Nabire, Kalawaibumiofi.com | Bagi Maria Magdalena Butu, menjadi pengajar bagi anak-anak di pedalaman Tota Mapiha bukan perkara ijazah, ruang kelas, atau fasilitas sekolah. Ia memilih hadir di tengah keterbatasan dan mengajar anak-anak di mana pun mereka mau belajar.
Perempuan adat asal Tota Mapiha itu dikenal dengan sapaan Mama Papua. Maria bukan lulusan pendidikan. Ia tidak pernah kuliah di jurusan keguruan, mengikuti Pendidikan Profesi Guru, maupun menerima surat keputusan sebagai guru dari pemerintah.
“Saya bukan guru. Tidak pernah kuliah di jurusan guru,” kata Maria dalam salah satu perbincangan terakhirnya di Nabire, sebelum berpulang pada pertengahan 2026.
Namun, pengakuan itu tidak membuatnya berhenti mengajar. Sebaliknya, ia terus mencari cara agar anak-anak di kampung tetap mendapatkan kesempatan belajar.
Bagi Maria, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk meniadakan pendidikan.
Belajar di Mana Saja
Perjalanan dari Nabire menuju wilayah Siriwo dan Mapia menggambarkan tantangan yang dihadapi masyarakat di pedalaman Tota Mapiha. Permukiman tersebar, akses transportasi terbatas, jaringan telekomunikasi belum merata, dan listrik menjadi persoalan sehari-hari.
Di tempat Maria mengajar, kondisi tersebut bukan sesuatu yang baru.
“Kalau listrik, kami biasa gunakan lilin. Ada juga solar sel, Listrik Tenaga Surya, tapi rusak, ada yang dicuri juga,” ujarnya.
Keterbatasan itu membuat proses belajar tidak selalu berlangsung di ruang kelas.
“Ada gedung. Tapi terkadang kami bikin pondok sendiri. Kadang juga kami belajar di bawah pohon, di pinggir kali. Pokoknya di mana saja mereka mau, kami belajar di situ,” kata Maria.
Ia menyesuaikan tempat belajar dengan kenyamanan anak-anak. Jika mereka ingin belajar di pinggir kali, kegiatan belajar berlangsung di sana. Jika mereka memilih berada di bawah pohon, tempat itu pun menjadi ruang belajar.
Bagi Maria, ruang belajar tidak harus selalu berupa bangunan sekolah. Yang terpenting adalah anak-anak memiliki kesempatan untuk membaca, bertanya, dan mengenal dunia di luar lingkungan tempat mereka tinggal.
Ia juga tidak banyak mempersoalkan imbalan dari kegiatan tersebut.
“Makan itu ada. Kami punya dusun, tanam tanaman, baru yang lain kami jual, sisanya masak,” ujarnya.
Bagi Maria, kebutuhan hidup dapat diusahakan. Yang lebih penting adalah anak-anak di kampung dapat membaca dan memperoleh pengetahuan.
“Ini kan panggilan hidup. Kerja saja, nanti Tuhan buka jalan,” katanya.
Dari Asrama Kamasan ke Pedalaman Mapia
Pemimpin Redaksi Laolao Papua, Mikael Kudiai, mengenal Maria sejak keduanya berada di Yogyakarta sekitar 2015.
Saat itu, Maria datang ke Yogyakarta bersama rombongan dari Salatiga. Mereka kemudian bertemu di Asrama Kamasan, salah satu tempat berkumpul mahasiswa Papua di Yogyakarta.
Pertemanan itu berkembang melalui diskusi, kunjungan ke sejumlah asrama mahasiswa Papua, pendidikan politik, dan berbagai kegiatan komunitas.
“Dia salah satu perempuan yang sangat aktif sekali sama-sama dengan kita di gerakan,” kata Mikael.
Menurut Mikael, Maria merupakan sosok yang berani tampil dan tidak memilih diam ketika melihat persoalan di tengah masyarakat.
Setelah kembali ke Papua, aktivitas Maria tidak berhenti di kota. Ia justru lebih banyak bergerak ke kampung-kampung di Siriwo dan Mapia.
“Kalau dia turun ke kota, dia selalu kontak kami, cerita-cerita,” ujar Mikael.
Maria sering bercerita tentang kondisi anak-anak yang ditemuinya di kampung. Ada anak yang tidak bersekolah, belum bisa membaca dan menulis, bahkan tidak memiliki akses terhadap buku bacaan.
Menurut Mikael, Maria juga kerap mengkritik kawan-kawannya di kota. Ia mempertanyakan kegiatan yang terlalu banyak berlangsung di perkotaan ketika anak-anak di kampung masih membutuhkan buku dan ruang belajar.
“Dia bilang, anak-anak butuh buku, rumah baca, rumah belajar, macam-macam,” ujar Mikael.
