Nabire, Kalawaibumiofi | Dua warga sipil dilaporkan tewas akibat penembakan di Kampung Yosoma, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, Sabtu (24/10/2026). Seorang warga lainnya dilaporkan mengalami luka tembak dan dalam kondisi kritis, sementara enam warga sipil disebut ditangkap setelah insiden tersebut.
Informasi tersebut disampaikan Manajemen Markas Pusat Komite Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (KOMNAS TPNPB)-Organisasi Papua Merdeka (OPM) melalui siaran pers tertanggal Sabtu, 24 Oktober 2026.
Siaran pers itu disampaikan oleh juru bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, dan ditandatangani sejumlah pimpinan organisasi tersebut. Namun, informasi mengenai kronologi kejadian, jumlah korban, serta dugaan penangkapan warga belum dapat diverifikasi secara independen.
Kronologi penembakan menurut TPNPB-OPM
Dalam siaran pers tersebut, TPNPB-OPM menyebut insiden bermula sekitar pukul 09.00 hingga 12.00 WIT. Berdasarkan laporan Pasukan Intelijen Sektor (PIS) TPNPB wilayah Kenyam yang dikutip dalam rilis itu, aparat militer Indonesia disebut melakukan pemantauan udara menggunakan sejumlah drone sebelum bergerak ke lokasi kejadian.
TPNPB-OPM menyatakan bahwa tiga warga sedang beraktivitas di sekitar halaman rumah dengan membawa peralatan berkebun dan berburu, yakni parang, busur, dan senapan angin.
Menurut versi TPNPB-OPM, setelah pemantauan udara, aparat mendatangi lokasi dan terjadi penembakan di kawasan permukiman warga.
Dua orang dilaporkan meninggal dunia. Keduanya diidentifikasi sebagai Helkia Kerebeya, 16 tahun, dan Mazur Serera, 25 tahun. Sementara itu, Kaberak Karebeya, 16 tahun, disebut mengalami luka tembak dan berada dalam kondisi kritis.
Dalam siaran pers tersebut, korban yang terluka dilaporkan menjalani perawatan di rumah sakit di Kenyam dan berada dalam penjagaan aparat militer.
Ketiga korban disebut berasal dari Kampung Yosoma, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga. Identitas, kondisi korban, serta kronologi penembakan masih memerlukan konfirmasi dari sumber independen dan pihak terkait.
Enam warga sipil disebut ditangkap
Selain melaporkan penembakan, TPNPB-OPM menyebut enam warga sipil ditangkap setelah kejadian. Mereka dikabarkan termasuk perempuan dan anak-anak di bawah umur.
Menurut siaran pers tersebut, keenam warga dibawa ke salah satu pos militer di wilayah Nduga untuk menjalani pemeriksaan. Namun, identitas mereka, alasan penangkapan, serta kondisi terkini belum dijelaskan secara terperinci.
TPNPB-OPM juga menyebut aparat melakukan patroli menggunakan sepeda motor dan truk militer di sekitar Kenyam hingga Distrik Geyarek. Aktivitas tersebut diklaim menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat, sehingga sebagian warga memilih mengungsi ke hutan.
Siaran pers itu menyebut keluarga korban bersama warga lainnya mendatangi pos militer sekitar pukul 17.00 WIT untuk meminta penjelasan mengenai penembakan tersebut.
Seluruh informasi mengenai penangkapan dan pengungsian itu masih memerlukan konfirmasi dari pihak-pihak terkait.
TPNPB-OPM minta investigasi PBB
Melalui siaran persnya, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Keamanan PBB, serta lembaga-lembaga hak asasi manusia (HAM) internasional melakukan investigasi atas insiden yang dilaporkan terjadi di Kenyam.
Dalam pernyataannya, TPNPB-OPM menekankan perlunya penyelidikan independen untuk mengungkap kematian dua warga sipil dan kondisi korban yang masih dirawat.
“Investigasi menyeluruh dan transparan harus dilakukan secara independen oleh lembaga-lembaga HAM internasional,” demikian bunyi pernyataan dalam siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM tertanggal 24 Oktober 2026.
TPNPB-OPM juga meminta Palang Merah Internasional dan lembaga kemanusiaan lainnya memberikan perhatian kepada warga sipil yang disebut mengungsi akibat konflik bersenjata di Tanah Papua.
Dalam rilis tersebut, TPNPB-OPM turut merujuk laporan Human Rights Monitor mengenai pengungsian warga sipil akibat konflik bersenjata di Papua.
Laporan yang dirujuk dapat dibaca melalui tautan berikut:
https://humanrightsmonitor.org/id/laporan/idp-update-august26-central-govt-notes-presence-of-more-than-120-000-persons-internally-displaced-by-armed-conflict-in-west-papua/
Angka pengungsi yang tercantum dalam laporan itu perlu dipahami sesuai periode pendataan dan cakupan wilayah yang digunakan oleh lembaga penerbitnya.
Menunggu klarifikasi pihak terkait
Hingga berita ini disusun, belum tersedia keterangan resmi dari TNI, Polri, Pemerintah Kabupaten Nduga, maupun Komnas HAM yang dapat mengonfirmasi kronologi dan jumlah korban sebagaimana disampaikan dalam siaran pers TPNPB-OPM.
Klarifikasi dari pihak-pihak tersebut diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai insiden, termasuk penyebab penembakan, identitas korban, status warga yang disebut ditangkap, serta kondisi masyarakat di sekitar lokasi kejadian.
Dugaan kekerasan terhadap warga sipil perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan yang independen, transparan, dan akuntabel. Perlindungan terhadap warga sipil, terutama anak-anak dan kelompok rentan, juga perlu menjadi perhatian. [*]
*sumber: Siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM tertanggal Sabtu, 24 Oktober 2026.










