Nabire, Kalawaibumiofi.com | Mahasiswa asal Kabupaten Puncak yang kini menuntut ilmu di Nabire, Jotam Numang, menyampaikan kritik tajam sekaligus masukan konstruktif terkait pelaksanaan program Beasiswa Unggul Puncak Cerdas. Pernyataan ini disampaikannya dalam keterangan yang diterima Kalawaibumioci.com Sabtu (11/7/2026).
Ia meminta Pemerintah Daerah Kabupaten Puncak untuk mengevaluasi menyeluruh sistem pembinaan sumber daya manusia, khususnya terkait kebijakan pengalihan jurusan serta program matrikulasi di jenjang Sekolah Menengah Atas hingga Perguruan Tinggi. Karena menurutnya, perhatian pemerintah terhadap pembangunan SDM patut diapresiasi, namun pelaksanaannya dinilai masih belum tepat sasaran dan justru berpotensi merugikan generasi muda.
“Bapak Bupati memang sudah berniat baik, namun pihak yang menjalankan teknis di lapangan kami nilai bukan membangun SDM, melainkan mematikan masa depan mereka,” tuturnya.
Ia menilai program matrikulasi bagi siswa usia remaja atau tingkat SMA dan kuliah hanya efektif jika diterapkan pada rumpun ilmu sosial, agama, dan politik. Sebaliknya, untuk bidang sains dan teknik—seperti Fisika, Kimia, Biologi, Matematika, hingga Teknologi Komputer fondasi penguasaan materi harus dibangun secara bertahap sejak usia dini, tidak bisa baru dimulai saat siswa beranjak dewasa.
“Memaksakan anak untuk beralih jurusan ke bidang teknik secara instan di usia remaja tanpa fondasi dasar yang kuat, sama saja dengan membunuh karakter dan masa depan generasi kita,” tegas Jotam.
Lebih jauh, Jotam menyoroti akar masalah yang membuat banyak siswa kesulitan mengikuti perkuliahan. Ia menyebut kondisi keamanan yang belum stabil akibat dinamika konflik antara Organisasi Masyarakat, Tokoh Masyarakat, Pemuda dan Masyarakat (OMTPM) dengan aparat TNI dan Polri membuat proses belajar mengajar terganggu.
“Kondisi ini membuat keamanan tidak terjamin, guru trauma, dan kenakalan remaja meningkat. Akibatnya, terjadi manipulasi data pendidikan: nama siswa diambil sembarangan, dinyatakan lulus dan diberikan nilai baik padahal belum menguasai materi,” jelasnya.
Banyak siswa yang kemudian lanjut ke jenjang SMA hingga kuliah dengan bekal kemampuan yang belum memadai, termasuk penguasaan Bahasa Indonesia yang kurang lancar serta pemahaman dasar ilmu pengetahuan alam yang lemah. Hal inilah yang membuat mereka akhirnya harus masuk program matrikulasi di perguruan tinggi.
Ia juga mengingatkan Tim Seleksi Beasiswa agar bertindak lebih selektif, teliti, dan tidak terburu-buru dalam meluluskan mahasiswa yang mengajukan perpindahan jurusan. “Timsel harus jeli melihat rekam jejak bidang studi dan kemampuan dasar mereka. Jangan asal kirim siswa ke jurusan tertentu, yang ujung-ujungnya justru membuat mahasiswa gagal di tengah jalan hanya karena salah penempatan minat dan bakat,” tambahnya.
Diketahui, pada angkatan pertama terdapat sekitar 127 hingga 227 siswa penerima beasiswa, sedangkan angkatan kedua yang baru diluluskan mencapai 317 orang.
Guna membangun kualitas sumber daya manusia Kabupaten Puncak secara matang, terencana, dan berkelanjutan, Jotam menawarkan dua langkah konkret kepada pemerintah daerah:
Pertama, memprioritaskan pembangunan sekolah berpola asrama di setiap Daerah Pemilihan di Kabupaten Puncak. Melalui sistem ini, pemerintah dapat menyaring, membimbing, dan mendidik anak-anak berbakat sejak usia dini dengan kurikulum yang lengkap dan terarah.
Kedua, menjalin kemitraan strategis dengan yayasan pendidikan di kota-kota sentral. Jika pembangunan sekolah asrama di seluruh wilayah Kabupaten Puncak belum memungkinkan dalam waktu dekat, pemerintah disarankan bekerja sama dengan lembaga pendidikan berkualitas di Nabire, Timika, maupun kota lain untuk menampung dan mendidik anak-anak usia dini dari daerah tersebut.
“Jika pemerintah konsisten membangun pendidikan mulai dari usia dini dengan fondasi yang kuat, percayalah, anak-anak Puncak akan mampu mengguncang dunia. Mereka tidak hanya akan memimpin di daerah sendiri, tetapi juga mampu bersaing menjadi Aparatur Sipil Negara, tenaga profesional, hingga berkiprah di Australia, Amerika, dan berbagai belahan dunia lainnya,” tutup Jotam. [*]


















