“Petani kopi di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, meminta pemerintah menyediakan mesin pengupas dan penggiling kopi serta memberikan pendampingan secara berkelanjutan. Welimus Pela, petani asal Kampung Trikora, Distrik Mulia, mengatakan masyarakat telah menanam kopi sejak 1990-an. Namun, keterbatasan peralatan dan pelatihan masih menghambat pengembangan usaha kopi lokal”
Puncak Jaya, Kalawaibumiofi | Welimus Pela, petani kopi di Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, meminta pemerintah daerah menyediakan mesin pengupas kulit dan penggiling kopi. Pasalnya, keterbatasan peralatan membuat petani kesulitan mengolah hasil panen menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Welimus mengatakan, ia dan petani kopi lainnya di wilayah itu telah menanam kopi sejak 1990-an. Namun, pengembangan perkebunan kopi masih menghadapi berbagai kendala, terutama keterbatasan mesin pengolahan, pelatihan, dan pendampingan teknis.
“Selama ini kami tetap menanam kopi dan tidak pernah meninggalkan tanaman kopi. Namun, kekurangan kami adalah mesin pengupas kulit kopi dan mesin pengolah hasil panen. Sampai sekarang fasilitas itu masih sangat kurang,” kata Welimus yang merupakan salah satu petani kopi asal Kampung Trikora, Distrik Mulia, saat ditemui di Kantor Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Puncak Jaya, Jumat (6/11/2026).
.Selama bertahun-tahun petani belum mendapatkan pendidikan dan pelatihan yang cukup mengenai cara menanam, merawat, serta mengolah kopi setelah panen.
Perhatian pemerintah terhadap pengembangan kopi mulai dirasakan sekitar 2019 hingga 2020. Namun, program pendampingan belum berjalan secara rutin karena terkendala situasi dan kondisi daerah.
Welimus menjelaskan petani masih menggunakan peralatan sederhana untuk mengolah hasil panen. Keterbatasan mesin membuat mereka kesulitan melanjutkan proses pengolahan hingga menghasilkan kopi yang siap dipasarkan.
“Padahal hasil perkebunan kopi menjadi salah satu harapan masyarakat untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk membiayai pendidikan anak-anak,” jelasnya.
Welimus menyambut baik pelatihan budidaya kopi berkelanjutan dan pascapanen yang dilaksanakan melalui kerja sama Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Dinas Perkebunan dan Peternakan, serta Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI).
Kata dia, pelatihan tersebut memberikan kesempatan kepada petani untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru dalam mengembangkan perkebunan kopi.
“Sebagai petani kopi, saya sangat senang. Ke depan, kerja sama antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten sangat penting, khususnya untuk pengembangan kopi,” katanya.
Ia berharap kegiatan pelatihan tidak berhenti setelah program selesai. Pemerintah perlu melanjutkan pembinaan dan mendampingi petani secara rutin agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan di kebun masing-masing.
“Kami masyarakat pegunungan hanya membutuhkan pembinaan dan pendampingan supaya bisa mengembangkan usaha kopi dengan lebih baik,” harap Welimus.
Selain pendampingan, ia meminta Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah membantu menyediakan mesin pengupas kulit kopi dan mesin penggiling.
Lanjutnya, bantuan peralatan tersebut sangat dibutuhkan agar petani dapat mengolah hasil panen dengan lebih baik dan meningkatkan nilai jual kopi.
“Kami minta tolong kepada pemerintah daerah Kabupaten Puncak Jaya dan Pemerintah Provinsi Papua Tengah, kalau bisa membantu kami dengan mesin giling dan mesin pengupas kopi. Itu yang kami harapkan. Kami tidak bisa berharap kepada siapa-siapa lagi, kami hanya berharap kepada pemerintah,” tuturnya.
Welimus berharap pemerintah, petani, dan pihak terkait dapat bekerja sama mengembangkan perkebunan kopi di Puncak Jaya.
Ia ingin petani tidak hanya menghasilkan biji kopi, tetapi juga memiliki kemampuan dan peralatan untuk mengolah serta memasarkan produk sendiri.
“Dengan dukungan mesin pengolahan, pelatihan, dan pendampingan yang berkelanjutan, kopi diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan yang lebih baik bagi keluarga petani di Kabupaten Puncak Jaya,” pungkasnya. [*]












