Saya menulis ini dengan dada sesak. Bukan karena saya benci pada pejuang kemerdekaan. Justru karena saya terlalu cinta pada tanah dan bangsa ini, sehingga setiap kali melihat harapan diinjak-injak, saya tidak bisa diam.
Di Papua hari ini, orang mati bukan hanya karena peluru. Orang mati karena putus asa. Orang mati karena menunggu terlalu lama. Orang mati karena melihat orang yang katanya memperjuangkan mereka, justru sibuk bertengkar di luar negeri.
Tulisan ini tentang Vanuatu. Tentang nakamal. Tentang ULMWP. Dan tentang kita, orang Papua.
Vanuatu sudah berkali-kali membuka rumahnya. Rumah adat yang suci. Rumah tempat orang Melanesia menyelesaikan sumpah dan janji. Kalau rumah itu kita kotori dengan perpecahan lagi, maka kita bukan hanya gagal. Kita tidak tahu malu.
Semoga tulisan ini sampai ke hati para pemimpin. Semoga sampai ke hati anak-anak Papua yang masih percaya bahwa merdeka itu mungkin.
- Nakamal, Vanuatu Bukan Tempat Main-main.
Tahun 2014 sejarah mencatat. Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Vanuatu Joe Natuman, dan dengan kerja keras Menteri Pertanahan dan Sumber Daya Alam Ralph Regenvanu, berbagai faksi Papua Barat disatukan. Lahirlah ULMWP: United Liberation Movement for West Papua.
Itu bukan pertemuan biasa. Itu terjadi di tanah Melanesia. Di rumah adat. Di nakamal. Bagi orang Vanuatu, nakamal adalah tempat paling sakral. Di sana orang tidak boleh berbohong. Di sana orang harus bicara jujur, harus bersumpah demi leluhur, demi tanah, demi anak cucu.
Ketika Vanuatu memberikan nakamalnya untuk Papua, itu artinya mereka berkata: “Luka kamu adalah luka kami. Perjuangan kamu adalah perjuangan kami.” Itu penghormatan paling tinggi yang bisa diberikan satu bangsa kepada bangsa lain.
Sekarang bayangkan. Kalau setelah diberi tempat suci itu kita malah pecah, lalu berdamai, lalu pecah lagi, lalu minta berdamai lagi. Apa kata orang Vanuatu? Apa kata leluhur Melanesia? Malu. Itu kata yang paling tepat. “Pecah dan bersatu kembali itu adalah tindakan memalukan atas kepedulian dan penghormatan dari pemerintah dan rakyat Vanuatu.”
- Dari Satu Menjadi Dua.
Waktu berjalan. ULMWP yang diharapkan menjadi satu suara, satu pintu, satu wajah di dunia internasional, justru terbelah. Muncul ULMWP kubu Benny Wenda. Muncul juga ULMWP kubu Menase Tabuni. Masing-masing mengklaim sah. Masing-masing punya pendukung. Masing-masing jalan sendiri.
Dampaknya langsung terasa. Di luar negeri, negara-negara bingung mau bicara dengan siapa. Di dalam negeri, rakyat di kampung bertanya: “Ini pemimpin kami yang mana?”
Sementara itu di tanah Papua, keadaan tidak menunggu. “Hari demi hari Orang Asli Papua sedang mati.” Itu bukan kalimat puitis. Itu laporan harian. Ada yang mati ditembak. Ada yang mati karena tidak ada puskesmas. Ada yang mati karena tanahnya diambil. Ada yang mati pelan-pelan karena kehilangan harapan.
Di tengah itu, para pemimpin justru terlihat sibuk dengan ambisi pribadi. Ego. Perebutan nama. Perebutan panggung.
- November 2026: Ujian Terakhit di Nakamal.
Agustus 2026 lalu ada kabar. Kedua kubu sepakat akan bersatu kembali pada November 2026. Tempatnya sama. Rumah adat. Rumah sakral. Rumah nakamal bangsa Melanesia di negara Vanuatu.
Ini kesempatan kedua. Dan bisa jadi kesempatan terakhir. Kalau kali ini gagal lagi, maka kepercayaan akan habis. Bukan hanya kepercayaan rakyat Papua. Tapi juga kepercayaan rakyat Vanuatu yang sudah dua kali menjadi tuan rumah.
