Jayapura, Kalawaibumiofi.com | Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB mengklaim merampas dua pucuk senjata api (senpi) milik TNI, saat menyerang pos keamanan di Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Minggu (22/03/2026).
Penyerang yang dilakukan TPNPB Komando Daerah Pertahanan (Kodap) IV Sorong Raya yang berujung kontak tembak tersebut, menyebabkan dua prajurit TNI Angkatan Laut (AL) tewas dan satu lainnya luka berat.
Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom menyatakan, dalam penyerangan itu TPNPB Kodap IV Sorong Raya, merampas sepucuk senjata mesin ringan FN Minimi MK3 buatan Belgia, sepucuk senjata serbu M4, dua unit magazen, dan puluhan butir amunisi kaliber 5,56 milimeter.
Menurut Sebby Sambom, TPNPB tidak akan mengembalikan persenjataan tersebut melalui pihak mana pun, karena telah menjadi aset untuk kepentingan perjuangan kemerdekaan Papua.
“Seluruh logistik aparat TNI yang telah disita, kini menjadi aset Kodap IV Sorong Raya dan akan digunakan untuk kepentingan medan perang di [Tanah] Papua,” kata Sebby Sambom dalam siaran pers tertulisnya, Rabu (25/03/2026).
Pihaknya juga mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI Agus Subianto untuk mengakui jumlah prajurit yang tewas dalam pertempuran di Maybrat, dan meminta pemerintah berhenti memberikan stigma kelompok kriminal kepada TPNPB.
Katanya, sebagai bagian dari wilayah operasi perang, TPNPB juga telah menetapkan wilayah Aifat Timur dan Kabupaten Maybrat di Papua Barat Daya sebagai zona merah.
Sebelumnya, Sebby Sambom mengatakan TPNPB siap bertanggung jawab dalam penyerangan di Maybrat yang menewaskan dua prajurit TNI AL itu, dan melukai satu lainnya.
Prajurit TNI yang tewas dalam kontak tembak ketika itu adalah Prada Marinir Elki Saputra anggota Yonmar 10, Prada Marinir Andi Suvio prajurit Yonmar 7 dan korban luka, Kopda Marinir Eko Sutikno anggota Yonmar 7.
Komandan Korem (Danrem) 181/Praja Vira Tama (PVT), Brigjen TNI Slamet Riyadi setalah insden itu mengatakan, pihaknya sudah dapat menduga siapa pelaku penyerangan itu.
Sementara itu, Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu mengatakan, kejadian ini menjadi pengingat agar kewaspadaan terus ditingkatkan dan tidak memberi ruang bagi insiden serupa kembali terjadi.
“Kita tidak boleh memberi celah untuk kejadian seperti ini terulang lagi. Kita berharap, ke depan tidak ada lagi tindakan seperti ini atas nama apa pun,” kata Elisa Kambu, Minggu (22/03/2026). (Davine)
