Genre : Dokumenter Investigatif
Durasi : 95 menit
Sutradara : Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale
Produksi : Jubi Media, Pusaka Bentala Rakyat, Watchdoc, Greenpeace, LBH Papua Merauke, Ekspedisi Indonesia Baru
Apakah Indonesia sedang menjajah Papua?
Sebuah pertanyaan yang dihindari banyak orang. Jangankan untuk dijawab, pertanyaan ini pun sudah dianggap tabu. Bahkan berbahaya.
Kita sering merasa banyak hal buruk seperti kejahatan NAZI di Jerman atau genosida di Rwanda sudah jadi cerita sejarah.
Lalu kita sekarang merasa hidup lebih baik, lebih beradab, atau mustahil melakukan kejahatan serupa. Padahal proses genosida yang sama sedang terjadi terhadap orang Palestina di Gaza.
Demikian juga penjajahan seperti dilakukan orang-orang Portugis, Inggris, atau Belanda, kita anggap sudah jadi cerita masa lalu. Dan Indonesia, yang pernah dijajah, dianggap mustahil menjadi penjajah baru.
Pesta Babi (Pig Feast) merekam bagaimana perampasan tanah, eksploitasi alam, dan operasi militer Indonesia di Papua selama 60 tahun terakhir, kini membesar dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dua setengah juta hektar tanah dan hutan milik berbagai suku pribumi di selatan Papua sedang dibabat untuk proyek lumbung pangan dan energi.
Ini adalah deforestasi terencana yang terbesar dalam sejarah dunia. Ini adalah episode berikutnya dari penghisapan Papua sejak tambang emas terbesar di dunia mulai dibuka di Timika pada 1967.
Bersama setidaknya 2.000 alat berat yang menggusur hutan dan rawa, ribuan tentara dikerahkan untuk mengamankan proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu dari protes masyarakat adat. Ini menambah panjang rangkaian operasi militer Indonesia di Papua sejak 1961.
Memakai label Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menjadi ambisi tiga presiden, perkebunan industri ini melibatkan puluhan perusahaan yang dikuasai oleh segelintir oligark Indonesia.
Namun, ceritanya tidak sampai di situ saja. Tokoh-tokoh yang kami ikuti dengan kamera dalam film Pesta Babi ini telah bertransformasi dari korban menjadi pejuang.
Mereka mengorganisasi diri, membangun jaringan solidaritas, dan bersama masyarakat sipil mencari keadilan ke pusat-pusat pemerintahan di Papua dan Jakarta.
Mereka menempuh jalur hukum, kendati perjuangan mencari keadilan menemukan jalan buntu. Mereka juga melakukan perlawanan langsung di lokasi, termasuk dengan memasang ribuan palang adat dan salib merah dan dengan mengorganisir Pesta Babi.
Kami memilih Pesta Babi sebagai judul dan editorial film bukan saja karena adat Pesta Babi adalah ritual penting dalam kebudayaan berbagai suku di Papua dan Melanesia pada umumnya, melainkan juga karena kombinasi gerakan kebudayaan dan keagamaan dan politik merupakan strategi penting yang dilakukan Orang Asli Papua (OAP) menghadapi gempuran perampasan tanah, eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, dan militerisme.
Maka “Pesta Babi” bukan hanya pesta para pihak dalam metafora “Animal Farm” (George Orwell); tetapi juga cerita gerakan memperkuat diri, bertahan, dan menentukan masa depan sendiri di tengah gempuran kolonial.
Kami menyadari, sebagian kita akan menolak mengakui bahwa Indonesia melakukan kolonialisme di Papua. Kami mengajak semua menonton Pesta Babi sambil membaca ulang kalimat pertama Mukadimah Konstitusi UUD 1945, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.”
Sinopsis
Yasinta Moiwend kaget ketika pada suatu pagi yang tenang di bulan Mei, sebuah kapal raksasa bersandar di dermaga kampungnya.
Kapal itu mengangkut ratusan ekskavator dan dikawal pasukan militer Indonesia. Itulah rombongan pertama dari 2.000 alat berat yang datang ke Papua dalam Proyek Strategis Nasional untuk produksi pangan, energi biodiesel sawit, dan bioetanol tebu.
Perempuan suku Marind Anim ini tak pernah tahu kalau kampungnya jadi titik nol dimulainya proyek konversi hutan terbesar dalam sejarah dunia modern. Luasnya mencapai 2,5 juta hektar.
Vincen Kwipalo dari suku Yei juga terkejut ketika tanah marganya dipatok dengan tulisan: “Tanah Milik TNI AD”.
Belakangan ia tahu, tanah itu diambil untuk pembangunan markas batalyon militer. Padahal di saat yang sama, ia menghadapi perusahaan perkebunan tebu yang juga menyerobot hutan marganya.
Karena wilayah adatnya juga termasuk dalam konsesi, Franky Woro dan komunitas Awyu di Boven Digoel memasang palang adat dan salib raksasa yang dicat merah untuk menghadang perusahaan dan militer.
Dikenal dengan Gerakan Salib Merah, aksi ini juga dilakukan suku-suku lain. Setidaknya 1.800 salib merah telah dipasang di Papua Selatan. Meski memakai simbol agama, gerakan ini tidak selalu disukai elit gereja.
Film dokumenter “Pesta Babi” merekam bagaimana orang-orang Marind, Yei, Awyu, dan Muyu di selatan Papua, melawan proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu untuk bahan bakar kendaraan.
Bersamaan dengan kisah mereka, juga tergambar isu separatisme dan 60 tahun operasi militer Indonesia yang terkait dengan penguasaan wilayah dan eksploitasi alam Papua.
Menggabungkan detil-detil rekaman di lapangan dan riset investigatif, Pesta Babi mengungkap relasi kepentingan industri bioenergi multinasional dengan proyek politik dan pembangunan pemerintah Indonesia yang berkedok “lumbung pangan” dan “transisi energi” selama tiga periode presiden.
Film ini juga merekam bagaimana jaringan politikus, investor, militer, dan gereja berhadapan dengan gerakan sosial masyarakat dan komunitas adat.
Disutradarai Dandhy Laksono dan Cypri Dale, Pesta Babi adalah rekaman praktik kolonialisme yang terjadi hari ini, tanpa menunggu menjadi sejarah. (*)


















