Nabire, Kalawaibumiofi.com | Panas terik matahari tidak menyurutkan semangat ratusan warga masyarakat kerukunan Maluku memadati kawasan Pantai Jasbri, di Kawasan Boratei, Distrik Teluk Kimi Nabire hari ini, Minggu (17/5/2026). Di bawah langit biru yang cerah di sela sela pepohonan, riuh suara tawa, sapaan akrab, dan alunan musik khas Maluku bergema menyatu dengan deburan ombak. Ratusan orang berkumpul dalam satu ikatan persaudaraan untuk merayakan Hari Ulang Tahun Perjuangan Pattimura ke-209, puncak rangkaian kegiatan besar yang digelar oleh Ikatan Keluarga Maluku (IKEMAL) Nabire.
Suasana semakin hidup dan berwarna saat sejumlah seniman dan artis asal Maluku dan Papua seperti Marvey Kaya, Whllyona, Ongen dan Ica yang tampil menghibur warga. Juga Sebuah puisi dari Willy bernafaskan semangat perjuangan Kapitan Pattimura dibacakan dengan penuh penghayatan, mengingatkan kembali seluruh hadirin akan sejarah keberanian leluhurnya yang tidak mau dijajah dan selalu menjunjung tinggi harga diri. Tak ketinggalan, tarian adat yang memesona seperti Toki Gaba-gaba dan tarian tradisional lainnya turut dipentaskan, memukau mata para tamu undangan maupun warga yang hadir.
Keistimewaan acara ini terasa semakin dirasakan melalui keberagaman kuliner yang tersaji. Dua puluh dua Sub Rukun yang ada di bawah naungan IKEMAL Nabire berlomba menyajikan beragam menu khas Maluku yang menggugah selera. Mulai dari ikan bakar, sambal colo-colo, kasbi, hingga aneka olahan sagu tersedia melimpah di sepanjang pantai, menjadi bukti nyata persatuan dari setiap wilayah pemukiman warga Maluku di Nabire.
Rangkaian Kegiatan Sarat Makna
Ketua Panitia Pelaksana, Andrey Tahapary, dalam laporannya menyampaikan bahwa peringatan tahun ini disusun dalam serangkaian kegiatan yang penuh makna dan berjalan selama tiga hari berturut-turut. Menurutnya, persiapan dan pelaksanaan tahun ini menjadi momen yang sangat istimewa dan bersejarah.
“Bapak-Ibu sekalian, perlu diketahui bahwa acara tahun ini kami laksanakan dalam tiga tahap kegiatan besar. Pertama, pada tanggal 15 Mei lalu kami melaksanakan ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nabire. Di hari yang sama, kami juga menggelar tradisi Cakalele sekaligus pembakaran Obor Pattimura di Tugu Pattimura sebagai simbol api semangat juang yang tak pernah padam,” ungkap Andrey di hadapan ratusan warga.
“Dan hari ini, Minggu 17 Mei 2026, kita berkumpul disini di Pantai Jasbri untuk melaksanakan acara puncak, yaitu tradisi adat Makan Patita,” tambahnya.
Andrey mengaku, pelaksanaan kegiatan sebesar ini tidak akan terwujud tanpa dukungan berbagai pihak. Seperti Gubernur Papua Tengah dan Wakilnya, Bupati Nabire serta sumbambangan warga.
“Hasilnya terbayar lunas dengan kebersamaan hari ini. Baru kali ini dalam sejarah organisasi kami, kita mampu menyelenggarakan acara dengan skala dan kemegahan seperti ini di tanah perantauan Nabire,” ujar Andrey.
“Terima kasih mendalam kepada Pemerintah Kabupaten Nabire, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta seluruh para donatur dan dermawan yang telah menyisihkan sebagian rezekinya demi suksesnya peringatan bersejarah ini,” tambah Andrey.

Filosofi Makan Patita: Di Meja Makan Tak Ada Kaya dan Miskin
Puncak acara dan inti dari seluruh perayaan ini adalah tradisi Makan Patita. Momen sakral ini dibuka secara resmi oleh Ketua IKEMAL Nabire, Edward Berhitu. Dalam sambutannya yang sarat emosi dan nilai budaya, Edward menjelaskan makna mendalam di balik tradisi yang menjadi jati diri orang Maluku ini.
Baginya, “Makan Patita” bukan sekadar acara makan-makan biasa, melainkan perwujudan nyata dari filosofi hidup orang Maluku: Alerasa, Betarasa.
“Makan Patita artinya makan bersama, makan saudara. Filosofinya sangat dalam: di meja makan itu, tidak ada orang miskin, tidak ada orang kaya. Semua sama derajatnya, semua adalah saudara kandung yang duduk dan makan bersama,” ungkap Edward.
Ia menjelaskan, ketika warga melangkah mendekati meja makan, segala sekat sosial, jabatan, dan perbedaan harus ditinggalkan di luar. Di sana semua menjadi satu persaudaraan, menjadi Gandong.
“Di tempat makan itu, semua persoalan selesai. Bapak, Ibu, semuanya masalah selesai saat kita makan bersama. Jangan ada yang menyisakan makanan untuk dibawa pulang, karena disini makanannya tidak dibatasi, meja makan terbuka luas. Seperti kebiasaan kami di kampung halaman, makanan disajikan terbuka dan semua menikmati hal yang sama. Tidak ada pembedaan, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah,” paparnya.
Edward menegaskan, tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus dijaga. Di tengah keberagaman dan kehidupan di tanah rantau, nilai persaudaraan inilah yang menjadi perekat utama.
“Siapa lagi yang akan menjaga ini kalau bukan kita yang ada di sini? Makna inilah yang harus kita pertahankan dan jaga. Bahwa kami orang Maluku, di mana pun berada, selalu hidup dalam persaudaraan, damai, dan rukun,” ucapnya penuh haru.
Ia juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemprov Papua Tengah, Pemkab Nabire, TNI Polri, seluruh panitia, koordinator, dan pengurus yang bekerja tanpa lelah. Menurutnya, dalam lima tahun terakhir sejarah kepengurusan IKEMAL, baru kali ini acara digelar dengan skala yang sangat besar dan luar biasa berkat kerja keras tim.
“Kalian luar biasa sekali, saya sangat berterima kasih,” pungkasnya.
Dihadiri Pimpinan Daerah dan Tokoh Masyarakat
Kehadiran ratusan warga dan kemeriahan acara ini semakin lengkap dengan kehadiran para pejabat tinggi dan pimpinan daerah baik Pemprov maupun Pemkab Nabire. Tampak hadir dalam kesempatan itu unsur Forkopimda antara lain Komandan Korem (Danrem) Nabire, Komandan Kodim (Dandim) Nabire, Kapolres Nabire, serta Wakil Bupati Nabire.
Selain itu, turut hadir Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Anggota DPR Provinsi Papua Tengah, para kepala instansi vertikal, serta berbagai tokoh masyarakat dan agama.
Edward Berhitu, mengajak seluruh tamu undangan dan warga untuk berkeliling melihat deretan meja makan yang telah disiapkan, sebelum akhirnya bersama-sama menikmati hidangan. Di bawah terik matahari yang mulai meredup, semangat Alerasa Betarasa, semangat Pattimura, dan semangat persaudaraan terus berkobar, menegaskan bahwa di Nabire, ikatan keluarga Maluku tetap kuat, kokoh, dan bersatu. [*]

















