Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Features

Dari Rumah Panggung Hingga Aturan Bagi Hasil Buruan : Jejak Perubahan Adat Masyarakat Ohoi Waur

0
×

Dari Rumah Panggung Hingga Aturan Bagi Hasil Buruan : Jejak Perubahan Adat Masyarakat Ohoi Waur

Sebarkan artikel ini
Pemuda atau pria di ohoi Waur saat berburu di hutan, – Ilustrasi.
Example 468x60

Perubahan zaman perlahan ikut mengubah pola hidup masyarakat di suatu wilayah, termasuk di Ohoi (Kampung) Waur, Kecamatan Elat, Maluku Tenggara. Mulai dari bentuk tempat tinggal (rumah), alat berkebun, hingga tata cara berburu dan pembagian hasil tangkapan. Semua itu tetap berjalan beriringan dengan kearifan lokal yang dijaga turun-temurun.

Dahulu hingga tahun 1970-an, hampir seluruh rumah warga di kampung ini dibangun berbentuk panggung. Hal itu dilakukan tanpa alasan sembarangan. Selain belum tersedianya bahan bangunan seperti semen dan daun seng serta material lainnya, rumah biasanya berbentuk panggung, dibuat dari kayu sebagai tiang dan gaba-gaba (pohon rumbia/sagu), termasuk atapnya dari daun pohon sagu atau rumbia yang dianyam.

Example 300x600

“Dahulu belum ada bahan bangunan, selain itu rumah panggung karena untuk menghindari binatang piaraan seperti babi, anjing dan ternak lainnya, juga untuk menghindari binatang buas,” kata Gregorius Ohoiwirin.

“Nanti setelah masuk tahun 1970-an, karena sudah ada daun seng dan semen, maka lambat laun rumah panggung mulai hilang,” tambahnya lagi.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Ohoi Waur tidak pernah terpisah dari senjata tradisional seperti parang, tombak, serta busur dan anak panah. Banyak yang mengira alat itu khusus untuk berperang ataupun untuk membunuh orang. Ini keliru. Sebab alat-alat tersebut melekat bagi seorang pemuda atau pria dewasa, dan pasti akan dibawa ke mana-mana, baik ke kebun maupun berjalan jauh. Hal itu untuk keamanan dari binatang buas serta membantu pekerjaan sehari-hari kala itu.

“Jadi kalau ke kebun, atau bepergian jauh yang berhubungan dengan hutan, maka parang atau busur dan anak panah pasti dibawa. Itu khas laki-laki dari Ohoi Waur,” jelasnya.

Berburu di Hutan

Untuk mencari binatang buruan seperti babi, kuskus pohon, kuskus tanah, serta burung, sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Ohoi Waur hingga saat ini. Sejak zaman nenek moyang dulu, hal ini dilakukan kapan saja dan di mana saja berdasarkan kesepakatan warga.

Namun hal ini sedikit mengalami perubahan sejak tahun 1970-an. Berburu secara rutin dilakukan setiap hari Sabtu. Tujuannya agar hari Minggu dapat dijadikan waktu istirahat dan ibadah bersama keluarga.

Biasanya sebelum berangkat, para pemuda atau orang dewasa sudah menyepakati wilayah yang akan dituju. Keesokan harinya, mereka akan berangkat menuju lokasi tersebut.

“Biasanya mereka (para pemburu) ini akan menyebar sambil mendengar anjing menggonggong di hutan. Lalu saat mendengar suara itu, semua orang di sana saat itu akan segera bergegas menuju ke tempat suara itu berasal, dengan tujuan agar segera mengepung lokasi tersebut supaya babi atau binatang buruan tidak lari,” terang Gregorius.

Kemudian, jika hasil buruan sudah didapat, maka mereka akan berkumpul di suatu tempat untuk melakukan pembersihan dan pemotongan hasil buruan guna dibagikan kepada setiap orang yang terlibat pada saat itu.

Biasanya ada aturan  walaupun tidak tertulis namun tegas dalam pembagian hasil buruan. Hal ini demi menjaga dan memberikan kehormatan kepada siapa yang membunuh binatang tersebut, baik menggunakan panah ataupun tombak. Selain itu, penghargaan juga diberikan kepada pemilik anjing yang pertama kali menggonggong binatang itu.

Dalam proses pembagian, semua anggota yang terlibat akan mendapatkan jatah dan pembagian yang sama. Namun ada dua orang yang akan mendapatkan bagian lebih.

Mereka adalah: pertama, orang yang membunuh binatang itu, ia akan mendapatkan bagian dada hingga perut termasuk rahang — dalam bahasa Waur disebut “mulin kekean” — menjadi hak utama orang yang pertama kali menancapkan tombak atau panah.

Kedua, bagian ekor diberikan kepada pemilik anjing yang membantu melacak mangsa pertama kalinya.

“Bagian kekean ini biasanya yang mendapatkan akan dibawa pulang lalu dimasak untuk diberikan kepada orang tua atau kakak tertua, atau mereka yang dihormati. Dengan harapan agar selalu mendapatkan doa, keselamatan, serta rezeki melimpah saat berburu di hari-hari berikutnya.”

Kebiasaan berburu ini tidak akan pernah hilang hingga saat ini. Biasanya di kampung mereka menyebutnya dengan sebutan Hari Berburu — kegiatan rutin khusus bagi kaum pria setiap hari Sabtu.

“Jadi kalau ada istilah hari buru atau hari berburu, bukan berarti memperingati hari buru tetapi kegiatan berburu oleh masyarakat Ohoi Waur khususnya kaum pria di hari sabtu,” pungkasnya.

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!