Karena itu saya berani berkata keras: “TIDAK USAH REKONSILIASI KALAU AKAN BUBAR LAGI.” Lebih baik jujur dari awal. Daripada mempermalukan nakamal Vanuatu. Daripada mempermalukan saudara Melanesia kita.
- Tiga Konsekkuensi Kalau Ego Masih Menang.
Saya melihat tiga bahaya besar kalau sikap egois dan ambisius terus dipelihara.
Pertama, kehilangan kepercayaan selamanya. Rakyat Papua sudah terlalu sering dikecewakan. Kalau pemimpin terus mempermainkan persatuan, maka orang di kampung akan menutup telinga. “Sudah, kami urus diri sendiri.” Pemimpin tanpa rakyat adalah kekosongan.
Kedua, semangat juang dipatahkan. Negara tidak perlu capek-capek memecah kita. Kita pecah sendiri. Dan saat kita pecah, maka narasi “Papua tidak kompak” akan dipakai di mana-mana — di PBB, di Pasifik, di media. Sementara itu di lapangan, operasi berlanjut, investasi berlanjut, asimilasi berlanjut. Banyak orang Papua akhirnya menyerah. Bukan karena pengecut. Tapi karena lelah melihat pimpinannya tidak serius.
Ketiga, sulit bangkit lagi. Trauma itu menumpuk. Setiap ada harapan lalu dipatahkan, maka orang jadi apatis. Anak muda yang tadinya mau berjuang jadi bertanya: “Buat apa?” Bangsa yang lelah adalah bangsa yang paling mudah dijajah — bukan dengan senjata, tapi dengan kelelahan batin.
- Tanggungjawab Moral Kita.
Orang Asli Papua harus tahu malu. Harus tahu berterima kasih.
Tahu malu karena Vanuatu sudah berkali-kali menolong tanpa pamrih. Mereka taruhkan hubungan dengan Indonesia. Mereka keluarkan biaya. Mereka hadapi tekanan. Semua itu demi saudara Melanesianya di Papua.
Tahu berterima kasih karena tidak semua negara berani melakukan itu. Di dunia yang munafik ini, Vanuatu berdiri paling depan.
Karena itu tanggung jawab moral kita sekarang jelas:
- Jujur di depan adat. Kalau bersumpah di nakamal untuk bersatu, maka tepati. Tidak ada kata mundur. Tidak ada tikam dari belakang.
- Libatkan basis. Persatuan yang hanya diputuskan di hotel-hotel di luar negeri tidak akan kuat. Orang di Nduga, Intan Jaya, Pegunungan Bintang, hingga Sorong, harus tahu apa yang disepakati. Suara mereka harus masuk.
- Turunkan ego, bagi tugas. Tidak semua orang harus jadi ketua. Ada yang kuat di diplomasi, urus diplomasi. Ada yang kuat mengurus pengungsi, urus pengungsi. Ada yang kuat membangun narasi, bangun narasi. Tujuan satu: Papua merdeka dan bermartabat.
Saudara-saudaraku pemimpin Papua. Kami di tanah tidak butuh kalian sempurna. Kami butuh kalian bersatu. Kami butuh kalian dewasa. Kami butuh kalian ingat, bahwa setiap hari ada orang mati menunggu keputusan kalian.
Jangan permalukan nakamal lagi. Jangan permalukan rakyat Vanuatu lagi. Jangan permalukan darah orang-orang yang sudah gugur.
Kalau November 2026 ini gagal lagi, maka mungkin benar kata orang: perjuangan ini akan mati karena dibunuh oleh orangnya sendiri. Tapi saya masih punya harapan kecil. Harapan bahwa di rumah suci itu, di hadapan leluhur Melanesia, kalian akan menangis, berpelukan, dan berkata: “Cukup. Mulai hari ini kita satu.”
Bukan untuk Benny. Bukan untuk Menase. Tapi untuk anak kecil di Wamena yang bertanya: “Bapak, kapan kita merdeka?” — untuk mama-mama di Merauke yang masih menanak sagu sambil berdoa kapan tanah adat berhenti dieksploitasi. Untuk tanah ini. Tanah Papua. Karena kalau bukan sekarang, kapan lagi? Dan kalau bukan kita, siapa lagi?
Nabire, 1 September 2026.
*Emil E Wakei — Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua














