TAKSI mengantarku dari Bandara Adisucipto ke pintu rumah sakit. Demi merawat ibuku, aku tinggal di pekarjanku di Ibu Kota. Ibu tampak kuyu. Berjojolan kecil yang selama ini diabaikannya ternyata kanker payudara. Nyeri menjalar hingga ke punggung. Kanker terlanjur memamangsa tubuh rentanya. Ibu sudah putus asa. Dia bahkan sempat menangis sambil berseru, “Tuhan, lebih baik aku mati saja… jangan tambah lagi deritaku…!”
Sudah seminggu ini ibu terkurung di rumah sakit. Tambah hari berarti tambah biaya. Gajiku sebagai manajer menengah tak cukup lagi membiayai tagihan. Terpaksa aku hutang sana-sini. Siang ini ibu akan menjalani pemeriksaan lanjutan.
“Panggilkan ibu perawat, Nang,” kata ibu. Kuketukan tombol darurat. Tak lama, seorang perawat datang.
“Ibu Anastasia, selamat pagi. Saya Suster Karina, pengganti Suster Tika yang biasa merawat ibu. Ada yang bisa saya bantu?” tutur sang perawat dengan suara ramah.
“Saya sesak napas, Sus,” keluh ibu.
Suster berparas menawan itu bergegas memeriksa ibuku. Berbeda dengan suster sebelumnya, suster yang satu ini lebih cermat merawat ibuku. Dari caranya menyapa dan memeriksa, aku bisa mengetahuinya. “Kondisi Ibu cukup stabil. Ibu tidak perlu cemas,” sarannya sambil melemparkan senyuman manis. Ibuku membalas dengan senyuman pula.
“Terima kasih, Suster. Sebelumnya, Suster melayani di unit mana?” tanyaku ingin tahu.
“Saya baru pindah tugas dari Malang ke Yogya, Pak. Baru hari ini melayani di unit ini,” jawabnya santun.
“Suster, anak saya belum nikah. Panggil saja dia, Mas Nanang,” seloroh ibu.
“Oh, maaf Pak… eh… Mas Nanang. Kalau perlu bantuan, dengan senang hati saya layani,” tuturnya lembut. Ibu dan aku mengangguk.
Hari-hari selanjutnya, Suster Karina semakin mengunjungi ibuku meski sebenarnya dia bertugas di unit lain. Kami bertemu semakin sering mengobrol. Dari obrolan itulah aku tahu, Suster Karina bukan suster perawat biasa. Dia suster biarawati yang ditugaskan menjadi perawat. Agar mudah mendekati pasien yang beraneka agama, Suster Karina memakai baju dinas seperti perawat lainnya.
“Saya tidak mau dianggap istimewa karena pakai baju biara,” tambahnya. Kesederhanaannya semakin membuatku terkagum-kagum.
“Suster, bolehkah saya minta nomor HP. Supaya kita gampang berkomunikasi,” pintaku.
Aku berhasil mendapatkan nomornya. Sejak itu, aku sering menelponnya. Awalnya, menuntut untuk meminta saran medis. Lama-kelamaan, untuk mengobati rasa rinduku akan suaranya yang lembut itu. Aku bisa mencurahkan kegelisahan hatiku padanya, “Aku ini anak tunggal, Suster. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, aku kerja di Jakarta. Aku selalu kelelahan dan hidup sendirian. Seandainya ada orang yang mau menemani, kami akan sangat senang.”
Sembari tertawa renyah, suara di ujung sana berkata, “Mengapa Mas Nang ngomong begitu saja? Bukannya Mas sudah cukup mapan? Lagi pula…wajah Mas nggak jelek-jelek amat… hahaha…”
“Siapa yang mau menerima aku dan ibu apa adanya? Selama ini cuma Suster yang mau,” tuturku lugu.
“Maksud Mas?” tanyanya.
Mendadak aku jadi salah tingkah. “Em… nggak Suster. Aku kagum dengan keramahan Suster saja itu. Seandainya aku punya istri seperti Suster, pasti ibu akan sangat senang.” Entah roh apa yang merasukku hingga aku berani berkata seperti itu. Sesaat aku dan Suster terdiam.
