Nabire, Kalawaibumiofi.com | Kecintaan terhadap dunia literasi mendorong Maleaki Tipagau, pria asli Intan Jaya berusia 30 tahun, untuk memilih profesi unik sebagai penjual buku keliling. Inisiatif ini ia lakukan bukan semata untuk mencari nafkah, melainkan dengan tujuan besar membangkitkan minat baca masyarakat di Tanah Papua.
Maleaki menceritakan kisahnya saat ditemui di lingkungan Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Rabu (15/4/2026). Kecintaannya pada buku bermula saat ia menempuh pendidikan di Yogyakarta. Kegemaran membaca begitu kuat hingga ia sering menghabiskan waktu di toko buku dan perpustakaan, bahkan tak jarang sampai tertidur di sana karena terlalu asyik membaca.
“Awal mula saya dibiasakan dengan buku-buku. Dulu saat kuliah, saya sangat cinta dengan buku, sering membaca sampai malam, bahkan pernah tidur di perpustakaan. Makanya sampai sekarang saya punya niat kuat untuk mengenalkan buku kepada orang lain,” ujar Maleaki.
Berbeda dengan penjual buku pada umumnya, usaha yang dijalani Maleakhi ini sama sekali tidak bermodal tempat atau toko. Ia mengaku tidak memiliki modal untuk mendirikan sebuah ruko atau pondok berjualan. Karena itulah, ia memilih berkeliling membawa tumpukan buku miliknya sendiri.
“Modal usahanya memang tidak ada untuk bikin toko atau pondok. Jadi saya jalan bawa jualan begitu saja, keliling dari satu tempat ke tempat lain,” tuturnya.
Pengalaman unik pernah ia rasakan saat pertama kali pulang dari Yogyakarta. Saat itu ia sempat menjual buku di atas kapal dan berhasil meraup keuntungan sekitar Rp6 juta. Namun, uang tersebut langsung ia gunakan untuk makan bersama teman-temannya sesampainya di pelabuhan.
Tidak hanya menjual buku karya orang lain, Maleakhi juga terbukti sebagai penulis yang produktif. Ia telah menerbitkan beberapa buku, diantaranya Catatan Hidup : Langkah Awal Perjuangan Pendidikan yang pernah beredar di toko-toko buku seluruh Indonesia, serta kumpulan puisi berjudul Pena Hitam Papua.
“Saat ini, ia sedang menyelesaikan karya terbarunya yang bertema keagamaan berjudul Akhir Zaman Sudah Dekat, yang rencananya akan segera diterbitkan dan diedarkan bulan depan,” ungkapnya.
Melalui kegiatannya ini, Maleakhi memiliki harapan besar kepada pemerintah Kabupaten Nabire maupun Provinsi Papua Tengah. Ia berharap ada perhatian lebih untuk pembangunan infrastruktur literasi, seperti penyediaan toko buku atau tempat baca yang mudah diakses oleh masyarakat.
“Harapan saya supaya pemerintah bisa memperkuat literasi. Orang Papua juga butuh tempat penjualan buku atau toko buku agar anak-anak mudah untuk membeli dan membaca,” katanya.
Kepada generasi muda Papua khususnya, Maleakhi menghimbau untuk tidak hanya menggantungkan ilmu dari dosen atau guru saja, tetapi juga memiliki niat kuat untuk membaca buku secara mandiri.
“Pesan saya untuk anak-anak muda Papua, mohon banyak membaca buku. Dengan membaca, kita juga bisa menjadi penulis dan penerbit. Supaya kedepannya Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua semakin maju dan berkembang,” pungkasnya penuh semangat. [*]

















