Scroll untuk baca artikel
Example 728x250
Polhukam

Pemuda Katolik Komda Papua Tengah Desak Presiden: Intimidasi di Gereja Wuloni Langgar Kebebasan Beribadah

0
×

Pemuda Katolik Komda Papua Tengah Desak Presiden: Intimidasi di Gereja Wuloni Langgar Kebebasan Beribadah

Sebarkan artikel ini
Prabowo Subianto.

Nabire, Kalawaibumiofi.com |  Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah menyatakan protes keras atas tindakan aparat keamanan terhadap umat Katolik Stasi Santa Sisilia Wuloni, Paroki Santo Petrus Ilaga, Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika. Pernyataan disampaikan pada Senin (10/8/2026).

Ketua Komda Pemuda Katolik Papua Tengah, Tino Mote, mendesak Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto memberi atensi serius atas peristiwa yang dialami umat di Gereja Santa Sisilia Wuloni, Kampung Wuloni, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Minggu (9/8/2026).

“Kami mendesak Presiden Subianto agar segera memberi atensi serius atas peristiwa aparat memaksa umat memberikan ucapan ‘terima kasih’ karena mereka telah mengecat gedung gereja dan membantu umat stasi ini. Kami minta agar Presiden melalui Pangdam Cenderawasih segera memberikan klarifikasi demi menjaga keamanan, ketertiban, dan ketentraman masyarakat (kamtibmas) di lingkungan gereja Katolik di Dekenat Moni-Puncak Jaya,” ujar Tino Mote di Nabire, Senin (10/8).

Menurut Tino, pihaknya memperoleh informasi disertai video singkat yang menunjukkan pada Minggu (9/8), aparat keamanan bersenjata memasuki halaman Gereja Santa Sisilia Wuloni. Aparat memaksa umat menyampaikan ucapan terima kasih kepada aparat Pos Wuloni atas bantuan pengecatan gedung gereja.

“Cara-cara intimidatif seperti ini malah menambah ketakutan umat Katolik di wilayah Dekanat Moni-Puncak Jaya, Keuskupan Timika. Selama ini warga Kabupaten Puncak, termasuk umat Katolik, sudah menderita dan trauma dengan situasi kamtibmas yang tidak kondusif. Kalau pola pendekatan keamanan seperti dialami umat Stasi Wuloni, maka jalan kedamaian sebagaimana dicita-citakan Presiden bersama jajaran pemerintah pusat dan daerah semakin jauh dari harapan,” kata Tino.

“Cara aparat keamanan yang dengan kasar masuk halaman gereja lalu mengambil video disertai permintaan kepada umat menyampaikan ‘terima kasih’ atas jasa baik aparat menjaga wilayah-wilayah di pelosok tanah Papua, malah kurang patut dan membuat umat semakin trauma,” tegasnya.

Rangkaian Peristiwa di Intan Jaya, Puncak, dan Puncak Jaya

Peristiwa di Wuloni bukanlah kejadian tunggal. Sejak bertahun-tahun, umat dan masyarakat di wilayah Kabupaten Intan Jaya, Kabupaten Puncak, hingga Kabupaten Puncak Jaya terus mengalami dampak ketegangan dan konflik bersenjata yang berulang. Operasi militer yang berlangsung di wilayah-wilayah tersebut kerap berdampak langsung pada warga sipil, termasuk gangguan terhadap tempat ibadah, pengungsian warga, serta trauma mendalam yang dialami masyarakat.

Pengurus Gereja Stasi Wuloni melalui video menjelaskan bahwa pada Minggu (9/8), aparat keamanan dari Satgas Pos Wuloni mendatangi gereja untuk mengambil video singkat perwakilan umat yang diminta mengucapkan terima kasih kepada Satgas maupun Presiden. Perwakilan umat dalam video itu kemudian menyampaikan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di stasi tersebut.

“Beberapa peristiwa yang pernah terjadi di stasi ini,” kata perwakilan umat dalam video tersebut.

Menurut perwakilan umat yang didampingi beberapa anggota jemaat lainnya, pada tahun 2021 hingga 2022 terjadi operasi militer tepat di kompleks gereja stasi itu. Operasi yang melibatkan anggota TPNPB–OPM dan TNI–Polri itu berujung pada atap seng gereja berlubang terkena tembakan — dan hingga kini kondisi tersebut masih dibiarkan.

“Bahkan lebih memprihatinkan lagi, jubah satu-satunya yang selalu dikenakan pewarta untuk memimpin ibadah juga menjadi bolong akibat tertembus peluru. Sampai sekarang para pewarta belum dapat menggunakan jubah ini,” kata perwakilan umat sambil memperlihatkan jubah yang berlubang bekas tembakan.

“Kami Pemuda Katolik Komda Papua Tengah sungguh menolak cara-cara dan tindakan aparat keamanan seperti ini. Apalagi memasuki halaman gereja lalu mengganggu aktivitas ibadah umat. Ini melanggar hak asasi manusia tentang kebebasan beragama dan beribadah menurut iman dan kepercayaan umat,” tegas Tino.

Pemuda Katolik Komda Papua Tengah juga mendesak Presiden dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, S.E., M.Si. segera memberikan keterangan resmi sekaligus meminta maaf atas tindakan tidak terpuji aparat keamanan di pelosok tanah Papua seperti dialami umat Stasi Wuloni.

“Umat Katolik di Keuskupan Timika, terutama umat yang tinggal di stasi-stasi di Dekanat Moni–Puncak Jaya, selalu merindukan damai hadir di atas tanah mereka sehingga mereka bisa mencari nafkah dengan leluasa, memenuhi ekonomi rumah tangga, bahkan menyekolahkan anak-anak mereka. Semoga suara kami ini mendapat respon baik dari Presiden dan Panglima TNI,” pungkas Tino Mote. [*]

error: Content is protected !!