| Rahmatika ketika beajar daring di rumahnya – Bumiofinavandu. |
Nabire, Bumiofinavandu – Semenjak pandemi virus Corona-19 (covid-19) menyebar di dunia pada pertengahan bulan Maret 2020 silam. kebanyakan proses pembelajaranv diwajibkan dari rumah atau belajar daring. proses ini hampir terasa hampir di seluruh dunia, termasuk di Nabire, Provinsi Papua.
Pada Maret hingga Desember 2020, kebanyakan pembelajaran melalui daring. siswa dituntut mengerjakan tugas melalui grup-grup WhatsApp yang dibuat oleh wali kelas ataupun guru mata pelajaran (mapel).
Memasuki awal Tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Nabire melalui Dinas pendidikan telah mengizinkan sekolah kembali melakukan belajar tatap muka pada 7 Januari 2021. Namun, di bulan kedua Februari, sekolah kembali diliburkan lantaran diguda beberapa guru dari berbagai sekolah yang tersebar di wilayah kota (Distrik Nabire) dikabarkan terpapar covid 19.
Meskipun ditutup hingga 16 Februari mendatang, semua jenjang sekolah di Distrik Nabire diharuskan melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring. Artinya, walaupun sekolah diliburkan, tetapi belajar online harus tetap berjalan.
Beberapa hari lalu di suatu siang, seorang siswa merasa kaget akan sering telpnya, sebab nomor yang menghubungi belum tersimpan di handphone miliknya.
Ia kemudian menjawab dengan bersapa hallo. ‘maaf, dengan siapa ya,” jawabnya di balik seluler miliknya.
Sang penelpon lalu memperkenalkan diri bahwa ia seorang jurnalis yang ingin bercapak tentan proses pendidikan. kabarnya, wartawan yang berdomosili di Nabire ini yang mendapatkan nomor dari salah satu grup WhatsApp.
Setelah berbasa-basi sebentar, percakapan berlanjut tentang proses pembelajaran di masa pandemi.
Siswi itu adalah Rahmatika Chaerani Marsaoli. Pelajar SMA Negeri 1 Nabire, Kelas XII IPA 3 (kelas 3) SMA.
Gadis campuran Ternate Jawa ini berkisah bahwa sedang menunggu pesan-pesan dari grup WhatsApp tentang tugas dari sekolah.
“Saya lagi liat-liat pesan di grup WhatsApp karena ada tugas yang mau dikerjakan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sekolahnya diliburkan sejak 3 Februari pekan lalu dan akan kembali ke sekolah mengikuti pelajaran tatap muka pada 17 Februari mendatang. Mereka para siswa diperintahkan untuk belajar di rumah lantaran pandemi.
Sehingga, kesehariannya saat ini adalah lebih banyak memantau grup WhatsApp dari sekolah untuk tugas-tugas yang diberikan.
“Saya tidak tau kenapa tiba-tiba sekolah libur, kamu disuruh belajar dari rumah. informasi yang beredar hanya sekolah di dalam kota,” jelasnya.
Padahal kata siswa yang beralamatkan di kelurahan Bumiwonorejo ini, sekolah baru berjalan dengan tatap muka sebulan semenjak Pandemi melanda. sedangkan saat pandemi pertama kali muncul pada Maret 2020 silam, hampir setahun itu waktu pembelajaran melalui daring.
Tugas-tugasnya lalu dikerjakan dengan handphone android miliknya. Disinilah letak persoalan yang dihadapi.
|
Rahmatika ketika beajar daring di rumahnya – Bumiofinavandu.
|
Pasalnya, jaringan internet kadang kala tidak stabil. Apalagi tidak semua tempat signalnya bagus, seperti di kelurahan Bumiwonorejo distrik Nabire.
“Mungkin di tempat lain jaringan bagus, tapi kami di Bumiwonorejo tidak. Jaringan selalu tidak stabil,” kata dia.
Selama itu, siswa di tuntut untuk belajar dan menyelesaikan tugas melalui aplikasi. Seperti melalui Google Meet untuk peremuan, untuk tugas lewat Google Form, berkomunikasi di WhatsApp,dan Quipper.
Untuk menunjang bepajar, Rahmatika memiliki 13 group WhatsApp yang ada untuk tiap mata pelajaran dan 1 grup kelas.
Ia mengaku, belajar daring tidak membuatnya paham pelajaran ketimbang belajar tatap muka langsung.
Hal itu yang cukup mengkhawatirnya mengingat maple kelas 3 sangat padat.
“Ini yang saya khawatir. Apakah ujian nanti saya bisa kerjakan dengan baik,” kata Rahmatika.
Keraguan lain datang dari rekannya Marlina. Siswa asal Buton yang duduk di kelas 12 (3) SMA N I Nabiee ini juga merasa khawatir. Sebab menurutnya lebih paham pelajaran ketimbang daring.
Sebab, jaringan internet di Nabire selalu tidak stabil. Apalagi pelajaran untuk ujian, bukan susah tetapi butuh waktu dan tatap muka untuk dijelaskan guru.
“Semua pelajaran mungkin rumit kalau tidak belajar dengan baik. Apalagi via daring,” ujar siswi 18 Tahun asal Buton ini.
Mereka berharap, ada formula yang baik dari pemerintah dalam mengatasi proses pembelajaran di masa pandemi.
Pemerintah Kabupaten Nabire, Papua melalui Dinas Pendidikan telah mengizinkan sekolah kembali melakukan belajar tatap muka sejak 7 Januari 2021. Namun memasuki awal Februari 2021, Dinas Pendidikan kembali memutuskan menghentikan belajar tatap muka dan memerintahkan untuk belajar kembali secara daring.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nabire, Papua, Yulianus Pasang menginstruksikan semua jenjang sekolah yang tersebar di Distrik Nabire, ibu kota Kabupaten Nabire tidak lagi melakukan kegiatan belajar-mengajar tatap muka mulai 2 Februari hingga 16 Februari 2021 setelah sejumlah tenaga pendidik SD, SMP, dan SMA terpapar virus korona.
Instruksi itu tertuang dalam Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Nabire Nomor 800/169/2001 tertanggal 2 Februari 2021.
“Kegiatan belajar-mengajar bertatap muka untuk sekolah di dalam kota diliburkan, karena ada tenaga pendidik yang terpapar virus korona, libur berlangsung hingga 16 Februari mendatang,” ujar Pasang saat ditelepon pada Sabtu, 6 Februari 2021.
Meskipun ditutup hingga 16 Februari 2021, semua sekolah di Distrik Nabire tetap mengadakan kegiatan belajar-mengajar secara daring. Artinya, meski sekolah diliburkan, belajar tetap dilakukan secara online.(Red)
