Nabire, Kalawaibumiofi.com | Menjelang Hari Perempuan Internasional 8 Maret, Bendahara Pemuda Katolik Papua Tengah, Kristina O. Waine, mengajak perempuan Papua, khususnya di Papua Tengah untuk menguatkan peran dan meredefinisi martabat diri.
Menurut Waine, nilai perempuan bukan ditentukan oleh penampilan, status sosial-ekonomi, atau perkawinan, melainkan kesadaran sebagai ciptaan Tuhan dan penerimaan keunikan diri, sebagaimana dalam bacaan Titus 2:3-7.
“Perempuan Papua mesti artikan martabat melalui harmoni, serta kepercayaan masing-masing. Mari redefinisi martabat melalui harmoni antara ajaran iman sebagai akar, penjagaan tradisi adat, dan kemandirian ekonomi sebagai fondasi peradaban Papua dan Papua Tengah,” tulis Waine melalui pesan selulernya diterima kalawaibumiofi, Sabtu (07/03/2026).
Waine khawatir dengan kondisi sosial sejak 2017 di Papua Tengah, seperti perceraian dini dan penyebaran HIV/AIDS akibat pergaulan bebas serta pergeseran nilai.
“Saya tidak bicara angka, tapi perempuan mesti nyalakan kembali api yang meredup dan bangun kesadaran bahwa perempuan adalah jantung peradaban,” tegasnya.
Ia menekankan tiga perspektif yakni : Tuhan, Budaya, dan Ekonomi.
- Iman : Perempuan punya posisi mulia. Ciri wanita bijak menurut Alkitab meliputi berhikmat (Ams 8:17; 13:20), meningkatkan keahlian (Ams 31:2,7), karakter menyenangkan (Ams 11:30), perkataan membangun (Ams 10:19; 16:13), mengasihi jiwa (Fil 1:4; Yoh 13:34-35), serta menjadi ibu bagi wanita lain (Tit 2:3-4).
- Budaya : Perempuan Papua sebagai penjaga rahasia adat dan simbol kehormatan. Dalam adat Mee, disebut “Yagamo ko kabo” (dasar/fondasi). Leluhur bilang: “Yagamo wege tetai, Yagamo wege tipeko kabo wege teete” (jaga perempuan baik-baik, karena dasar rumah dan hidup).
- Ekonomi : Motor penggerak ekonomi mikro di dapur dan pasar tradisional, meski sering tak tercatat statistik.
Waine mengajak perempuan Papua berhenti merasa kecil dan sadari keunikan Tuhan. “Saat perempuan Papua sadari fungsinya utuh sebagai pilar iman dan penjaga tradisi, kebangkitan Papua dan Papua Tengah dimulai dari dalam diri mereka, menyalakan pelita redup di rumah-rumah,” pungkasnya. [*]

















