Nabire, Kalawaibumiofi.com | Persiapan pembentukan Pers Mahasiswa Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire menggelar diskusi publik bertajuk “Peranan Pers di Tengah Derasnya Arus Informasi dan Modernisasi” di Kampus USWIM, Jalan Martha Tiahahu, Kelurahan Kalibobo, Kabupaten Nabire, Jumat (5/6/2026).
Kegiatan tersebut bertujuan mendorong terbentuknya Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) sekaligus meningkatkan minat mahasiswa dalam dunia jurnalistik, literasi media, dan budaya menulis di tengah perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat.
Salah satu pemateri, Yohanes Gobai, yang juga merupakan Jurnalis Nadi Papua dan Sekretaris Kolektif Jurnalis Pinggiran Papua, menjelaskan bahwa diskusi tersebut merupakan inisiatif mahasiswa sebagai bagian dari proses pembentukan Pers Mahasiswa USWIM. Menurutnya, keberadaan pers mahasiswa sangat penting sebagai ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami jurnalistik, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta mengawal berbagai kebijakan yang berdampak pada masyarakat maupun lingkungan kampus.
“Pers mahasiswa nantinya menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar menulis, menyampaikan pendapat melalui tulisan, mengkritik berbagai persoalan, dan mengawal kebijakan yang berdampak bagi masyarakat. Selain itu, lembaga ini juga dapat menjadi wadah kaderisasi dan pengembangan kemampuan jurnalistik mahasiswa,” ujar Gobai usai kegiatan.
Ia menilai pers mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai media informasi di lingkungan kampus, tetapi juga berperan sebagai jembatan antara dunia akademik dan masyarakat. Melalui karya jurnalistik yang berkualitas, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan informasi yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi publik.
Dalam pemaparannya, Gobai menyoroti derasnya arus informasi di era digital yang bergerak sangat cepat. Menurutnya, perkembangan teknologi telah memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses informasi, namun pada saat yang sama juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran hoax, disinformasi, dan manipulasi informasi.
“Mahasiswa harus belajar menjadi jurnalis yang mampu memverifikasi fakta dan data sebelum menyampaikan informasi kepada publik. Pers mahasiswa harus hadir untuk mengonfirmasi dan memverifikasi setiap informasi sehingga pemberitaan yang dihasilkan benar-benar berdasarkan fakta,” katanya.
Diskusi tersebut juga membahas peran strategis Lembaga Pers Mahasiswa dalam menghadapi tantangan krisis informasi. Pers mahasiswa dinilai memiliki tanggung jawab untuk menjaga akurasi informasi, meningkatkan literasi media, menjadi ruang pendidikan demokrasi, mengawasi kebijakan publik, serta menjembatani komunikasi antara kampus dan masyarakat.
Selain itu, peserta diajak memahami bahwa modernisasi tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi, tetapi juga mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat yang cenderung serba cepat dalam membaca, menilai, dan menyebarkan informasi. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kemampuan berpikir kritis apabila tidak diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai.
Dalam konteks Papua, Gobai menekankan bahwa pers mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih luas untuk mendokumentasikan berbagai realitas sosial, mengangkat suara masyarakat, serta menghadirkan perspektif lokal dalam berbagai isu yang berkembang.
Pada kesempatan itu, ia juga mengajak mahasiswa untuk membangun budaya menulis yang berorientasi pada pendidikan dan pencerahan masyarakat. Menurutnya, menulis merupakan sarana penting untuk menyampaikan gagasan, mendokumentasikan peristiwa, serta mendorong perubahan sosial yang positif.
Ia mengutip pemikiran filsuf dan ekonom Jerman, Karl Marx, yang menyatakan bahwa “menulis membutuhkan uang, tetapi menulis bukan untuk menjadikan uang sebagai tujuan.” Menurut Gobai, kutipan tersebut mengandung makna bahwa aktivitas menulis harus dilandasi semangat untuk menyampaikan kebenaran dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan semata-mata untuk memperoleh keuntungan materi.
Gobai mengapresiasi antusiasme mahasiswa yang mengikuti diskusi publik tersebut. Ia berharap kehadiran Pers Mahasiswa USWIM dapat menjadi wadah pembelajaran yang mampu melahirkan generasi muda yang kritis, independen, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi.
“Ketika informasi bergerak begitu cepat, pers mahasiswa harus menjadi pihak yang teliti dalam mencari kebenaran. Tugas utama pers bukan sekadar menjadi yang tercepat memberitakan, tetapi memastikan setiap informasi yang disampaikan telah melalui proses verifikasi dan berpihak pada fakta,” tutupnya.
Melalui diskusi publik ini, mahasiswa USWIM diharapkan semakin memahami pentingnya peran pers mahasiswa sebagai ruang pembelajaran jurnalistik, pengembangan budaya menulis, serta sarana membangun kesadaran kritis dalam menghadapi tantangan informasi di era digital dan modernisasi. [*]

















