Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Siaran Pers

FKUB Deiyai Prihatin Atas Insiden di Kapiraya

50
×

FKUB Deiyai Prihatin Atas Insiden di Kapiraya

Sebarkan artikel ini
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah prihatin atas insiden atas konflik kekerasan di kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya, Provinsi Papua Tengah.
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah prihatin atas insiden atas konflik kekerasan di kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya, Provinsi Papua Tengah. - IST
Example 468x60

Nabire, Kalawaibumiofi.com I Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah prihatin atas insiden atas konflik kekerasan di kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya, Provinsi Papua Tengah.

Ungkapan keprihatinan FKUB Deiyai disampaikan dalam doa bersama dan pembacaan pernyataan keprihatinan, yang dilaksanakan di Gereja Kingmi Kefas Mugou Waghete, Sabtu (29/11/2025).

Ketua FKUB Deiyai, Oktovianus Pekei yang membacakan pernyataan bersama menyatakan keprihatinan dan berberduka cita atas terbunuhnya Pendeta Neles Peuki, Gembala Jemaat Kingmi di Mogodagi.

Example 300x600

“Karena itu, FKUB berkumpul bersama untuk mendoakan secara khusus atas arwahnya, agar jiwanya diselamatkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dalam Kerajaan Surga dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan,” katanya dikutip dari siaran pers yang diterima Kalawaibumiofi.com di Nabire, Papua Tengah, Sabtu.

FKUB Deiyai prihatin atas pembakaran rumah milik jemaat hingga melarikan diri ke hutan. Keberadaan mereka perlu dipastikan jaminan keamanan dan kebutuhan hariannya.

Selain itu, FKUB juga menyarankan kepada para pihak terkait, agar segera menyelesaikan persoalan tapal batas baik administratif pemerintahan, maupun batas tanah adat kedua kelompok yang berkonflik.

FKUB Deiyai juga menyarankan kepada pemerintah daerah dan DPRD, untuk mengupayakan rekonsiliasi bersama para pihak yang berkonflik, demi membangun perdamaian dan kerukunan antarwarga.

Kekerasan pada Senin (24/11/2025) di Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai, melibatkan beberapa kelompok warga di Kampung Wakia, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika dan kelompok warga di Kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai.

Peristiwa tersebut mengakibatkan korban materi maupun korban luka-luka, bahkan korban nyawa.  FKUB mendata beberapa rumah warga di kampung Mogodagi yang dibakar. Beberapa warga melarikan diri ke hutan dan belum dipastikan keberadaannya. Serta 6 warga luka-luka dengan alat tajam dan benda tumpul. Salah satu diantaranya dikabarkan kritis akibat luka berat.

Seorang warga yang kemudian teridentifikasi sebagai gembala di Sidang Jemaat Antiokhia Mogodagi meninggal dunia akibat dibunuh secara sadis dan tidak berperikemanusiaan.

FKUB Deiyai menyatakan kekerasan tersebut telah berdampak pada hilangnya rasa aman dan nyaman bagi warga, untuk beraktivitas, termasuk kegiatan keagamaan, sehingga dibutuhkan jaminan keamanan.

“Beberapa warga telah kehilangan tempat tinggal sehingga dibutuhkan kepastian tempat tinggal sementara. Beberapa warga yang mengalami luka-luka perlu perawatan medis agar dapat pulih. Bagi keluarga yang anggota keluarganya meninggal dunia perlu diberi perhatian khusus pada masa duka maupun kepastian hukum demi keadilan bagi keluarga korban,” demikian rilis FKUB Deiyai.

Berdasarkan situasi yang terjadi tersebut di atas, FKUB Deiyai prihatin dan berduka cita atas meninggalnya Pdt. Neles Peuki yang dibunuh secara sadis dan tidak berperikemanusiaan.

“Kami mendoakan agar arwahnya diterima Tuhan Yang Maha Kuasa dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan,” demikian FKUB Deiyai.

Pada prinsipnya, lanjut FKUB Deiyai, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum maupun kelompok di Kapiraya tidak dapat dibenarkan, karena bertentangan dengan ajaran agama apapun.

Karena itu, apapun persoalannya harus mengedepankan komunikasi dan dialog agar dapat dibicarakan secara damai, bukan dengan cara kekerasan fisik, sehingga masing-masing pihak dapat saling menghargai dan kerukunan hidup antarwarga tetap terjalin baik.

FKUB Deiyai menyatakan, perlu kepastian dan jaminan keselamatan warga Kampung Mogodagi dan sekitarnya yang melarikan diri ke hutan. Sebab mereka membutuhkan suasana yang tenang dan damai menyongsong Natal 2025.

Warga yang trauma dan cemas, lanjut FKUB, membutuhkan rehabilitasi, terutama bagi keluarga korban yang anggota keluarganya dihilangkan nyawanya secara tidak berperikemanusiaan.

FKUB Deiyai juga menyatakan, pemulihan situasi pascakonflik kekerasan sangat dibutuhkan untuk membangun kembali suasana yang aman dan nyaman bagi semua warga, sehingga dapat memungkinkan terjalinnya kerukunan antarwarga.

FKUB Deiyai juga menyampaikan beberapa saran, diantaranya:

1. Kami menyarankan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Deiyai bersama DRPD untuk memastikan keberadaan warga yang melarikan ke hutan demi terjaminnya keamanan dan kenyamanan hidup, sebab beberapa hari lagi sudah masuk bulan Desember untuk persiapan Natal 2025.

2. Kami mendesak kepada semua pihak terkait, agar segera menyelesaikan akar persoalan yang memicu konflik kekerasan di Kampung Mogodagi, Distrik Kapiraya secara damai dan tuntas, dengan melibatkan semua pihak terkait agar ke depan tidak muncul kekerasan yang sama.

3. Dalam proses penyelesaiannya, kami menyarankan agar selain Pemerintah Daerah dan DPRD yang tentu akan terlibat secara langsung kiranya perlu juga melibatkan lembaga atau dewan adat dan tokoh agama masing-masing pihak, agar dapat berperan secara langsung dan dapat menyampaikan hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam hidup bersama di wilayah perbatasan.

Dalam hal ini terkait dengan penyelesaian “tapal batas tanah” dan “rekonsiliasi bersama” dalam rangka membangun perdamaian sehingga kerukunan antar warga dapat terjalin kembali. []

Example 300250
Example 120x600
error: Content is protected !!