Features

Hero di Bibir Laut: Niko Rayki, Pahlawan Biasa yang Gigih Selamatkan Penumpang Pesawat dengan Tali Kecil

106
Niko Rayki , penyelamat penumpuang pesawat Smart Air di Pantai Kaladiri, Selasa (27/01/2026), – Kalawai/Alvi.

Nabire, Kalawaibumiofi.com I  Di bawah terik matahari siang yang membakar bibir Pantai Karadiri, Wanggar, Kabupaten Nabire Barat, suasana panas tak hanya dari udara tropis Papua.

Selasa (27/01/2026) sekitar pukul 13.00 WIT, hembusan angin laut bercampur suara ombak yang biasa justru terpotong deru pesawat Smart Air Charter PK-SNS rute Nabire – Kaimana.

Tiba-tiba, pesawat itu mendarat darurat darudat di perairan Logpon, dekat pantai. Bukan akhir tragis, melainkan awal kisah heroik seorang warga biasa bernama Niko Raiki (20) tahun, yang dengan gigih dan alat seadanya menyelamatkan nyawa tujuh hingga delapan penumpang serta awak pesawat – semuanya selamat tanpa korban jiwa.

Bayangkan panasnya siang itu, pasir putih Karadiri terasa seperti bara api di telapak kaki, keringat membanjiri wajah para nelayan yang sedang beristirahat.

Niko Raiki, pria sederhana dari desa setempat, sedang duduk santai di tepi pantai ketika telinganya menangkap suara aneh.

“Saya dengar bunyi pesawat nggak normal, lalu tiba-tiba turun ke air,” ceritanya kepada awak media Kalawai di lokasi kejadian Perkara (TKP), suaranya masih terengah karena kelelahan.

Awalnya, ia kira itu pesawat amfibi yang sedang ‘minum’ air – pemandangan biasa di wilayah terpencil ini. Tapi saat bagian depan pesawat mulai tenggelam, instingnya berteriak: harus bertindak sekarang.

Tanpa pikir panjang, Niko melompat ke laut bersama empat warga lainnya. Mereka tak punya perahu motor canggih, tak ada pelampung atau radio komunikasi.

Hanya tali kecil seadanya mungkin sisa jaring ikan yang mereka bawa sambil berenang melawan arus deras.

“Kami berenang sekitar 100 meter, ikat pesawatnya, lalu tarik perlahan ke darat,” ungkap Niko dengan senyum lelah, gigihnya terpancar dari mata yang masih basah air laut.

Dua di antaranya fokus  mengamankan badan pesawat agar tak hanyut, sementara yang lain menuntun penumpang keluar satu per satu.

Semua penumpang dewasa dan lanjut usia, tak ada anak-anak diarahkan naik ke atas fuselage pesawat sebelum ditarik manual seperti menarik perahu nelayan raksasa.Proses itu melelahkan luar biasa.

Arus laut Wanggar tak kenal ampun, matahari menyengat kulit, dan tali tipis itu nyaris putus di tengah tarikan.

“Sangat berat, tapi yang penting semua selamat,” kata Niko, suaranya penuh keyakinan.

Saat pesawat akhirnya mendekati pantai, warga sekitar berdatangan, bertepuk tangan dan berbagi air kelapa segar untuk para pahlawan dadakan.

Bantuan dari bandara pun tiba, melanjutkan evakuasi lanjutan. mereka diantaranya, Basarnas Nabire, Polisi serta Kopasgat. Kisah Niko bukan sekadar berita insiden, tapi potret keberanian rakyat Papua yang tak tergantikan teknologi.

Di tengah panasnya Pantai Karadiri, satu tali kecil dan hati gigih menyelamatkan delapan nyawa. Sebuah pengingat, pahlawan sejati sering lahir dari yang paling sederhana.[*]

 

error: Content is protected !!
Exit mobile version