Malam sudah larut, jam 03.00 dini hari – sementara sebagian besar orang masih nyenyak tidur, namun lampu – lampu di dapur SPPG Kalisusu 002 sudah menyala terang. Mama-mama dan tim petugas sudah berkumpul, siap memulai hari dengan pekerjaan yang penuh semangat dalam menyiapkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) buat para siswa.
Suasana di dapur itu kayak keluarga besar yang sedang bersiap buat hajatan – ada yang ngobrol santai, terkadang keluar candaan yang bikin semua tertawa, tapi tangan mereka tetap tidak berhenti beraktifitas. Semua orang menggunakan masker, sarung tangan, dan penutup kepala sesuai SOP – bukan cuma karena aturan, tapi karena mereka tahu, makanan yang dibuatnya bakal masuk perut anak – anak yang mereka sayangi.
Buah Segar dari Lokal Sampai Luar, Disortir dengan Cermat
Salah satu bagian penting dari menu MBG adalah buah-buahan. Ada yang lokal lho – pisang, jeruk, salak, semangka dari petani sekitar Nabire – juga ada yang dari luar kayak apel, kelengkeng, anggur, dan pear buat variasi gizi. Sebelum dibagikan, tim dapur bakal teliti memilihnya satu per satu. Buah yang cacat atau kurang segar langsung dipisahin – nggak boleh ada yang masuk ke paket anak-anak!
“Bagi kami, setiap buah yang dibagikan bukan sekadar makanan, tapi juga bentuk kepedulian buat kasih yang terbaik buat mereka,” ujar Ibu Yeni, salah satu mitra SPPG Kalisusu 002.
Mama-Mama Papua Lincah Ikat Ompreng, Canda Sambil Kerja
Setelah makanan jadi dan dimasukin ke ompreng, ada pekerjaan khusus yang jadi andalan mama-mama Papua di sini: mengikat ompreng lima-lima. Bukan cuma biar rapi aja, tapi juga buat gampang dihitung pas distribusi. “Lima ompreng satu ikat, sepuluh ikat sudah lima puluh… hitungannya nggak bikin kepala pusing,” cerita Kepala Dapur Dinas Rasyid.
Tangan mereka bergerak cepat dan gesit – nggak perlu tunggu tenaga laki-laki lho! Sambil mengikat, kadang mereka juga bercanda:
“Kalau ikat ompreng aja lincah begini, apalagi ikat tali sepatu anak ke sekolah ya!” Yang pasti, ikatannya kuat dan hitungannya pas – supaya makanan sampai aman ke sekolah,” tambah Dinar.
Hitung Dulu Jangan Terburu, Kalau Lambat Atau Kurang Bisa Tegang!
Sebelum semua paket MBG berangkat, ada satu langkah yang nggak boleh dilewatkan: menghitung ulang satu per satu. Meskipun terlihat sepele, ini penting banget buat menghindari masalah di tempat tujuan. Bayangkan aja kan – anak-anak sudah antri senyum-senyum menunggu makanan, guru sudah siap membagikan, tapi tiba-tiba jumlahnya kurang atau datang terlambat… suasana yang awalnya hangat bisa langsung jadi tegang seketika!
Karena itu, tim punya prinsip jelas: “Lebih baik capek menghitung di dapur, daripada panik saat pembagian.” Kadang mereka juga bercanda:
“Ah cuma hitung kotak doang… tapi kalau sampai kurang, kan jadi panik tuh?” kelakar Yeni Derek.
Setelah hitungan sesuai dan semua siap, barulah MBG berangkat ke sekolah. Semua kerja keras mulai dari jam 3 pagi itu cuma satu tujuan : supaya anak-anak bisa makan makanan yang aman, bergizi, dan keluar senyum bahagia di wajahnya. Itulah cara mereka menjalankan gotong royong demi masa depan generasi muda Papua. [*]
