Nabire, Kalawaibumiofi.com I Dalam semangat Hari Sumpah Pemuda, Persekutuan Gereja-Gereja di Papua (PGGP) bersama Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI) Provinsi Papua dan Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Papua menggelar Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Gedung Kesenian Papua, Jayapura, Selasa (28/10/2025).
Kegiatan KKR yang dihadiri ratusan jemaat dari berbagai denominasi itu, bertema “Generasi Muda Pelopor Persatuan dan Perdamaian Menuju Rekonsiliasi Bangsa” (1 Timotius 4:12), dengan subtema “Yesus Kristus Rekonsiliator Dunia” (Yohanes 14:6).
Ketua I PGGP Pdt. Metusaleh Mauri dalam khotbahnya, menekankan pentingnya peran gereja sebagai “jembatan rekonsiliasi” dalam membangun kesatuan umat, di tengah keberagaman di Tanah Papua.
Dalam ibadah tersebut, Generasi Muda Papua membacakan komitmen, untuk menjadi pelopor persatuan dan perdamaian bangsa. Mereka berjanji melaksanakan amanat Kristus untuk hidup dalam kasih dan rekonsiliasi, serta menyerukan agar masyarakat Papua tetap bersatu, pasca pemilihan suara ulang (PSU) pilgub Papua 2025.
“PSU sudah selesai, PSU bukan segalanya. Kasih Tuhan adalah segalanya,” demikian kutipan komitmen kaum muda, seperti dikutip dari siaran pers yang diterima media ini di Nabire, Papua Tengah, Rabu (29/10/2025).
Acara ini menjadi simbol kuat kolaborasi antargereja di Papua, dalam membina generasi muda, agar mampu menjadi agen perdamaian dan persaudaraan sejati, bukan hanya di lingkungan gereja, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Pdt. Metusaleh Mauri, mengungkapkan, melalui tema tersebut, gereja mengambil peranan inti sebagai rekonsiliator kesatuan umat di Papua sebagai tubuh Kristus, terlepas adanya keragaman pandangan di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.
“Atas nama rekonsiliasi, kami mengucapkan terima kasih banyak dan syukur bagi Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Terima kasih banyak untuk orang-orang tua Papua yang telah menerima dan membina kami generasi muda Papua,” ujarnya.
Deklarasi yang dibacakan pada momen Hari Sumpah Pemuda tersebut secara simbolis menunjukkan komitmen para pemimpin gereja di Papua, untuk mendorong generasi muda gereja sebagai penerus dalam mengusahakan persatuan dan perdamaian bangsa. []

