Beberapa tahun terakhir, Maria disebut berpindah dari satu kampung ke kampung lain. Ia menemui masyarakat, mengumpulkan anak-anak dan membangun kegiatan belajar dengan kemampuan yang dimilikinya.
Tidak banyak fasilitas yang tersedia. Ia mengandalkan kemauan, tenaga, dan dukungan masyarakat setempat.
Mikael masih sempat bertemu Maria sekitar Juli 2026 di Kalibogo, Nabire. Dalam pertemuan itu, Maria bercerita tentang rencananya kembali ke kampung karena masih banyak pekerjaan yang ingin dilakukan.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu perjumpaan terakhir mereka.
Bagi kawan-kawannya, nama Maria juga lekat dengan sebutan Mama Papua.
“Kalau anak-anak bilang, kenal Maria Butu atau tidak? Siapa? Yang Mama Papua kah? Mereka pasti tahu siapa itu Mama Papua,” kata Mikael.
Ia mengenang Maria sebagai sosok yang aktif dan produktif dalam kegiatan masyarakat.
“Dia sangat produktif,” katanya.
Kerja Dulu, Baru Duduk Cerita
Yusni Iyowai, kerabat Maria sekaligus mantan Ketua Asosiasi Perempuan Asli Papua (APAP), mengingat Maria sebagai perempuan yang tidak banyak menunggu bantuan untuk menjalankan pekerjaannya.
Menurut Yusni, Maria berusaha membiayai sendiri berbagai aktivitas yang dilakukannya.
Ia pernah berjualan es, pinang dan sembako di pasar. Maria juga pernah mendulang emas bersama warga. Hasil dari pekerjaan tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk membeli buku tulis dan menggandakan bahan belajar.
Maria juga dikenal membantu warga yang mengalami kesulitan.
Yusni mencontohkan ketika sejumlah mama pedagang di Topo mengalami kesulitan membawa hasil kebun ke pasar Nabire pada 2023.
Maria kemudian menyediakan layanan antar-jemput menggunakan sepeda motornya.
“Yang penting mama-mama jualan laku. Soal uang ojek jangan bayar,” kata Yusni, mengenang ucapan Maria.
Bagi Yusni, kebiasaan Maria sederhana: bekerja lebih dahulu sebelum berbicara panjang.
“Dia perempuan yang kerja dulu baru duduk cerita,” ujar Yusni.
Menurut Yusni, Maria juga banyak membantu orang sakit, warga kurang mampu, serta keluarga yang mengalami kesulitan di kampung. Ia aktif memberikan informasi kepada masyarakat mengenai hak-hak dasar dan berbagai persoalan yang dihadapi warga.
Guru bagi Mereka yang Ditemuinya
Otma Butu, kerabat Maria sekaligus aktivis KNPB Wilayah Mapia, memiliki kenangan lain tentang Maria.
Bagi Otma, Maria adalah guru dalam arti yang lebih luas: seseorang yang mengajarkan pengetahuan melalui perjumpaan langsung dengan masyarakat.
“Maria ini sebagai saya punya guru,” kata Otma.
Menurut Otma, setelah kembali dari Jawa, Maria memilih turun ke kampung dan hidup bersama masyarakat. Ia tidak memilih menetap di Nabire untuk mencari pekerjaan kantoran.
Otma juga menyebut Maria aktif berdiskusi dengan masyarakat mengenai sejarah Papua, organisasi, tanah adat, pendidikan, dan berbagai persoalan yang dihadapi warga.
Ia mengenang Maria sebagai sosok yang tidak betah hanya berada di satu tempat.
“Dia orang yang tidak bisa duduk di satu tempat. Harus bergerak terus,” kata Otma.
Warisan yang Tinggal
Kisah Maria Butu memperlihatkan sisi lain perjuangan pendidikan di pedalaman Tota Mapiha.
Di tengah keterbatasan listrik, buku, fasilitas belajar dan akses transportasi, ia memilih hadir bersama anak-anak.
Ia mengajar dengan fasilitas yang tersedia. Ketika listrik tidak ada, lilin digunakan. Ketika ruang kelas tidak tersedia, pondok, bawah pohon atau pinggir kali menjadi tempat belajar.
Maria tidak menyebut dirinya guru.
Namun, bagi anak-anak yang pernah belajar bersamanya, kehadirannya menjadi bagian dari pengalaman memperoleh pendidikan.
Kini Maria telah berpulang. Tetapi cerita tentang Mama Papua masih hidup dalam ingatan anak-anak yang pernah belajar membaca bersamanya, masyarakat yang pernah dibantunya, serta kawan-kawan yang pernah berjalan bersamanya.
Pesan Maria sederhana dan menjadi prinsip hidupnya:
“Ini kan panggilan hidup. Kerja saja, nanti Tuhan buka jalan”. [*]














