Langkahnya mungkin tidak sempurna, namun tekadnya bulat dan suaranya lantang. Di bawah langit Nabire yang mendung namun tak turun hujan, suasana di kompleks Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina dan Mepa Boarding School terasa begitu hidup pada Sabtu, 2 Mei 2026. Ribuan mata tertuju pada sosok remaja tangguh, Deki Degei, yang dengan gagah memimpin upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di hadapan Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, dan jajaran pemprov.
Deki Degei, siswa berusia 16 tahun ini, hanya memiliki satu kaki. Namun, keterbatasan fisik itu sama sekali tidak memadamkan semangatnya untuk berdiri tegak dan memimpin. Saat komando “Hormat, Grak!” dikumandangkan, seluruh hadirin terpana melihat ketegasan dan keyakinan yang terpancar dari dirinya.
“Saya sangat senang dan bangga. Ini pertama kali saya memimpin upacara, apalagi di depan Bapak Gubernur,” ujar Deki dengan senyum tulus usai acara.
Perjalanan Sang Pejuang
Keberanian Deki bukanlah hal yang instan. Kecelakaan tragis saat berusia enam tahun di Jayapura merenggangkan fungsi kaki kirinya yang terlindas truk. Namun, alih-alih menyerah atau bergantung pada alat bantu, Deki memilih jalannya sendiri. Ia menolak tongkat maupun kaki palsu, dan memilih bergerak dengan melompat menggunakan satu kaki, layaknya seorang “ninja”.
Kemandirian itu kian terasah saat ia menempuh pendidikan di kampung halamannya, Paniai. Naik turun gunung untuk mengambil air bersih hingga aktif bermain voli menjadi bukti bahwa baginya, keterbatasan bukanlah penghalang.
“Guru-guru selalu bilang saya harus lanjut sekolah,” katanya. Kini, ia menimba ilmu di Mepa Boarding School, lembaga pendidikan yang didedikasikan untuk mencetak generasi unggul dengan pendekatan karakter dan spiritualitas.
Di balik senyum sederhananya, Deki menyimpan mimpi besar. “Kelak saya ingin jadi Kepala Dinas Pendidikan, supaya anak-anak Papua bisa semakin pintar dan cerdas,” ucapnya mantap.
Pendidikan untuk Semua, Tak Ada yang Tertinggal
Kehadiran Deki menjadi simbol nyata dari tema Hardiknas tahun ini: “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Gubernur Meki Fritz Nawipa dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan inklusif bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Upacara yang digelar di lingkungan SLB ini menjadi pesan kuat bahwa anak-anak berkebutuhan khusus tidak boleh berada di pinggir perhatian, melainkan mendapatkan fasilitas dan kesempatan yang sama.
“Keterbatasan bukanlah penghalang untuk memimpin. Bermimpi setinggi puncak Carstensz. Pemerintah ada di belakang kalian,” tegas Gubernur.
Momen ini juga menjadi sejarah baru dengan diluncurkannya secara resmi jenjang SMP Negeri Pembina Provinsi Papua Tengah. Langkah ini merupakan komitmen Pemprov untuk memastikan tidak ada satupun anak Papua Tengah yang tertinggal.
Gubernur juga memberikan apresiasi tinggi kepada para siswa yang tampil memukau, mulai dari pengibaran bendera, pembacaan naskah proklamasi, hingga pemenang lomba mewarnai, menggambar, dan lompat karung. Tak lupa, penghargaan juga diberikan kepada yayasan dan pendidik yang tak lelah mendampingi anak-anak istimewa ini.
Harapan Baru
Mepa Boarding School yang diresmikan September 2025 lalu hadir bukan sekadar sebagai bangunan, melainkan rumah kedua yang membangun karakter. Di sini, Deki dan ratusan siswa lainnya diajarkan bahwa pendidikan adalah hak semua orang.
Hari itu, Deki Degei tidak hanya memimpin barisan upacara. Ia telah memimpin perubahan cara pandang: bahwa dengan keberanian, tekad, dan kesempatan yang setara, setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan, setinggi langit Papua Tengah. [*]




















