

Bastian akhirnya memahami bahwa terkadang, kehilangan bukan terjadi karena cinta telah habis, melainkan karena dua orang yang saling mencintai menghadapi pilihan hidup yang tidak mudah dipertemukan.

Dan di pesisir Moor, laut terus berombak seperti biasa, seolah tidak pernah tahu bahwa di antara suara ombaknya pernah tersimpan sebuah kisah cinta yang harus berakhir tanpa kebersamaan. [*]

error: Content is protected !!