Nabire, Kalawaibumiofi.com | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire mencatat sebanyak 376 titik panas (hotspot) terpantau di Provinsi Papua Tengah dalam periode pemantauan 13 September 2026 pukul 02.00 WIT hingga 14 September 2026 pukul 02.00 WIT.
Data tersebut tercantum dalam Informasi El-Nino dan Sebaran Hotspot yang diterbitkan BMKG Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire pada 14 September 2026.
Kabupaten Nabire menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 268 titik. Selanjutnya Paniai tercatat 42 titik, Puncak dan Puncak Jaya masing-masing 23 titik, Intan Jaya 11 titik, serta Dogiyai sembilan titik.
Sementara itu, BMKG tidak mendeteksi hotspot di Kabupaten Mimika dan Deiyai selama periode pemantauan tersebut.

El Nino sangat kuat
BMKG menyebut kondisi El Nino di wilayah tersebut berada pada kategori sangat kuat. Hal itu berdasarkan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -17,7 dan indeks Nino 3.4 sebesar +2,54.
BMKG memperkirakan El Nino yang aktif pada periode Mei-Juni berpotensi masih menguat dalam beberapa bulan ke depan hingga akhir 2026.
Kondisi tersebut berdampak terhadap berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah Papua Tengah. Pada saat yang sama, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Kombinasi El Nino dan musim kemarau dapat memicu sejumlah dampak, antara lain menurunnya intensitas hujan dan meningkatnya hari tanpa hujan, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya suhu udara pada siang hari, serta kondisi lahan yang semakin kering.
Situasi tersebut juga meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hotspot perlu ditindaklanjuti
BMKG menjelaskan hotspot dipantau berdasarkan tiga tingkat kepercayaan. Tingkat kepercayaan rendah menunjukkan kemungkinan kecil adanya titik api dan masih membutuhkan verifikasi lebih lanjut.
Tingkat kepercayaan sedang menunjukkan kemungkinan yang cukup besar adanya titik api di lapangan. Sementara tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan kemungkinan besar adanya api aktif sehingga perlu segera ditindaklanjuti.
Dengan ditemukannya 376 hotspot, BMKG mengimbau masyarakat dan instansi pemerintah yang berwenang untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan guna mengantisipasi kemungkinan kerugian akibat sebaran titik panas tersebut.
Masyarakat juga diminta terus memperhatikan pembaruan informasi hotspot yang disampaikan BMKG setempat.

Update 14 September 2026 Pukul 09.00 WIT
Warga diminta tidak membakar sembarangan
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, baik untuk membuka atau membersihkan lahan maupun membakar sampah.
Larangan tersebut terutama berlaku di kawasan yang mudah terbakar, seperti lahan gambut, semak belukar, hutan, dan lahan kering.
Jika menemukan titik api atau indikasi kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani sedini mungkin sehingga tidak meluas.
Di sisi lain, instansi terkait diminta meningkatkan patroli terpadu, melakukan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, serta memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di wilayah rawan karhutla.
BMKG juga meminta pemerintah dan pihak terkait memastikan ketersediaan sumber air, peralatan pemadaman dini, serta cadangan air untuk mendukung upaya pemadaman dan menghadapi kondisi musim kemarau.
BMKG mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk terus memantau perkembangan cuaca, iklim, fenomena El Nino, serta informasi hotspot sebagai dasar dalam menentukan langkah antisipasi dan mitigasi.
Laporan tersebut diketahui Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Douw Aturure Nabire, Husain, dan dibuat oleh Vic Casey D. Wiai pada 14 September 2026. [*]