“Terima kasih pujian Mas,” ujarnya menutup pembicaraan. Sepekan kemudian “salah tingkah” itu, ketekunan dan kelembutan Karina makin erat. Kadang aku menemani berjalan pulang ke biara sambil bercerita di tengah remangnya suasana malam. Romantis rasanya.
Suatu malam aku memberanikan diri bertanya, “Sus, kok mau-mau saja jadi suster? Jangan-jangan Suster putus cinta lalu kecewa dan lari ke biara. Hayo, jujur saja.”
“Ah, bukan begitu, Mas. Aku tertarik jadi suster setelah terkesan dengan kebaikan seorang suster pada keluargaku. Namanya, Suster Yosefa. Dialah yang selama dua tahun merawat ayahku yang stroke hingga setia hingga ayahku wafat. Sepeninggal ayah, Suster Yosefa rajin mengunjungi aku, adikku, dan ibuku. Lama-lama aku ingin jadi suster seperti dia,” tutur Suster Karina sambil merenungkan peristiwa lima tahun silam. Aku menghela napas panjang.
“Aku baru mengerti kenapa Suster begitu memperhatikan dan merawat ibuku dengan baik,” kataku.
“Ya, Mas. Aku anggap semuanya, juga ibu Mas, seperti ayah sendiri,” sambungnya. Mendengar jawaban itu, aku terharu.
“Suster, jujur aku suka padamu. Tapi, aku tahu Suster bukan milikku lagi. Banyak orang membatalkan niatnya menjadi suster. Maafkan kalau selama ini aku sering nakal mengajak ngobrol dan Suster,” tuturku. Suster Karina mengangguk pelan sambil mengembarkan senyum manisnya.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Suatu pagi telponku berbunyi. “Mas Nanang dan Ibu, doakan saya agar pengajuan kaul kekal saya diterima. Pamitkan ke Ibu, ya. Seminggu ini saya rapat dan wawancara dengan pimpinan Suster Karina di Bandung,” pesan singkat Suster Karina.
“Ya Suster. Jangan lupa oleh-olehnya ya,” jawabku.
Seminggu kemudian, Suster Karina belum juga kunjung mengunjungi aku dan ibuku. Kububungi HP-nya, tapi tak pernah berhasil. Kutanya para perawat lain, tapi tiada yang tahu mengapa dia belum kembali ke Yogya.
Aku datang ke biara untuk menanyakan kabarnya. “Oh, mungkin dia sakit, Mas,” jawab seorang suster padaku.
Aku bertambah gelisah. Ada apa gerangan? Lantas, aku kembali ke rumah sakit dengan langkah gontai. Begitu sampai pintu kamar, ibu berkata, “Nang, kenapa HP-ku tak nyala? Tiada ada sms masuk.” Segera kuambil HP-ku. Aha… ada sms dari Suster Karina. Tak sabar aku membukanya.
“Mas Nanang dan Ibu. Mungkin menjadi suster bukan panggilanku. Permohonan kaul kekal saya tidak diterima.” Bagai tertimpa petir di siang bolong, aku terkejut. Cepat-cepat kutelpon dia.
“Kenapa Sus? Kenapa orang baik seperti Suster tidak diterima?” selidikku.
“Sudahlah Mas, nasi sudah jadi bubur. Pimpinan lebih percaya isu-isu daripada penjelasanku,” tuturnya dengan suara tergata-gata.
“Maksud Suster apa?” tanyaku.
“Aku difitnah beberapa orang, Mas. Mereka bilang, aku sering pulang malam dan bertemu lelaki. Mereka bahkan bilang lelaki itu berulang kali memeluk dan menciumku mesra. Mereka bahkan bilang lelaki itu…” mendadak suara di seberang sana menangis terisak. Tak terasa, mataku mulai berkaca-kaca.
“Maafkan aku… sekali lagi maafkan… aku tak tahu jadinya begini… aku…,” sontak kerongkonganku tercekik. Aku tak bisa lagi berkata-kata. Air mataku membanjir. Di ujung batas, pada malam pertemuan yang dalamnya, aku memendam mencium keningnya sebagai tanda terima kasihku padanya. [*]
*Penulis: Bobby Steven
Sumber: Majalah Hidup, 26 Agustus 2012.

















