Nabire, Kalawaibumiofi.com | Sebanyak 1.190 titik panas (hotspot) terdeteksi di delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah sepanjang 1–13 September 2026. Deteksi tersebut menunjukkan peningkatan tajam pada periode 10–13 September, dengan jumlah tertinggi tercatat pada 13 September sebanyak 376 titik.
Data Stasiun Meteorologi Douw Ature Nabire, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menunjukkan 949 titik panas atau sekitar 79,7 persen dari total deteksi selama periode tersebut muncul dalam empat hari terakhir, yakni 10–13 September.
Pada awal September, jumlah titik panas masih relatif rendah dan berfluktuasi. Peningkatan mulai terlihat pada 6–9 September dan kemudian melonjak sejak 10 September.
Berdasarkan sebarannya, Kabupaten Nabire mencatat jumlah titik panas terbanyak dengan 496 titik atau 41,7 persen dari keseluruhan deteksi di Papua Tengah. Puncak berada di urutan kedua dengan 331 titik atau 27,8 persen.
Selanjutnya, Paniai tercatat memiliki 136 titik panas atau 11,4 persen dan Dogiyai sebanyak 128 titik atau 10,8 persen. Titik panas juga terdeteksi di Puncak Jaya, Intan Jaya, Deiyai, dan Mimika.
Jika digabungkan, Nabire dan Puncak menyumbang 827 titik panas atau sekitar 69,5 persen dari seluruh deteksi di Papua Tengah selama periode tersebut.
Mayoritas Tingkat Kepercayaan Sedang
BMKG mencatat sebagian besar deteksi berada pada tingkat kepercayaan sedang. Dari 1.190 titik panas, sebanyak 999 titik atau 83,9 persen berada dalam kategori tersebut.
Sementara itu, 122 titik atau 10,3 persen berada pada tingkat kepercayaan rendah dan 69 titik atau 5,8 persen berada pada tingkat kepercayaan tinggi.
“Sebagian besar deteksi berada pada tingkat kepercayaan sedang, yaitu 999 titik atau 83,9 persen,” demikian catatan BMKG melalui Stasiun Meteorologi Douw Ature Nabire.
BMKG mengingatkan bahwa titik panas merupakan hasil deteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan seluruh titik tersebut sebagai kebakaran aktif pada waktu yang sama.
Karena itu, data hotspot perlu ditindaklanjuti dengan verifikasi di lapangan untuk memastikan apakah titik yang terdeteksi merupakan kebakaran, pembakaran lahan, atau sumber panas lainnya.
Meski demikian, peningkatan jumlah deteksi dalam beberapa hari terakhir menjadi indikator yang perlu diwaspadai, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi.
Nabire dan Puncak Perlu Diwaspadai
Dengan tingginya konsentrasi titik panas di Nabire dan Puncak, pemantauan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan perlu diperkuat. Patroli dan verifikasi lapangan dibutuhkan untuk memastikan titik-titik yang terdeteksi satelit dapat segera ditangani apabila terbukti sebagai kebakaran.
Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan, terutama dalam kondisi cuaca dan vegetasi yang berpotensi mendukung penyebaran api.
Warga yang menemukan asap atau api di sekitar permukiman maupun kawasan hutan dan lahan diharapkan segera melaporkannya kepada aparat atau instansi terkait.
Data tersebut bersumber dari analisis Stasiun Meteorologi Douw Ature Nabire untuk periode 1–13 September 2026. [*]













